Alam & Petualangan

Trekking, Mountaineering, dan Survival

Jalan setapak menuju curug itu licin dan menanjak. Anak-anak berjalan berbaris, yang di depan mengingatkan yang di belakang. Sampai di air terjun, mereka mengisi botol dengan sampel air dan memungut batu untuk diamati di sekolah.

Sobat SABar trekking di jalur setapak Baturraden

Gunung sebagai guru

Kampus SABar berada di kaki Gunung Slamet. Jalur setapak, curug, hutan damar, dan bukit di sekitarnya adalah tempat yang mudah dijangkau untuk berjalan jauh, berkeringat, dan menemukan bahwa tubuh ini bisa lebih kuat dari yang dikira. Bagi sekolah alam, itu bukan kegiatan tambahan. Itu bagian dari pendidikan kepemimpinan.

Mountaineering tercantum dalam daftar kegiatan belajar utama di Sekolah Menengah, bersama Green Therapy, live-in, dan magang. Di jenjang ini, kompetensi lulusan disusun bertingkat: basic di tahun pertama, survival di tahun kedua, dan advance yang dipadukan dengan proyek sosial atau riset di tahun ketiga. Jalur ini sengaja panjang, karena kesiapan fisik dan keberanian mengambil keputusan tidak bisa dibangun dalam satu kali pendakian.

Namun jalan ke sana dimulai jauh lebih awal, dari langkah-langkah kecil anak TK di jalur menuju curug.

Tantangan yang naik bersama usia

TK: trekking yang bercerita

Sobat Kecil trekking ke kebun raya dan ke curug dalam rangkaian outbound mingguan. Di curug, mereka mengambil sampel air, batu, dan pasir. Nilai yang dilatih adalah pantang menyerah dan peduli, dan setiap perjalanan dibungkus cerita agar jarak terasa pendek.

SD: lebih jauh, lebih mandiri

Murid SD Alam Baturraden mengenal trekking, jungle cooking, dan kunjungan belajar ke tempat seperti Bukit Pandang Munggang. Mereka belajar menyiapkan bekal, membawa perlengkapannya sendiri, dan menyalakan api dengan aman untuk memasak umbi di alam terbuka.

SM tahun pertama: basic

Sobat SM mengenal dasar pendakian: membaca medan, mengatur napas dan langkah, mengenal perlengkapan, dan bekerja dalam tim. Green Therapy seperti trekking Bukit Pandang Munggang dan rappelling di dekat Curug Belot Rempoah menjadi latihannya.

SM tahun kedua: survival

Remaja belajar bertahan dengan perbekalan terbatas: mendirikan tempat berlindung, mengelola air dan makanan, membaca cuaca, dan mengambil keputusan ketika rencana berubah. Agenda sekolah mencakup live-in dan mountaineering di Gunung Pakuwaja, Dieng.

SM tahun ketiga: advance dan proyek

Pendakian dipadukan dengan proyek sosial atau riset sederhana, misalnya mengamati bentang alam atau membantu masyarakat di jalur pendakian. Remaja menjadi pemimpin bagi adik-adik kelasnya.

Survival bukan tentang nekat

Kata survival sering dibayangkan sebagai bertahan hidup seorang diri di hutan. Di SABar maknanya lebih membumi: mampu mengurus diri dan kelompok dalam keadaan tidak nyaman. Hujan datang lebih cepat dari perkiraan. Kompor tidak menyala. Teman kelelahan. Dalam situasi seperti itulah kepemimpinan diuji, bukan di ruang kelas yang hangat.

Fasilitator mengajarkan survival dengan cara yang terukur: mulai dari halaman sekolah, lalu bukit yang dekat, baru gunung yang lebih jauh. Remaja belajar menilai risiko, bukan mengabaikannya. Memutuskan untuk berhenti dan berbalik ketika cuaca memburuk adalah keputusan yang justru dihargai, karena itulah tanda seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas timnya.

Di dalam gua, di bawah bukit

Trekking dan mountaineering di SABar selalu diikat dengan ilmu. Dalam ekspedisi caving yang diceritakan di buletin sekolah, Sobat SM mempelajari stalaktit, stalagmit, dan bentang karst, memperkirakan kedalaman dan jarak di dalam gua, menyusun laporan observasi, dan membahas manajemen risiko. Perjalanan itu ditutup dengan tadabbur, merenungkan kebesaran Allah dalam gelapnya gua.

Begitu pula pendakian. Ketinggian dibaca dalam angka, tumbuhan dikenali namanya, dan kelelahan dibicarakan dalam refleksi. Semua ini kemudian masuk ke dalam portofolio pengembangan diri yang menjadi salah satu standar lulusan Sekolah Menengah SABar.

Kesiapan fisik dan keputusan

Tubuh yang disiapkan

Senam pekanan, outbound, berenang, dan farming sejak TK membangun daya tahan yang diperlukan untuk berjalan jauh.

Keputusan yang dilatih

Kapan beristirahat, kapan berbalik, bagaimana membagi beban. Remaja diajak memutuskan, lalu mengevaluasi keputusannya.

Kepemimpinan bergilir

Dalam kelompok kecil, setiap anak mendapat giliran memimpin jalan, mengatur waktu, atau menjaga yang paling belakang.

Persiapan dan pendampingan

Setiap trekking dan pendakian disiapkan fasilitator sesuai usia dan kondisi peserta, dengan perlengkapan keselamatan dan P3K yang memadai. Rappelling dan kegiatan berdampak tinggi lain memakai alat pengaman khusus. Kegiatan di luar sekolah memerlukan persetujuan orang tua, dan kondisi kesehatan anak dibicarakan lebih dulu dengan fasilitator. Anak dibiasakan menyiapkan sepatu, jas hujan, air minum, dan bekalnya sendiri.

Pertanyaan yang sering diajukan

Sejak usia berapa anak ikut trekking?
Sejak TK, dalam bentuk trekking pendek ke curug atau kebun raya yang dibungkus permainan dan cerita. Jaraknya bertambah seiring usia.
Apakah mountaineering wajib bagi semua Sobat SM?
Mountaineering adalah bagian dari kurikulum Sekolah Menengah dengan tingkatan basic, survival, dan advance. Bentuk keikutsertaan tiap anak dibicarakan bersama orang tua sesuai kondisinya.
Bagaimana dengan anak yang fisiknya belum kuat?
Kesiapan fisik dibangun bertahap lewat kegiatan rutin. Fasilitator menyesuaikan jarak dan tantangan, dan tidak ada anak yang dipaksa melampaui batasnya.
Siapa yang mendampingi saat pendakian?
Fasilitator SABar yang mengikuti pelatihan outbound berkala. Untuk pendakian tertentu, sekolah dapat menggandeng pendamping yang berpengalaman di jalur tersebut.

Jalan menuju gunung dimulai dari jalur setapak di belakang sekolah. Ayah Bunda bisa melihatnya sendiri saat berkunjung, dan menanyakan bagaimana jalur ini disusun untuk anak seusia putra-putri Ayah Bunda.