Entrepreneurship
Sepotong kue yang dijual anak di Market Day menyimpan tujuh pelajaran sekaligus, dan tidak satu pun di antaranya tentang menjadi kaya.
Yang membedakan berjualan sebagai pelajaran dan berjualan sebagai hiburan adalah keutuhannya. Di SABar, anak tidak hanya berdiri di meja menunggu pembeli. Ia terlibat sejak memilih apa yang akan dibuat, sampai duduk kembali sesudahnya untuk menghitung: apakah modalnya kembali, apa yang laku, apa yang tidak, dan apa yang akan ia ubah.
Putaran ini diulang dua pekan sekali lewat Market Day di semua unit, dan menjadi makin sungguh-sungguh di jenjang yang lebih tinggi. Karena diulang, anak sempat gagal dan sempat memperbaiki. Dan karena yang membeli adalah teman dan fasilitatornya sendiri, kegagalan terasa aman untuk dialami.
Memilih apa yang dibuat sesuai tema, memikirkan bahan, dan membuatnya dengan tangan sendiri sejauh usianya memungkinkan.
Mengenal bahwa membuat sesuatu butuh biaya, dari bahan sampai bungkus, dan biaya itu harus kembali.
Menentukan harga yang pantas: tidak terlalu mahal agar laku, tidak terlalu murah agar modal kembali.
Menyapa, melayani dengan sopan, menjaga kebersihan, dan tetap ramah meski pembeli hanya melihat-lihat.
Menjelaskan produknya, menjawab pertanyaan, dan berani menawarkan kepada orang yang belum dikenal.
Menulis apa yang dibawa, apa yang terjual, dan berapa uang yang terkumpul.
Merenungkan apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diubah di giliran berikutnya.
Ketujuhnya tidak diajarkan sebagai teori. Anak mengalaminya, lalu fasilitator membantunya memberi nama pada apa yang ia alami.
Di SABar, "membuat" sering dimulai jauh lebih awal dari dapur. Sobat SABar menanam di raised bed, memanen, mencuci, mengolah, lalu menjual. Sobat Kecil di TK memanen bayam dan membuat salad, atau mengupas umbi sendiri dalam jungle cooking. Di Sekolah Kemandirian, cooking class dijalankan "dari hulu ke hilir": memetik sayur, mencuci, sampai menyajikannya, dan ada kegiatan vokasional mengemas hasil panen serta membuat kompos untuk dijual dalam skala sekolah.
Pengalaman dari hulu membuat anak menghargai produk secara berbeda. Harga sebuah bungkus sayur tidak lagi sekadar angka; di dalamnya ada pekan-pekan menyiram, menunggu, dan memanen. Dari situ pula tumbuh kejujuran: anak yang tahu persis bagaimana produknya dibuat tidak perlu melebih-lebihkan saat menawarkannya.
Bagi banyak anak, bagian tersulit bukan membuat, melainkan menawarkan. Berkata "silakan dicoba" kepada orang yang belum dikenal membutuhkan keberanian yang tidak semua anak punya pada awalnya. Di Market Day pertamanya, ada Sobat Kecil yang hanya berdiri di belakang meja dan membiarkan temannya yang berbicara. Itu tidak apa-apa.
Yang dijaga fasilitator adalah agar setiap anak mendapat giliran mencoba, sekecil apa pun. Hari ini cukup menyebutkan nama produknya. Giliran berikutnya mencoba menyebut harganya. Lama-kelamaan, anak yang sama bisa menjelaskan bahan dan cara membuatnya dengan lancar. Public speaking di SABar tumbuh dari meja jualan seperti ini, bukan hanya dari latihan pidato.
Tanggung jawab adalah bagian yang paling sering terlewat ketika orang dewasa terlalu membantu. Ketika dagangan tidak habis, siapa yang menanggung? Ketika uang kembalian kurang, siapa yang menjelaskan? Ketika pembeli kecewa, siapa yang meminta maaf? Di SABar, jawabannya adalah anak, dengan pendampingan sesuai usianya.
Evaluasi dilakukan sederhana. Setelah Market Day, anak diajak melihat catatannya: apakah modal kembali, mengapa produk tertentu lebih laku, apa yang bisa diubah. Di jenjang Sekolah Menengah, evaluasi ini berkembang menjadi business plan yang direvisi, pelajaran marketing dan branding, sampai studi kelayakan usaha. Tetapi intinya sama sejak TK: hasil adalah tanggung jawabku, dan aku bisa memperbaikinya.
Orang tua bisa membantu paling baik dengan menahan diri: menemani saat anak menyiapkan dagangan, tetapi membiarkan anak yang menentukan, membuat, dan menanggung hasilnya.
Pada pekan bertema olahan ubi, misalnya, satu kelas bisa menghasilkan dagangan yang sangat beragam, dari ubi rebus polos sampai bola-bola ubi isi cokelat. Anak yang dagangannya sederhana belajar bahwa kesederhanaan pun laku kalau rasanya enak dan harganya pas. Anak yang dagangannya rumit belajar bahwa usaha lebih tidak selalu berarti laku lebih. Keduanya pulang dengan pelajaran yang berbeda, dan keduanya berharga.
Di jenjang SM, contoh yang sama berkembang menjadi produk yang dirancang untuk pasar yang lebih luas, dikemas dengan merek buatan sendiri, dan dipresentasikan di Pitching Business Exhibition. Tetapi kalau Ayah Bunda bertanya kepada Sobat SM apa yang paling ia ingat, jawabannya sering kali tetap tentang Market Day pertamanya: saat ia berani menyebut harga untuk pertama kali.
Kalau Ayah Bunda ingin melihat bagaimana anak-anak mencatat, menawarkan, dan mengevaluasi dagangannya, datanglah saat Market Day berlangsung. Admin SPMB SABar bisa membantu mengatur waktu kunjungan yang tepat.