Sehari di SABar
Anak kecil memahami dunia lewat jari yang meraba, lidah yang mencicipi, dan kaki yang melompat. Di SABar, cara belajar seperti itu tidak dihentikan ketika anak masuk sekolah; justru dirancang dengan sungguh-sungguh.
Ada kotak tertutup di tengah lingkaran. Satu per satu anak memasukkan tangan, meraba, lalu menebak: "Ini sikat!" "Ini batu!" Di sebelahnya ada teropong untuk mendengar bisikan, mangkuk-mangkuk bumbu dapur untuk dicium, dan gelas-gelas minuman aneka rasa untuk dicicip. Begitulah pekan tentang panca indra berlangsung bagi Sobat Kecil di Mercury Class dan Venus Class. Tidak ada yang menuliskan "lima indra manusia" di papan tulis; semua indra itu dipakai.
Sekolah Alam Baturraden (SABar) percaya bahwa pengetahuan paling awet adalah yang pernah lewat di tangan dan tubuh anak. Karena itu hampir setiap tema diwujudkan dalam kegiatan yang bisa dipegang, dirasakan, dan dilakukan: eksperimen sederhana, memasak, membuat sesuatu, bergerak, bercerita, dan bermain peran. Anak tidak hanya belajar tentang air; ia menguji benda mana yang terapung, melayang, dan tenggelam, mencampur warna, dan membuat lintasan air dari gelas ke gelas.
"Sawi warna" yang menyerap pewarna, gunung meletus di pekan tentang daratan, salju buatan di pekan tentang Jepang, balon udara dan meniup plastik sambil berhitung di pekan tentang udara, membakar daun kering dengan lup di pekan tentang matahari.
Salad dari sayur yang dipanen sendiri, susu jahe cokelat, onigiri sambil menghitung bahan, mie Aceh di pekan tentang Sumatera, sampai jungle cooking umbi: mengupas, mencuci, lalu menyalakan api.
Boneka dari kertas lipat dan kardus, kolase hewan dari cangkang telur, telepon kaleng dan bedug dari paralon bekas, burung Garuda, origami, gelang manik, kolase huruf hijaiyah dari daun.
"Kepala, pundak, lutut, kaki" di pekan bagian tubuh, belajar urutan wudhu lewat lagu, musik dan tarian daerah saat mengenal pulau-pulau Indonesia.
Book Day dengan kisah Nabi Sulaiman, menjadi dalang wayang, mendongeng legenda Jaka Tarub, cerita "Aku bisa membereskan mainan sendiri".
Pasar-pasaran, arak-arakan budaya desa, astronot di sekolah malam, petugas penanggulangan bencana di pekan tentang api.
Anak yang hanya duduk dan mendengar sering tampak paham, lalu lupa. Anak yang mengupas umbi, menghitung potongannya, dan merasakan panasnya api ketika memasaknya akan mengingat pelajaran itu lama, karena ingatannya tersimpan di banyak tempat: di tangan, di hidung, di lidah, di perasaan bangga saat makanan itu matang.
Belajar dengan tubuh juga melatih hal-hal yang tidak muncul di lembar kerja: motorik halus saat meronce sedotan menjadi ular, keseimbangan saat menjadi "Kesatria Keseimbangan" di hari outbound, kesabaran saat menunggu kompos mini berubah, keberanian saat menyeberangi jembatan bambu. Hari Jumat di TK, misalnya, dibuka dengan senam gembira lalu outbound dengan karakter pekan itu, dari percaya diri sampai problem solving, dan permainan ringan seperti "Lompat Katak" atau "Peri Bisik" yang melatih pendengaran.
Bagi anak yang tidak mudah belajar lewat kata-kata, cara ini membuka pintu lain. Ini sejalan dengan cara SABar memandang anak: setiap anak berbeda, dan setiap anak berharga.
Pengalaman di SABar tidak berhenti di kegiatan sesaat. Di TK, hari Kamis dan Jumat dirancang khusus untuk farming, crafting, perkusi, gerak dan lagu, serta bisnis kurikulum. Dari situ lahir karya yang nyata: cerita orisinal yang disusun anak bersama fasilitator dan dibukukan, kreasi perkusi, gerak lagu ciptaan sendiri, sampai karya dari barang bekas yang dilelang saat Parent Day. Pernah pula anak-anak menulis "surat cinta untuk orang tua" lalu benar-benar mengirimnya lewat kantor pos ke rumah masing-masing.
Di SD Alam Baturraden, pola ini berlanjut dalam life skill seperti fun cooking, handicraft, dan tali-temali, dalam Festival Sains, serta dalam proyek pekanan seperti membuat irigasi tetes dari botol bekas. Di Sekolah Menengah, Sobat SM mempraktikkan perpindahan kalor dengan lilin dan sendok, memanen kacang tanah di raised bed lalu merebus dan memakannya bersama, dan menyusun proyek yang berujung pada pertunjukan, pameran, atau kegiatan sosial.
Semua kegiatan di atas lahir dari perencanaan tema pekan, bukan dari sekadar mengisi waktu. Tiap kegiatan punya target yang jelas, misalnya "mengenal bagian tanaman" atau "mampu fokus dan mengikuti arahan", dan fasilitator mengamati serta mencatat perkembangan tiap anak lewat observasi, percakapan, unjuk kerja, dan hasil karya. Catatan itu terkumpul dalam portofolio yang dibicarakan bersama orang tua setiap Progress Report. Jadi, di balik tangan-tangan kecil yang sibuk, ada fasilitator yang sedang mengamati dengan cermat.
Bila Ayah Bunda ingin melihat bagaimana sebuah kotak misteri, kompor kecil, atau sedotan bekas bisa menjadi pelajaran, datanglah dan saksikan sendiri. Admin SPMB SABar siap membantu menjadwalkan kunjungan ke unit yang diminati.