Seni, Budaya, dan Ekspresi

Anak Perlu Ruang untuk Bersuara

Ada anak yang bersuara lewat cerita, ada yang lewat ketukan perkusi, ada yang lewat gambar dan tangan yang sibuk menggunting. Di SABar, semua cara itu diberi tempat.

Sobat SABar bermain perkusi bersama fasilitator di halaman sekolah

Suara yang tidak selalu berbentuk kata

Seorang anak usia TK belum tentu bisa menjelaskan apa yang ia rasakan pagi itu. Tetapi ketika fasilitator mengajak Circle Time, lalu ia memilih lagu "Hujan Rintik-rintik" dan bergerak mengikuti iramanya, sebagian perasaan itu keluar. Anak lain memilih diam, lalu di sudut saung menyusun kaleng dan botol menjadi alat musik. Keduanya sedang bersuara, hanya dengan bahasa yang berbeda.

Para pendiri SABar meyakini bahwa setiap anak membawa modal akal dan bakat yang berbeda, dan tugas sekolah adalah membantu anak mengenali modal itu. Seni di SABar berangkat dari keyakinan ini. Ia bukan jam pelajaran tambahan di akhir pekan, melainkan cara sehari-hari untuk mengolah imajinasi, mengenali emosi, dan melatih keberanian tampil di depan orang lain.

Karena itu, "bersuara" di halaman ini punya arti luas: bercerita, bernyanyi, menabuh, bergerak, membuat sesuatu dengan tangan, menulis, dan berbicara di depan teman-temannya. Anak belajar bukan sekadar tentang seni, tetapi melalui seni.

Storytelling: dari Book Day sampai buku cerita sendiri

Di TK Alam Baturraden (Mercury Class dan Venus Class), ada hari yang disebut Book Day. Fasilitator membacakan kisah, misalnya kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis saat tema "Me & My Self", atau legenda Dewi Sri ketika anak-anak sedang mengenal tanaman. Setelah itu giliran anak yang bercerita: tentang "aku bisa membereskan mainan sendiri", tentang keluarganya, atau menjadi dalang wayang kecil saat tema hewan.

Yang menarik, cerita anak tidak berhenti di udara. Lewat program Special Friday, fasilitator dan anak-anak bersama-sama menyusun cerita orisinal setiap triwulan. Cerita-cerita itu dikumpulkan dan dibukukan sebagai buku cerita karya TK. Anak melihat idenya menjadi halaman yang bisa dipegang, dibaca ulang, dan dibawa pulang.

Di SD, latihan bersuara ini berlanjut dalam bentuk lain: public speaking sebagai bagian dari life skill, Pentas Khitobah, dan Pitching Literasi, ketika anak mempresentasikan apa yang ia baca dan tulis. Di Sekolah Menengah, Sobat SM menyiapkan presentasi diri dan portofolio, sampai ada murid yang menulis bukunya sendiri.

Musik, perkusi, dan gerak

Perkusi

Alat musik tidak harus mahal. Galon, kaleng, bambu, dan botol menjadi perkusi yang ditabuh bersama. Di TK ditargetkan ada beberapa kreasi perkusi baru tiap tahun; di kampus PKBM tersedia angklung dan gambang untuk Sobat SM dan Sobat Kemandirian.

Gerak dan lagu

Dari "Kepala, pundak, lutut, kaki" sampai Musik Papua dan Musik Aceh, anak-anak bergerak mengikuti irama. Bahkan urutan wudhu pun dipelajari lewat lagu, supaya tubuh ikut mengingat.

Bernyanyi bersama

Di Sekolah Kemandirian, sesi seni bernyanyi memakai lagu bertema alam dan kebersamaan, diiringi angklung, gitar, dan tamborin. Yang dipuji bukan nada yang tepat, tetapi keberanian untuk ikut bersuara.

