Mengenal SABar

Mengapa Sekolah Alam?

Ada perbedaan antara belajar tentang sesuatu dan belajar melalui sesuatu. Perbedaan kecil dalam kata itu mengubah apa yang tersisa di diri anak bertahun-tahun kemudian.

Anak mengamati tanamannya yang layu didampingi fasilitator

Belajar tentang, atau belajar melalui?

Seorang anak bisa menghafal bahwa tanaman membutuhkan air dan cahaya. Ia menulisnya di buku, menjawabnya dengan benar di ulangan, lalu melupakannya saat liburan tiba. Anak lain merawat tanamannya sendiri di bedengan selama delapan pekan. Suatu pagi ia lupa menyiram, dan sore harinya daun-daun itu terkulai. Ia tidak akan lupa bahwa tanaman butuh air, dan ia juga belajar sesuatu yang tidak ada di buku: akibat dari kelalaiannya sendiri.

Anak pertama belajar tentang tanaman. Anak kedua belajar melalui tanaman. Keduanya mendapat ilmu yang sama, tetapi hanya anak kedua yang mendapat pengalaman, dan pengalaman itulah yang mengubah ilmu menjadi pemahaman.

Kami tidak sedang mengatakan bahwa buku tidak penting. Di SABar, anak tetap membaca, menulis, dan berhitung setiap hari. Yang ingin kami katakan adalah: ketika ilmu bisa dialami, ia sebaiknya dialami. Itulah alasan paling mendasar mengapa sekolah alam ada.

Delapan kata kerja yang dialami anak

Jika harus merangkum apa yang terjadi pada anak di sekolah alam, kami akan memakai delapan kata kerja: mengalami, mencoba, bertanya, menghubungkan, bekerja sama, gagal, memperbaiki, dan bertanggung jawab. Semuanya terjadi dalam satu hari biasa, bukan dalam program khusus.

  1. Mengalami. Sobat Kecil di TK berjalan tanpa alas kaki di rumput basah, pasir, dan kerikil, lalu bercerita tentang rasanya. Sobat SM memasuki gua dan merasakan gelap yang sebenarnya.
  2. Mencoba. Anak SD menyetek tanaman dan membuat irigasi tetes dari botol bekas. Tidak semuanya berhasil pada percobaan pertama.
  3. Bertanya. Kenapa serangga datang ke tanamanku? Kenapa air di curug lebih dingin daripada di kolam? Pertanyaan anak menjadi bahan rencana pekan berikutnya.
  4. Menghubungkan. Mengukur jarak tanam adalah matematika; mencatat pertumbuhan adalah bahasa; merenungkan siapa yang menumbuhkan adalah pendidikan agama. Satu kegiatan, banyak ilmu.
  5. Bekerja sama. Outbound setiap pekan melatih satu karakter: komunikasi, fokus, sabar, kerja sama, sportif, pantang menyerah. Jembatan bambu tidak bisa diseberangi sendirian.
  6. Gagal. Dagangan di Market Day tidak laku. Kompos berbau karena perbandingannya salah. Di SABar, gagal boleh, dan tidak dicatat sebagai angka merah.
  7. Memperbaiki. Dua pekan kemudian ada Market Day lagi. Anak mengubah resep, kemasan, atau cara menawarkan.
  8. Bertanggung jawab. Piring dicuci sendiri, tanaman disiram sendiri, barang bawaan dicek sendiri sebelum pulang.

Yang tumbuh selain nilai akademik

Orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah alam biasanya tidak hanya bertanya "apakah anak saya pintar?", tetapi juga "apakah anak saya mampu?" Mampu mengurus diri. Mampu berbicara dengan orang yang baru dikenal. Mampu bangkit ketika rencananya gagal. Mampu memperlakukan makhluk lain dengan hormat.

Empat pilar SABar menjawab pertanyaan itu secara utuh. Akhlak dilatih lewat teladan dan kebiasaan, bukan ceramah. Logika dibangun lewat pengamatan dan percobaan. Kepemimpinan dimulai dari memimpin diri sendiri: datang tepat waktu, menjaga barang, menyelesaikan tugas. Bisnis diasah sejak TK lewat Market Day dua pekan sekali, ketika anak membuat sesuatu, menawarkannya, dan menghitung hasilnya.

