Tahun pertama: pertunjukan
Sobat SM merancang dan menampilkan sebuah pertunjukan, dari ide, latihan, sampai pentas.
Minat, Bakat & Masa Remaja
Nilai delapan tidak bisa menceritakan apa pun. Tetapi buku cerita yang ditulis anak di triwulan pertama, disandingkan dengan buku ceritanya di triwulan ketiga, bercerita sangat banyak.
Di banyak sekolah, karya anak berakhir di tempat sampah setelah dinilai. Di SABar, karya adalah jejak. Gambar pertama anak tentang dirinya di pekan pengenalan sekolah, buku mini "Cerita Tanamanku" yang ia tulis setelah delapan pekan merawat tanaman sendiri, foto jembatan bambu yang ia bangun bersama kelompoknya, catatan harga saat ia berjualan di Market Day. Semua itu dikumpulkan, dan ketika disusun berurutan, perkembangan anak terlihat tanpa perlu diterjemahkan menjadi angka.
Prinsipnya: tidak semua yang berharga bisa diukur, dan tidak semua yang terukur itu yang paling berharga. SABar tetap memakai penilaian sesuai kurikulum nasional, tetapi jejak karya diperlakukan sama pentingnya, dan sering kali lebih bercerita.
Di TK, Mercury Class dan Venus Class sudah mengenal portofolio. Fasilitator mengumpulkan hasil observasi, catatan anekdot, percakapan, penugasan, unjuk kerja, dan hasil karya anak, lalu menganalisisnya tiap triwulan dan semester. Capaian membaca, menulis, berhitung, dan hafalan harian dicatat di kartu evaluasi anak yang masuk ke Raport Portofolio. Rapor TK pun bernama Progress Report dan ditulis dalam bentuk narasi.
Karya yang lahir dari pekan-pekan tematik juga punya tempat. Cerita orisinal hasil kolaborasi anak dan fasilitator dibukukan sebagai buku cerita TK. Karya dari barang bekas dipamerkan dan dilelang saat Parent Day. Gerak lagu kreatif dan kreasi perkusi ditampilkan di panggung sekolah. Anak belajar bahwa karyanya dilihat, dan itu mengubah cara ia berkarya.
Di SD, jejak karya berjalan berdampingan dengan rapor. Selain penilaian mata pelajaran, anak Earth Class sampai Neptune Class memiliki rapor naratif yang menceritakan perkembangan mereka dan rapor bakat yang merekam kecenderungan minat yang terlihat sepanjang triwulan. Lembar kerja terintegrasi mingguan, action plan tiap triwulan, dan laporan harian menjadi bahan baku keduanya.
Project di SD hadir dalam tema-tema yang menyatu dengan alam: membuat irigasi tetes dari botol bekas, menyetek tanaman, menanam kangkung di raised bed lalu menghitung hari panennya. Hasilnya dipresentasikan di Festival Sains dan Pitching Literasi, dua panggung tahunan tempat anak menceritakan prosesnya kepada orang tua dan teman.
Di jenjang Sekolah Menengah, project tidak lagi sekadar tugas tematik, melainkan tangga yang makin menantang dari tahun ke tahun.
Sobat SM merancang dan menampilkan sebuah pertunjukan, dari ide, latihan, sampai pentas.
Mereka menyiapkan karya untuk dipamerkan kepada publik, termasuk cara menata, menjelaskan, dan menerima tanggapan.
Sobat SM menjadi penyelenggara, mengurus perencanaan, pembagian peran, anggaran sederhana, dan evaluasi.
Bersama itu, setiap Sobat SM membangun buku portofolio pengembangan diri dan dilatih mempresentasikan dirinya sendiri. Project kolaborasi dan riset sederhana menjadi bagian dari standar empat pilar. Setiap tahun ada Pitching Project, saat Sobat SM mempresentasikan rencana atau hasil projectnya di hadapan orang tua dan fasilitator, berdampingan dengan Progress Report. Pernah ada Sobat SM yang menuntaskan project berupa buku karyanya sendiri.
Yang membuat project dan portfolio hidup adalah penontonnya. Ketika anak tahu karyanya akan dilihat Ayah Bunda di Parent Day, dibaca teman di Festival Literasi, atau dinilai pengunjung di pameran, ia belajar menyelesaikan, bukan hanya memulai. Ia juga belajar menerima tanggapan, memperbaiki, dan bangga dengan proses yang ia lalui.
Bagi orang tua, portofolio menjadi cara melihat anak secara utuh saat Progress Report. Alih-alih bertanya "dapat berapa", percakapan bergeser menjadi "apa yang berubah dari karyanya tiga bulan lalu, dan apa yang ingin ia coba berikutnya".
Contoh portofolio dan project tiap kelas bisa dilihat langsung saat berkunjung ke sekolah atau saat pameran karya. Bentuknya berbeda-beda sesuai jenjang dan tema tahun berjalan.
Cara paling baik memahami portofolio adalah melihatnya sendiri. Saat berkunjung, Ayah Bunda bisa meminta fasilitator menunjukkan contoh karya anak-anak di jenjang yang Ayah Bunda tuju, dan berbincang dengan admin SPMB SABar tentang langkah berikutnya.