Mengenal SABar
Ada perbedaan antara belajar tentang sesuatu dan belajar melalui sesuatu. Perbedaan kecil dalam kata itu mengubah apa yang tersisa di diri anak bertahun-tahun kemudian.
Seorang anak bisa menghafal bahwa tanaman membutuhkan air dan cahaya. Ia menulisnya di buku, menjawabnya dengan benar di ulangan, lalu melupakannya saat liburan tiba. Anak lain merawat tanamannya sendiri di bedengan selama delapan pekan. Suatu pagi ia lupa menyiram, dan sore harinya daun-daun itu terkulai. Ia tidak akan lupa bahwa tanaman butuh air, dan ia juga belajar sesuatu yang tidak ada di buku: akibat dari kelalaiannya sendiri.
Anak pertama belajar tentang tanaman. Anak kedua belajar melalui tanaman. Keduanya mendapat ilmu yang sama, tetapi hanya anak kedua yang mendapat pengalaman, dan pengalaman itulah yang mengubah ilmu menjadi pemahaman.
Kami tidak sedang mengatakan bahwa buku tidak penting. Di SABar, anak tetap membaca, menulis, dan berhitung setiap hari. Yang ingin kami katakan adalah: ketika ilmu bisa dialami, ia sebaiknya dialami. Itulah alasan paling mendasar mengapa sekolah alam ada.
Jika harus merangkum apa yang terjadi pada anak di sekolah alam, kami akan memakai delapan kata kerja: mengalami, mencoba, bertanya, menghubungkan, bekerja sama, gagal, memperbaiki, dan bertanggung jawab. Semuanya terjadi dalam satu hari biasa, bukan dalam program khusus.
Orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah alam biasanya tidak hanya bertanya "apakah anak saya pintar?", tetapi juga "apakah anak saya mampu?" Mampu mengurus diri. Mampu berbicara dengan orang yang baru dikenal. Mampu bangkit ketika rencananya gagal. Mampu memperlakukan makhluk lain dengan hormat.
Empat pilar SABar menjawab pertanyaan itu secara utuh. Akhlak dilatih lewat teladan dan kebiasaan, bukan ceramah. Logika dibangun lewat pengamatan dan percobaan. Kepemimpinan dimulai dari memimpin diri sendiri: datang tepat waktu, menjaga barang, menyelesaikan tugas. Bisnis diasah sejak TK lewat Market Day dua pekan sekali, ketika anak membuat sesuatu, menawarkannya, dan menghitung hasilnya.
Semuanya itu memang dinilai, tetapi tidak diperingkat. Perkembangan anak dibandingkan dengan dirinya sendiri, lalu diceritakan kepada Ayah Bunda dalam Progress Report naratif tiap triwulan. Anak yang hari ini masih dibantu memakai sepatu bot dan tiga bulan lagi bisa sendiri telah mencapai sesuatu, dan pencapaian itu layak diceritakan.
"Di alam, tidak ada yang tumbuh terburu-buru, namun semuanya mekar pada waktunya." Kalimat yang dipegang para fasilitator Sekolah Kemandirian SABar.
Ada pelajaran yang hanya bisa diberikan oleh sesuatu yang tidak bisa dipercepat. Benih tidak tumbuh lebih cepat karena anak tidak sabar. Panen datang pada waktunya, bukan pada waktu ujian. Hujan turun tanpa meminta izin pada jadwal.
Anak yang belajar di tengah ritme seperti ini perlahan belajar menunggu, menyesuaikan diri, dan menghargai proses. Bagi anak yang perkembangannya berbeda dari teman-temannya, pelajaran ini menjadi lebih penting lagi, dan itulah sebabnya pendekatan terapi SABar, SaNGaT SABar, dibangun di atas alam, bukan di ruang klinis. Alam menerima setiap anak tanpa syarat, dan kami ingin sekolah pun demikian.
Belakangan ini dunia pendidikan banyak berbicara tentang pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran mendalam, kemandirian, kolaborasi, dan konteks nyata. Semua itu baik, dan kami menyambutnya. Yang menarik, sebagian besar gagasan itu sudah lama menjadi tradisi sekolah alam. Anak belajar dari proyek nyata di kebun jauh sebelum istilahnya populer. Anak berkolaborasi karena jembatan bambu memang tidak bisa diseberangi sendirian.
Karena itu, ketika Ayah Bunda menimbang sekolah untuk anak, pertanyaan yang ingin kami ajak pikirkan bukan hanya "pakai kurikulum apa?", melainkan juga "apa yang benar-benar dialami, dirasakan, dan dipelajari anak selama ia di sekolah?" Nama kurikulum bisa dipelajari dalam lima menit. Pengalaman anak selama bertahun-tahun adalah hal yang jauh lebih layak ditimbang.
Kalau Ayah Bunda ingin melihat bagaimana "belajar melalui" terjadi, bukan hanya membacanya, kami mengundang Ayah Bunda datang berkunjung. Duduklah sebentar di saung, lihat anak-anak di bedengan dan di dapur, lalu berbincang dengan fasilitator dan admin SPMB SABar.