Semuanya itu memang dinilai, tetapi tidak diperingkat. Perkembangan anak dibandingkan dengan dirinya sendiri, lalu diceritakan kepada Ayah Bunda dalam Progress Report naratif tiap triwulan. Anak yang hari ini masih dibantu memakai sepatu bot dan tiga bulan lagi bisa sendiri telah mencapai sesuatu, dan pencapaian itu layak diceritakan.

Alam juga mengajarkan hal yang tidak bisa dipercepat

"Di alam, tidak ada yang tumbuh terburu-buru, namun semuanya mekar pada waktunya." Kalimat yang dipegang para fasilitator Sekolah Kemandirian SABar.

— Nama sumber

Ada pelajaran yang hanya bisa diberikan oleh sesuatu yang tidak bisa dipercepat. Benih tidak tumbuh lebih cepat karena anak tidak sabar. Panen datang pada waktunya, bukan pada waktu ujian. Hujan turun tanpa meminta izin pada jadwal.

Anak yang belajar di tengah ritme seperti ini perlahan belajar menunggu, menyesuaikan diri, dan menghargai proses. Bagi anak yang perkembangannya berbeda dari teman-temannya, pelajaran ini menjadi lebih penting lagi, dan itulah sebabnya pendekatan terapi SABar, SaNGaT SABar, dibangun di atas alam, bukan di ruang klinis. Alam menerima setiap anak tanpa syarat, dan kami ingin sekolah pun demikian.

Bukan tren, melainkan tradisi yang kembali relevan

Belakangan ini dunia pendidikan banyak berbicara tentang pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran mendalam, kemandirian, kolaborasi, dan konteks nyata. Semua itu baik, dan kami menyambutnya. Yang menarik, sebagian besar gagasan itu sudah lama menjadi tradisi sekolah alam. Anak belajar dari proyek nyata di kebun jauh sebelum istilahnya populer. Anak berkolaborasi karena jembatan bambu memang tidak bisa diseberangi sendirian.

Karena itu, ketika Ayah Bunda menimbang sekolah untuk anak, pertanyaan yang ingin kami ajak pikirkan bukan hanya "pakai kurikulum apa?", melainkan juga "apa yang benar-benar dialami, dirasakan, dan dipelajari anak selama ia di sekolah?" Nama kurikulum bisa dipelajari dalam lima menit. Pengalaman anak selama bertahun-tahun adalah hal yang jauh lebih layak ditimbang.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak sekolah alam tertinggal secara akademik?
Anak SABar mengikuti kurikulum nasional dan capaian pembelajaran yang sama dengan sekolah lain. Literasi, numerasi, dan sains tetap menjadi fokus pilar logika; bedanya, banyak yang dipelajari lewat pengalaman nyata sehingga lebih melekat.
Bagaimana dengan anak yang lebih suka duduk tenang membaca?
Sekolah alam bukan sekolah yang memaksa semua anak lincah di luar. Ada waktu membaca dan menulis setiap hari, ada Book Day dan kegiatan literasi, dan fasilitator mengamati minat tiap anak untuk memberinya ruang.
Apakah "boleh gagal" berarti tidak ada standar?
Tidak. Ada target perkembangan per usia yang diamati fasilitator dan dibicarakan dengan orang tua. Yang tidak ada adalah hukuman atas kegagalan dan perbandingan antaranak.
Apakah sekolah alam cocok untuk remaja?
Justru di usia remaja pengalaman nyata semakin penting. Sobat SM di SABar magang, hidup bersama masyarakat lewat live-in, mendaki, dan mengelola proyek sendiri sebagai bagian dari pendidikan kesetaraan.

Kalau Ayah Bunda ingin melihat bagaimana "belajar melalui" terjadi, bukan hanya membacanya, kami mengundang Ayah Bunda datang berkunjung. Duduklah sebentar di saung, lihat anak-anak di bedengan dan di dapur, lalu berbincang dengan fasilitator dan admin SPMB SABar.