Kurikulum & Pilar
Anak yang hafal jawaban akan kesulitan saat soalnya berubah. Anak yang tahu bagaimana berpikir akan mencari jawabannya sendiri. Pilar logika di SABar memilih yang kedua.
Seorang anak TK memasukkan biji kacang hijau ke dalam kapas basah. Beberapa hari kemudian ia melihat tunas kecil dan bertanya, "Kenapa yang punya temanku lebih tinggi?" Pertanyaan itu adalah inti pilar logika. Fasilitator SABar dilatih untuk tidak buru-buru menjawab, melainkan bertanya balik: apa bedanya tempat kapasmu dan kapas temanmu? Yang satu di dekat jendela, yang satu di rak. Lalu anak menebak, mencoba memindahkan, dan mengamati lagi.
Pilar logika di SABar mencakup bertanya, mengamati, bernalar, literasi, numerasi, riset, sains, dan pemecahan masalah. Dokumen kurikulum menyebut orientasinya pada tiga kemampuan yang juga diukur secara internasional: matematika, sains, dan membaca. Namun jalannya bukan latihan soal berulang, melainkan action learning, Belajar Bersama Alam, dan pembelajaran mendalam. Hasil yang diharapkan: anak tidak hanya menghafal jawaban, tetapi tahu dari mana jawaban itu datang.
Membaca, menulis, dan berhitung tetap dilatih setiap hari. Di TK, ada waktu kognitif rutin yang dicatat dalam kartu evaluasi anak dan masuk ke rapor portofolio. Di SD, worksheet harian dan worksheet terintegrasi mingguan memuat perkalian dan pembagian, kosakata Inggris, bahasa Jawa krama, dan aksara Jawa. Bedanya, angka dan kata itu hampir selalu punya alasan untuk ada.
Ketika anak SD menanam kangkung di raised bed, ia mengukur kedalaman lubang dan jarak tanam, lalu menghitung berapa hari lagi panen. Ketika ia merakit irigasi tetes dari botol bekas, ia memperkirakan berapa lama air habis. Ketika ia menyetek tanaman, ia menulis laporan pengamatan. Matematika dan bahasa Indonesia tidak "diselipkan" ke kebun; kebun itulah yang memerlukan matematika dan bahasa. Di jenjang Sekolah Menengah, kepala sekolah PKBM menggambarkannya dengan contoh: matematika dari luas daun, jarak, kedalaman gua, dan arus sungai.
Beberapa kegiatan memperlihatkan bagaimana alam menjadi tempat melatih nalar di tiap jenjang.
Anak menanam benih di kapas, mengubur sisa daun untuk kompos mini, membuat rumah cacing dari botol plastik, lalu mengamati apa yang berubah. Yang dinilai bukan hasilnya, melainkan keterlibatan, rasa ingin tahu, dan empati.
Dalam tema seperti "Water is Useful", "Life Cycle", atau "My Green Life", anak menyetek tanaman, merakit irigasi tetes, dan menulis refleksi, sehingga IPAS, matematika, dan bahasa bekerja dalam satu pengalaman.
Sobat SM menjelajahi gua dan belajar stalaktit, stalagmit, dan karst sambil memperkirakan kedalaman dan jarak, menulis laporan observasi, serta mengelola risiko. Di kelas, mereka mempraktikkan perpindahan kalor dengan alat sederhana dan mencatat hasilnya.
Semakin besar anak, semakin panjang rantai berpikir yang ia latih. Alur rencana belajar SD, dari experiential, inquiry, research-based, hingga inovasi dan solusi, sengaja dirancang agar anak terbiasa bergerak dari pengalaman ke pertanyaan, dari pertanyaan ke pencarian data, dan dari data ke gagasan perbaikan. Di Sekolah Menengah, standar empat pilar menetapkan riset sederhana dan kemampuan presentasi sebagai bagian dari kompetensi lulusan.
Setiap tahun ada Festival Sains sebagai panggung untuk menunjukkan proses itu, bersama Pitching Literasi dan pitching project yang melatih anak menyampaikan gagasannya secara runtut di hadapan orang lain. Di sini pilar logika bertemu dengan komunikasi: berpikir jernih baru lengkap bila bisa disampaikan dengan jernih pula.
Logika juga berarti jujur membaca data tentang diri sendiri. Sekolah pun melakukannya: hasil asesmen dan rapor pendidikan dibaca bersama fasilitator untuk melihat apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu diperkuat, lalu diterjemahkan menjadi perbaikan kecil di kelas.
Cara paling jujur untuk menilai pilar logika adalah mendengar pertanyaan anak-anak kami sendiri. Ayah Bunda boleh datang, duduk di saung, dan menyimak. Setelah itu, admin SPMB SABar siap berbincang tentang anak Ayah Bunda.