Crafting: karya yang punya tujuan

Kegiatan membuat sesuatu dengan tangan di SABar hampir selalu punya alamat. Anak-anak TK pernah membuat "surat cinta untuk orang tua", lalu benar-benar mengirimnya lewat kantor pos ke rumah masing-masing. Mereka membuat topeng Ponorogo versi kecil, miniatur bus Trans Banyumas, topeng hewan, dan karya dari barang bekas yang kemudian dilelang pada acara sekolah, hasilnya kembali untuk kegiatan anak.

Di sini seni bertemu dengan kepedulian lingkungan dan jiwa bisnis sekaligus. Barang bekas dari rumah tidak dibuang, tetapi diolah menjadi karya. Karya itu dihargai orang lain. Anak belajar bahwa tangannya bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan itu salah satu bentuk suara yang paling kuat.

Bermain peran dan panggung kecil sehari-hari

Tidak semua panggung berbentuk pentas besar. Di TK, drama boneka dipakai untuk mengenalkan aturan kelas saat masa orientasi. Saat tema api, anak-anak memerankan petugas penanggulangan bencana. Di Sekolah Malam, mereka berperan sebagai astronot yang menjelajahi langit. Bermain peran memberi anak kesempatan mencoba menjadi orang lain, lalu kembali dengan pemahaman baru tentang dirinya sendiri.

Pekan demi pekan, latihan kecil ini mengendap. Ketika tiba waktunya Festival Talent atau Pentas Akhir Tahun, anak-anak naik panggung bukan sebagai orang asing, melainkan membawa cerita, lagu, dan gerakan yang memang sudah mereka hidupi sepanjang tahun. Halaman [Festival Talent dan Pentas Akhir Tahun](/program/festival-talent) bercerita lebih jauh tentang ini.

Bagaimana ekspresi ini diamati, bukan dinilai

Seni di SABar masuk dalam domain "Talent & Life Skill" pada Progress Report, bersama bercerita, gerak lagu, perkusi, dan crafting. Yang dicatat fasilitator adalah perkembangan: anak yang semula hanya menonton kini mau memegang alat musik, anak yang dulu berbisik kini berani bercerita di depan kelas. Tidak ada ranking, tidak ada "juara seni". Setiap anak dibandingkan dengan dirinya sendiri tiga bulan sebelumnya, dan perkembangan itu dibicarakan bersama Ayah Bunda saat Progress Report.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak yang pemalu akan dipaksa tampil?
Tidak. Fasilitator mendampingi anak bertahap, dari ikut bertepuk, memegang alat, sampai akhirnya mau tampil bersama kelompok. Keberanian yang dipuji adalah keberanian kecil hari ini, bukan hasil akhir di panggung.
Apakah ada ekstrakurikuler seni khusus?
Seni di SABar terjalin dalam kegiatan harian dan pekanan seperti Circle Time, Book Day, Special Friday di TK, serta sesi seni di unit lain. Bentuk kegiatan tiap jenjang disampaikan sekolah kepada orang tua di awal tahun ajaran.
Apakah anak perlu membawa alat musik atau bahan kerajinan sendiri?
Umumnya tidak. SABar justru banyak memakai bahan dari alam dan barang bekas. Bila suatu kegiatan memerlukan bahan dari rumah, fasilitator memberi tahu lewat rencana pekanan.
Bagaimana dengan anak berkebutuhan khusus?
Seni adalah salah satu pintu masuk yang paling ramah. Sesi bernyanyi dan perkusi di Sekolah Kemandirian dirancang agar setiap anak bisa ikut sesuai kemampuannya, dan bentuk dukungan tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah masa observasi.

Kalau Ayah Bunda ingin melihat sendiri seperti apa anak-anak bercerita, menabuh, dan berkarya di SABar, cara paling sederhana adalah datang pada hari biasa. Admin SPMB SABar akan membantu memilih waktu yang pas agar Ayah Bunda bisa melihat kegiatan yang sedang berjalan, lalu berbincang dengan fasilitator.