Datang dan berbincang
Ayah Bunda menceritakan anak apa adanya; sekolah menceritakan apa yang bisa dan belum bisa diberikan. Hasil asesmen tenaga ahli yang sudah ada sangat membantu.
Unit & Jenjang
Sekolah Kemandirian adalah unit SABar untuk anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan kelas khusus dan pendampingan lebih intensif. Tujuannya bukan menyeragamkan anak, melainkan menumbuhkan kemampuan hidup sesuai kapasitas masing-masing.
Di SABar, anak berkebutuhan khusus bisa belajar melalui dua jalur. Jalur pertama adalah inklusi: anak belajar di kelas reguler TK, SD, atau SM bersama teman sebaya, dengan dukungan guru pendamping dan rencana belajar individual. Jalur kedua adalah Sekolah Kemandirian: kelas khusus bagi anak yang, untuk sementara atau seterusnya, membutuhkan lingkungan yang lebih kecil, lebih tenang, dan lebih terstruktur. Keduanya bukan tingkatan, melainkan dua pintu yang dipilih berdasarkan kebutuhan anak setelah masa observasi.
Sekolah Kemandirian bernaung di bawah PKBM Alam Purwokerto. Muridnya disapa "Sobat Kemandirian", dan kelasnya bernama Sun Class. Namanya satu, tetapi isinya dikelompokkan per kluster: anak dari usia TK sampai usia remaja belajar dalam kelompok kecil yang disusun menurut kebutuhan dan tahap perkembangannya, bukan menurut umur semata. Ada pula kelas persiapan bagi anak yang baru bergabung dan masih beradaptasi.
Ragam kebutuhan yang pernah dilayani luas, dari anak dengan autisme, ADHD, Down syndrome, cerebral palsy, sampai anak dengan hambatan belajar. Tetapi SABar tidak memulai dari label. Penempatan anak di jalur inklusi atau Sekolah Kemandirian adalah hasil observasi dan percakapan dengan orang tua, dan bisa berubah seiring perkembangan anak.
Yang membedakan Sekolah Kemandirian dari ruang terapi biasa adalah pendekatan SaNGaT SABar, Special Needs Green Therapy. Pendekatan ini lahir dari keprihatinan para pendiri terhadap terapi yang membatasi dan memisahkan anak dari lingkungannya, dan dikembangkan selama belasan tahun di kampus SABar. Keyakinannya: alam adalah media yang paling tepat, terapi lebih membutuhkan hati daripada sekadar teknik, dan setiap anak butuh diterima.
SaNGaT memadukan enam ranah sekaligus, digambarkan seperti pohon. Akarnya talent dan life skill; batangnya sensori motor; cabangnya komunikasi; daunnya kemampuan sosial; buahnya bantu diri; bunganya pra-akademik dan akademik. Terapi profesional seperti okupasi, sensori integrasi, wicara, fisioterapi, dan terapi perilaku tetap ada, tetapi dibawa keluar dari ruang bertembok putih ke kebun, ke rumput basah, ke bawah pohon.
Prinsip lainnya disebut "terapi dua puluh empat jam dikurangi tidur": apa yang dilatih di sekolah berlanjut di rumah. Karena itu, kerja sama sekolah dan keluarga yang konsisten bukan pelengkap, melainkan inti programnya. Di SABar, semua orang adalah terapis, termasuk Ayah Bunda.
Kegiatan berlangsung dari pagi hingga siang. Hari khusus dalam sepekan diisi farming, life skill seperti laundry dan fun cooking, serta kegiatan sosial bersama kelas reguler. Market Day datang dua pekan sekali dengan pendampingan, dan ada kegiatan vokasional seperti mengemas hasil panen dan membuat kompos untuk dijual dalam skala sekolah. Sobat Kemandirian tidak membawa buku.
Setiap Sobat Kemandirian didampingi guru pendamping khusus, yang di banyak tempat disebut shadow teacher. Di SABar, peran ini sedang ditata ulang lewat program "From Shadow to Hero": pendamping bukan bayangan yang mengikuti di belakang, melainkan orang yang membuka potensi dan kemandirian anak, bukan menciptakan ketergantungan.
Pendamping bekerja dengan rencana belajar individual yang disusun bersama terapis dan wali kelas dengan tujuan yang jelas dan terukur. Ia berbicara lembut, jelas, dan tegas; menjauhkan anak dari bahaya; dan tidak membagikan foto atau dokumen anak ke pihak luar tanpa izin. Komunikasi dengan orang tua dimulai dari kabar baik, lalu tantangan, lalu saran untuk di rumah, dengan kata "kita", bukan "kalian".
Ayah Bunda menceritakan anak apa adanya; sekolah menceritakan apa yang bisa dan belum bisa diberikan. Hasil asesmen tenaga ahli yang sudah ada sangat membantu.
Anak mengikuti kegiatan selama masa observasi, agar sekolah melihat kebutuhannya di lingkungan nyata.
Dibicarakan bersama: jalur inklusi atau Sekolah Kemandirian, kluster yang sesuai, dan rencana belajar individualnya.
Catatan harian, Progress Report tiap triwulan, musyawarah bila ada kejadian khusus, dan Sekolah Orang Tua dengan tema program terapi.
Pentas Kemandirian, Market Day, Live In Kemandirian, kunjungan ke pasar modern dan perjalanan kereta, sampai, bila memungkinkan, berpindah ke kelas reguler.
| Keterangan | Isi |
|---|---|
| Naungan legal | PKBM Alam Purwokerto, NPSN P9984932 |
| Kelas | Sun Class, dikelompokkan per kluster |
| Usia | TK sampai usia Sekolah Menengah |
| Kepala PKBM | Syarif Hidayat, S.H. |
| Situs unit | https://pkbm-alam-purwokerto.asis.id |
| Naungan yayasan | Yayasan Sekolah Rumah Indonesia |
Biaya di Sekolah Kemandirian menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak, yang memang berbeda dengan anak reguler, sehingga tidak bisa dituliskan baku. Hubungi admin SPMB SABar di 0812-2005-0121 dan jadwalkan kunjungan untuk membicarakannya.
Ayah Bunda tidak perlu datang dengan jawaban, cukup dengan cerita tentang anak. Dari percakapan dan observasi, kita menimbang bersama jalur yang paling sesuai. Admin SPMB SABar siap membantu menjadwalkan kunjungan.