Cara Belajar › Filosofi

Merawat Fitrah, Menyalakan Potensi

Anak tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong. Ia membawa rasa ingin tahu, kebaikan, dan kecenderungan yang sudah ada sejak lahir. Tugas sekolah bukan menuliskan sesuatu di atasnya, melainkan merawatnya.

Benih bertunas di atas kapas basah di tangan seorang anak TK Alam Baturraden

Apa yang dimaksud fitrah

Kata fitrah sering terdengar di SABar, dan artinya tidak rumit. Fitrah adalah keadaan asal anak: kecenderungan pada kebaikan, rasa ingin tahu yang besar, kesenangan bermain, keinginan untuk diterima, dan kemampuan untuk takjub pada hal-hal kecil. Seorang anak usia empat tahun yang berjongkok lama memperhatikan cacing tidak sedang membuang waktu; ia sedang menjalankan fitrahnya sebagai peneliti kecil.

Masalahnya, fitrah itu rapuh. Ia bisa padam oleh rasa takut salah, oleh perbandingan terus-menerus, oleh hari-hari yang terlalu penuh instruksi. Karena itu, kalimat pertama dalam tagline SABar adalah merawat, bukan membentuk. "Merawat Fitrah, Menyalakan Potensi" adalah tagline yang dipakai dalam buku panduan orang tua TK Alam Baturraden, dan pendekatan belajar SABar memang disusun di atas prinsip pendidikan berbasis fitrah.

Fitrah dirawat lewat ruang yang aman

Merawat fitrah dimulai dari rasa aman. Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), anak disambut satu per satu di pagi hari, dipanggil namanya, dan diajak duduk melingkar untuk circle time sebelum belajar apa pun. Di lingkaran itu anak boleh bercerita tentang kabarnya, mengajukan pertanyaan yang terdengar aneh, atau diam sampai siap. Tidak ada yang ditertawakan karena jawabannya keliru.

Kurikulum khas sekolah alam yang dipakai SABar, Belajar Bersama Alam, menyebut empat prinsipnya: Fun Learning, Free Learning, Experimental Learning, dan Experiential Learning. Dua prinsip pertama adalah soal merawat fitrah. Belajar harus menyenangkan, dan anak perlu kebebasan yang cukup untuk memilih, mencoba, dan keliru. Fasilitator tidak berdiri di depan sebagai satu-satunya sumber jawaban; ia duduk di antara anak-anak sebagai teman perjalanan dan pengamat.

Yang dimaksud "bebas" di sini bukan tanpa aturan. Di SABar ada kesepakatan kelas yang dibuat bersama anak, ada adab yang dibiasakan setiap pagi, dan ada fasilitator yang menjaga batas. Kebebasan yang dirawat adalah kebebasan untuk bertanya, mencoba, dan menjadi diri sendiri.

Potensi dinyalakan lewat pengalaman yang beragam

Potensi tidak bisa ditemukan dengan menebak. Ia hanya terlihat ketika anak diberi banyak kesempatan berbeda, lalu seseorang memperhatikan di mana ia paling hidup. Dua prinsip berikutnya dari Belajar Bersama Alam, belajar lewat eksperimen dan belajar lewat pengalaman, adalah soal menyalakan potensi.

Dalam satu pekan di TK, Sobat Kecil bisa menanam benih di kapas, membuat telepon dari kaleng, memasak telur dadar dengan daun bawang yang dipetik dari raised bed, mendengar kisah Dewi Sri saat Book Day, berjualan di Market Day, dan memanjat di hari outbound. Di SD, pengalaman itu menjadi lebih panjang: merawat kangkung di raised bed sendiri selama berminggu-minggu, membuat irigasi tetes dari botol bekas, berlatih public speaking, memanah, dan mengikuti Festival Sains. Di Sekolah Menengah, Sobat SM magang, meneliti, mendaki, dan belajar langsung dari para ahli lewat Learn to Maestro.

Yang menyala lewat tangan

Anak yang rapi menata hasil panen, cekatan di dapur, atau tekun pada crafting sedang menunjukkan sesuatu.

Yang menyala lewat kata

Anak yang senang mendongeng, memimpin doa, atau menawarkan dagangannya di Market Day punya kekuatan yang berbeda.

Yang menyala lewat hati

Anak yang pertama menolong temannya yang jatuh, atau yang sabar menunggu teman yang belum selesai, sedang menyalakan potensi kepemimpinannya.

Bukan slogan: yang diamati dan dicatat

Agar "menyalakan potensi" tidak berhenti sebagai kalimat indah, pengamatan harus dicatat. Di SABar, fasilitator mengamati anak dalam kegiatan nyata, membuat catatan anekdot, berbincang dengan anak, dan mengumpulkan hasil karyanya dalam portofolio. Semua itu dianalisis setiap triwulan dan dituangkan dalam Progress Report yang berbentuk narasi. Di jenjang SD ada pula rapor bakat yang memotret arah minat anak.

Orang tua pun diajak ikut mengamati. Dalam Sekolah Orang Tua, ada sesi yang khusus membahas tumbuh kembang anak usia dini dan cara menangkap bakat anak. Sebab yang paling sering melihat anak bersinar bukan fasilitator, melainkan Ayah Bunda di rumah.

Yang tidak dijanjikan

Merawat fitrah bukan berarti setiap anak akan menjadi juara di suatu bidang pada usia tertentu. SABar tidak menjanjikan itu. Yang dijanjikan adalah proses: anak diberi ruang aman, pengalaman beragam, dan orang dewasa yang memperhatikan. Ada potensi yang terlihat di TK, ada yang baru muncul di SD akhir, ada yang baru ditemukan ketika remaja mencoba magang di bidang yang tidak pernah terpikir. Seperti yang sering dikatakan di SABar, di alam tidak ada yang tumbuh terburu-buru, tetapi semuanya mekar pada waktunya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah "pendidikan berbasis fitrah" berarti anak dibiarkan bebas tanpa target?
Tidak. Ada kurikulum nasional, target perkembangan per usia, dan kesepakatan kelas. Yang dijaga adalah cara mencapainya: lewat bermain, pengalaman, dan rasa aman, bukan tekanan.
Bagaimana kalau anak saya belum terlihat menonjol di bidang apa pun?
Itu wajar, dan justru alasan pengalaman di SABar dibuat beragam. Fasilitator dan orang tua mengamati bersama lewat Progress Report tiap triwulan; potensi sering muncul pada waktu yang tidak diduga.
Apa kaitan fitrah dengan Al-Qur'an di SABar?
Fitrah dipahami sebagai bawaan baik dari Allah yang perlu dirawat. Karena itu pembiasaan Qur'ani di SABar menekankan pengamalan dalam keseharian, bukan sekadar hafalan.
Apakah pendekatan ini juga berlaku untuk anak berkebutuhan khusus?
Ya. Pendekatan SaNGaT SABar justru berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak punya potensi yang bisa dinyalakan di alam, dengan dukungan yang dibicarakan bersama orang tua setelah observasi.

Kalau Ayah Bunda ingin melihat seperti apa "ruang aman" dan "pengalaman beragam" itu dalam kenyataan, cara termudah adalah datang di hari biasa, melihat circle time, lalu berbincang dengan fasilitator dan admin SPMB SABar.