Alam & Petualangan

Outing, Live-In, dan Backpacker

Belajar tentang pasar dari buku berbeda dengan berdiri di tengah pasar, menawar, dan menghitung kembalian. SABar memilih yang kedua, dari kunjungan singkat anak TK hingga perjalanan remaja ke luar pulau.

Sobat SABar dalam kegiatan outing dan perjalanan belajar

Belajar dari tempat

Setiap tema di SABar punya tempat yang bisa dikunjungi. Ketika Sobat Kecil mempelajari desa, mereka berjalan ke balai desa dan melihat bagaimana orang bekerja di sana. Ketika temanya transportasi, mereka ke terminal, naik kereta dalam program Edutrain ke Cilacap, atau mengamati becak dan delman. Ketika temanya api, mereka berkunjung ke kantor pemadam kebakaran dan BPBD Banyumas, lalu bermain peran menanggulangi bencana.

Outing bukan rekreasi. Sebelum berangkat, fasilitator menyiapkan pertanyaan yang akan dicari jawabannya. Sesudah pulang, anak menceritakan kembali, menggambar, atau membuat karya dari apa yang dilihatnya. Museum Wayang Banyumas, pasar modern, dan pasar tradisional menjadi "buku" yang dibaca dengan kaki dan mata.

Di SD, outing menjadi kunjungan belajar dengan lembar kerja yang lebih terstruktur, misalnya ke Bukit Pandang Munggang atau Saung Baswet di Sumbang. Di Sekolah Menengah, Sobat SM melakukan eksplorasi ke Bendungan Gerak Serayu dan Bale Babad Banyumas, dipadukan dengan Learn to Maestro bersama orang yang mendalami sejarah dan budaya Banyumas.

Live-in: tinggal, bukan sekadar singgah

Live-in adalah tinggal bersama masyarakat di tempat lain selama beberapa hari. Remaja menginap di rumah warga, ikut rutinitas tuan rumah, membantu pekerjaan mereka, dan makan apa yang dimakan keluarga itu. Tidak ada hotel, tidak ada jadwal wisata. Yang ada adalah kehidupan nyata yang berbeda dari kehidupan di rumah sendiri.

Di Sekolah Menengah SABar, live-in disusun bertingkat sesuai jenjang.

JenjangJangkauan live-inYang dipelajari
SM tahun pertamaLuar kabupaten, masih satu provinsiBeradaptasi dengan keluarga baru, sopan santun bertamu, membantu pekerjaan rumah tangga tuan rumah
SM tahun keduaLuar provinsiMengenal budaya dan bahasa yang berbeda, mengelola kebutuhan sendiri lebih lama
SM tahun ketigaLuar pulau atau luar negeriMerencanakan perjalanan jauh, komunikasi lintas budaya, tanggung jawab penuh atas diri dan kelompok

Jejak live-in Sobat SM antara lain di Purbalingga, serta live-in yang dirangkai dengan mountaineering di kawasan Gunung Pakuwaja, Dieng. Sekolah Kemandirian juga memiliki Live In Kemandirian dengan pendampingan yang disesuaikan, karena tinggal di tempat baru adalah latihan kemandirian yang sangat nyata bagi Sobat Kemandirian.

Backpacker: perjalanan dengan anggaran sendiri

Backpacker adalah bentuk perjalanan yang paling menuntut. Remaja menyusun rencana perjalanan, menghitung anggaran, mencari transportasi dan penginapan yang sesuai, lalu menjalaninya dengan uang yang terbatas. Agenda tahunan Sekolah Menengah memuat perjalanan backpacker ke Singapura dan Malaysia sebagai puncak dari jalur ini.

Dalam perjalanan seperti ini, pelajaran datang tanpa diminta. Salah naik kendaraan mengajarkan membaca peta lebih teliti. Uang yang menipis mengajarkan memilih prioritas. Berbicara dengan orang asing dalam bahasa Inggris, yang di sekolah dilatih setiap Sabtu, tiba-tiba menjadi kebutuhan, bukan pelajaran. Semua ini sejalan dengan pilar bisnis dan kepemimpinan: mengelola sumber daya, memutuskan, dan bertanggung jawab atas keputusan itu.

Apa yang terjadi pada anak dalam perjalanan

Adaptasi

Tidur di tempat asing, makan menu yang tidak biasa, dan bangun mengikuti ritme tuan rumah melatih keluwesan yang tidak bisa diajarkan di kelas.

Komunikasi

Bertanya arah, meminta izin, berterima kasih kepada tuan rumah, dan bernegosiasi dengan teman seperjalanan adalah latihan komunikasi yang sesungguhnya.

Anggaran dan keputusan

Dari ongkos angkot hingga tiket antarnegara, remaja belajar bahwa setiap pilihan punya harga, dan harga itu harus dipertanggungjawabkan.

Judul Kartu

Fasilitator mencatat perubahan-perubahan ini, dan remaja menuliskannya sendiri dalam refleksi dan portofolio pengembangan diri. Dari sanalah cerita tiap peserta terbentuk, berbeda satu sama lain, dan menjadi bahan perbincangan dalam Progress Report bersama orang tua.

Persiapan dan pendampingan

Semua outing, live-in, dan perjalanan backpacker memerlukan persetujuan orang tua dan disiapkan bersama fasilitator jauh hari sebelumnya. Lokasi dan keluarga tuan rumah dipilih sekolah. Selama perjalanan, peserta didampingi fasilitator dan dibekali perlengkapan P3K. Anak dilibatkan dalam persiapan, dari menyusun daftar barang hingga membagi tugas, karena persiapan adalah bagian dari pelajaran. Rincian tiap perjalanan disampaikan sekolah kepada orang tua sebelum keberangkatan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak TK ikut live-in?
Tidak. Anak TK dan SD melakukan outing sesuai tema di sekitar Banyumas. Live-in dan backpacker adalah program Sekolah Menengah, dengan bentuk khusus di Sekolah Kemandirian.
Bagaimana biaya perjalanan ini?
Biaya sekolah di SABar menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak. Untuk rincian kegiatan tertentu, Ayah Bunda bisa berbincang dengan admin SPMB SABar atau fasilitator kelas.
Apakah orang tua bisa menghubungi anak selama live-in?
Pola komunikasi selama kegiatan disepakati bersama sebelum keberangkatan, agar anak tetap aman sekaligus mendapat ruang untuk mandiri.
Siapa yang memilih tempat live-in?
Sekolah memilih lokasi dan keluarga tuan rumah, lalu menyampaikannya kepada orang tua sebelum kegiatan.

Perjalanan belajar ini paling baik diceritakan oleh yang menjalaninya. Saat berkunjung ke Sekolah Menengah, Ayah Bunda bisa bertanya langsung kepada fasilitator dan Sobat SM tentang apa yang mereka bawa pulang dari perjalanan terakhir.