Kurikulum & Pilar
Sekolah alam sering disangka sekolah yang bebas tanpa target belajar. Di SABar, kurikulum nasional tetap dijalankan, lalu diperkaya dengan cara belajar sekolah alam yang sudah teruji bertahun-tahun.
Banyak Ayah Bunda tertarik pada sekolah alam, lalu berhenti sejenak di satu pertanyaan: kalau anak sibuk di kebun dan hutan, kapan ia belajar matematika? Apakah ia akan tertinggal ketika kelak pindah sekolah atau melanjutkan ke jenjang berikutnya? Pertanyaan itu wajar, dan kami lebih suka menjawabnya dengan menunjukkan rencana belajar yang nyata daripada dengan janji.
Jawaban singkatnya: anak di SABar tetap belajar semua yang dipelajari anak di sekolah lain. Yang berbeda adalah pintu masuknya. Di sekolah umum, pelajaran sering dimulai dari buku lalu, jika sempat, dibawa ke kehidupan. Di SABar urutannya kerap dibalik: dimulai dari pengalaman, lalu dibawa ke konsep, dan baru kemudian ke buku.
Semua unit SABar menjalankan kurikulum nasional yang berlaku. SD Alam Baturraden menyusun modul pembelajaran per kelas berbasis Kurikulum Merdeka, dengan mata pelajaran yang sama dengan SD lain: Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Pancasila, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPAS, Seni, dan PJOK. Di PKBM Alam Purwokerto, murid Sekolah Menengah mengikuti pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C dengan rencana pembelajaran, penilaian kognitif, afektif, dan psikomotor, serta ujian sesuai ketentuan pemerintah.
SABar juga mengikuti penyesuaian kebijakan terbaru. Kurikulum nasional kini mengenal kegiatan kokurikuler yang menguatkan pembelajaran lewat kolaborasi lintas disiplin, pendekatan pembelajaran mendalam, serta delapan dimensi profil lulusan. Di SD, misalnya, koding sudah disiapkan sebagai kegiatan kokurikuler dan rencana pembelajaran disusun dalam format Rencana Pembelajaran Mendalam. Itu semua adalah bagian dari komitmen sederhana: anak SABar tidak boleh kehilangan haknya atas pendidikan nasional.
Di atas kurikulum nasional, SABar menyinergikan kurikulum khas sekolah alam dari Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN), yang disebut Belajar Bersama Alam atau BBA. SABar adalah anggota jaringan ini, dan BBA mengedepankan kearifan lokal: alam, budaya, dan masyarakat di sekitar sekolah menjadi sumber belajar utama.
BBA berdiri di atas empat prinsip: fun learning, free learning, experimental learning, dan experiential learning, yang di SABar sering diplesetkan dengan sayang sebagai "belajar dari pengALAMan". Keempatnya bukan semboyan untuk ditempel di dinding, melainkan ukuran saat fasilitator merancang kegiatan. Apakah anak senang? Apakah ia punya ruang untuk memilih dan mencoba? Apakah ia bereksperimen? Apakah ia mengalaminya sendiri?
Dokumen rencana pembelajaran SD fase B, dengan tema "Me and Around Me" selama tiga pekan, memperlihatkan pertemuan itu dengan jelas. Dalam satu tema, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPAS, Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, dan pilar leadership dikerjakan bersama. Alurnya kira-kira begini:
Satu kebun kecil, enam langkah, dan hampir semua mata pelajaran terkunjungi.
Karena pintu masuknya pengalaman, buku di SABar berperan sebagai alat, bukan pusat. Murid SD serta Milky Way Class dan Andromeda Class di Sekolah Menengah tetap membawa buku, tetapi tidak sebanyak sekolah umum. Murid TK dan Sekolah Kemandirian tidak membawa buku; di TK, kegiatan membaca, menulis, berhitung, dan hafalan tetap ada setiap hari dan dicatat dalam kartu evaluasi anak yang masuk ke rapor portofolio.
Target belajar pun tetap ada dan tertulis. Rencana disusun bertingkat dari rencana tahunan, semester, sampai triwulan, dan tiap triwulan orang tua menerima Progress Report yang menggambarkan capaian anak dalam bentuk narasi. Yang tidak ada di SABar adalah ranking, karena membandingkan anak dengan anak lain tidak membantu siapa pun untuk bertumbuh.
Perbedaan paling halus sekaligus paling penting antara dua kurikulum ini mungkin terletak pada satu kata depan. Di banyak tempat, anak belajar tentang tanaman, tentang air, tentang uang. Di SABar, anak belajar melalui tanaman yang ia rawat delapan pekan, melalui air curug yang ia ambil sampelnya, melalui uang hasil Market Day yang ia hitung sendiri. Kurikulum nasional menetapkan apa yang perlu dikuasai. Belajar Bersama Alam memastikan anak mengalaminya.
Rencana belajar seperti ini paling mudah dipahami saat Ayah Bunda melihatnya langsung: anak-anak di raised bed, buku catatan yang penuh coretan, dan fasilitator yang bertanya balik alih-alih memberi jawaban. Mari datang, melihat, dan berbincang.