Mengenal SABar
Banyak orang mengira sekolah alam adalah sekolah yang sering berkegiatan di luar ruangan. Itu benar, tetapi baru sebagian kecil dari ceritanya.
Ketika orang tua pertama kali berkunjung ke SABar, kalimat yang sering terdengar adalah, "Jadi anak-anak di sini belajarnya di luar terus, ya?" Pertanyaan itu wajar. Dari luar, yang terlihat memang anak-anak di kebun, di saung tanpa dinding, di sungai, atau di jalan setapak menuju curug.
Tetapi kalau sekolah alam hanya berarti sering di luar ruangan, sekolah mana pun bisa menjadi sekolah alam dengan menambah jadwal piknik. Yang membedakan bukan seberapa sering anak keluar kelas, melainkan peran yang diberikan kepada alam dalam proses belajar itu sendiri. Di sekolah alam, alam memegang empat peran sekaligus: sebagai ruang, sebagai media, sebagai konteks, dan sebagai sumber ilmu.
Halaman ini mencoba menjelaskan keempat peran itu dengan contoh yang benar-benar terjadi di SABar, supaya Ayah Bunda bisa membayangkannya, bukan sekadar mengangguk.
Peran yang paling mudah dilihat adalah ruang. Kampus TK dan SD Alam Baturraden berada di lingkungan hutan damar di kaki Gunung Slamet. Kelasnya berupa saung-saung belajar yang terbuka; di sekitarnya ada kebun, taman sensori, masjid, dan dapur. Anak tidak perlu "keluar kelas" untuk bertemu alam, karena kelasnya memang sudah di dalam alam.
Ruang seperti ini mengubah banyak hal kecil. Anak terbiasa dengan hujan, lumpur, dan serangga; karena itu sepatu bot dan jas hujan adalah perlengkapan harian, bukan perlengkapan darmawisata. Anak juga belajar membaca cuaca, menjaga barang bawaan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak selalu rapi. Ini bagian dari pelajaran, bukan gangguan terhadap pelajaran.
Media adalah alat bantu untuk memahami sesuatu. Di sekolah pada umumnya, media belajar adalah buku, papan tulis, atau layar. Di SABar, media itu bisa berupa bedengan sayur, batu di sungai, atau pohon damar di halaman.
Contohnya, ketika murid SD belajar tentang pertumbuhan tanaman, mereka tidak hanya membaca diagramnya. Mereka menanam kangkung di raised bed masing-masing, mengukur lubang tanam dan jarak antarlubang, mencatat kapan daun pertama muncul, dan memanennya beberapa pekan kemudian. Pelajaran lain ikut masuk lewat media yang sama: menghitung dan mengukur untuk matematika, menulis laporan pengamatan untuk bahasa Indonesia, kosakata tanaman untuk bahasa Inggris, dan ayat tentang penciptaan untuk pendidikan agama.
Di TK, benih di atas kapas basah menjadi media untuk belajar sabar menunggu. Di Sekolah Menengah, gua karst menjadi media untuk belajar geologi, estimasi jarak, dan manajemen risiko sekaligus.
Konteks menjawab pertanyaan anak yang paling jujur: "Untuk apa aku belajar ini?" Di sekolah alam, jawabannya tidak perlu menunggu sampai dewasa. Anak belajar pecahan karena harus membagi hasil panen dengan adil. Anak belajar menulis karena ingin membuat buku mini "Cerita Tanamanku". Anak belajar berbicara di depan orang karena harus menawarkan dagangannya di Market Day.
Konteks ini juga mencakup masyarakat di sekitar sekolah. Tema seperti desa dan gotong royong, pasar, mata pencaharian, atau kunjungan ke petani dan perajin membuat ilmu berakar pada kearifan lokal Banyumas. Kurikulum sekolah alam yang dipakai SABar, Belajar Bersama Alam, memang mengedepankan kearifan lokal sebagai konteksnya.
Peran keempat adalah yang paling dalam. Bagi sekolah alam, alam bukan hanya alat untuk mempelajari ilmu yang sudah ada di buku; alam adalah sumber ilmu itu sendiri. Para fasilitator SABar menyebutnya belajar dari "ayat kauniyah", tanda-tanda penciptaan yang terbentang di sekitar kita.
Perencanaan tematik di SABar memakai pola spider web: satu tema di tengah, lalu benang-benang ke berbagai bidang ilmu yang saling terhubung. Dasarnya adalah keyakinan bahwa ilmu itu sangat luas dan satu subjek pasti berhubungan dengan subjek lain, sebagaimana di alam tidak ada yang berdiri sendiri. Air terhubung dengan tanaman, tanaman dengan serangga, serangga dengan panen, panen dengan rezeki keluarga.
Belajar yang menyenangkan, karena anak yang gembira menyerap lebih banyak.
Belajar yang memberi ruang kebebasan untuk memilih, mencoba, dan bertanya.
Belajar lewat percobaan, termasuk percobaan yang gagal.
Belajar dari pengalaman, atau dalam permainan kata para fasilitator, belajar dari "pengALAMan".
Keempat prinsip itu adalah pegangan Belajar Bersama Alam (BBA), kurikulum khas Jaringan Sekolah Alam Nusantara yang di SABar disinergikan dengan kurikulum nasional. Hasilnya, anak tetap menempuh capaian pembelajaran yang diakui pemerintah dan naik jenjang seperti teman-temannya di sekolah lain, tetapi jalan yang ditempuhnya melewati kebun, sungai, pasar, dan dapur.
Ada satu lagi yang perlu disebut: orang dewasa di sekolah alam disebut fasilitator, bukan guru dalam arti sumber segala jawaban. Fasilitator menyiapkan pengalaman, mengamati, bertanya balik, dan mencatat potensi yang muncul. Tanpa peran ini, kebun hanya kebun. Dengan peran ini, kebun menjadi sekolah.
Penjelasan sepanjang apa pun tidak akan sejelas satu pagi di SABar. Ayah Bunda boleh datang, melihat anak-anak menanam dan berhitung di bedengan yang sama, lalu bertanya apa saja kepada fasilitator. Admin SPMB SABar akan membantu mengatur kunjungannya.