Dibandingkan dengan...

Bukan Tentang Nama Kurikulum, tetapi Apa yang Dialami Anak

Setiap kunjungan ke sekolah biasanya dibuka dengan satu pertanyaan: "Pakai kurikulum apa?" Kami ingin mengajak Ayah Bunda mengganti pertanyaannya: "Anak saya akan mengalami apa, belajar apa, dan berkembang seperti apa?"

Anak TK Alam Baturraden memakai sepatu bot sendiri sebelum ke kebun

Pertanyaan yang lebih berguna

Nama kurikulum itu penting, dan SABar tidak menyembunyikannya: kurikulum nasional yang disinergikan dengan Belajar Bersama Alam. Tetapi nama hanya memberi tahu kerangka. Dua sekolah dengan kurikulum yang sama bisa memberikan pengalaman yang sangat berbeda; dua sekolah dengan nama kurikulum berbeda bisa membentuk anak yang serupa.

Yang membentuk anak bukan dokumen, melainkan apa yang berulang setiap hari: siapa yang menyambutnya di pagi hari, apa yang ia pegang dengan tangannya, pertanyaan apa yang boleh ia ajukan, dan apa yang terjadi ketika ia gagal. Halaman ini mencoba menjawab pertanyaan itu dengan menunjukkan pengalaman, bukan nama.

Yang dialami anak di SABar, dari pagi sampai siang

Pagi di SABar dimulai dengan welcoming. Anak turun dari kendaraan, salim, dan menyapa fasilitator. Di TK, ada waktu kognitif untuk membaca, menulis, berhitung, dan hafalan, lalu Circle Time dengan doa, muroja'ah, nyanyi, dan permainan. Setelah itu eksplorasi sesuai tema pekan: bisa di saung, di raised bed, di hutan damar sekitar sekolah, atau di luar sekolah lewat outing.

Hari ditutup dengan refleksi dan makan siang bersama. Setelah makan, piring tidak hilang sendiri; anak mencucinya. Sebagian anak melanjutkan program hingga sore. Tidak ada kantin, sehingga anak membawa camilan dari rumah dan makan siang disediakan katering SABar yang menunya berganti-ganti.

Dalam satu pekan, pola ini berulang dengan warna berbeda: ada hari farming, ada hari outbound dengan satu karakter yang dilatih, ada Market Day dua pekan sekali dengan tema berganti, dan ada hari Sabtu untuk bahasa Inggris.

  1. Disambut, salim, dan menyapa: anak belajar adab sebelum belajar huruf.
  2. Mengurus diri: tas sendiri, sepatu bot sendiri, makan tanpa disuapi, toilet mandiri.
  3. Mengamati dan bertanya: tema pekan dibuka dengan sesuatu yang bisa dilihat dan disentuh.
  4. Mencoba dan gagal: menanam yang tidak tumbuh, dagangan yang tidak laku, simpul yang lepas.
  5. Berkarya dan menceritakan: hasil karya dipamerkan, dilelang, atau dipresentasikan.
  6. Merefleksikan: "apa yang kamu pelajari hari ini, dan bagian mana yang sulit?"

Empat pilar sebagai kacamata membaca pengalaman

Bagi fasilitator, empat pilar sekolah alam adalah kacamata untuk memastikan pengalaman anak tidak timpang. Satu kegiatan yang sama, misalnya memanen kacang tanah di Sensory Garden lalu merebus dan memakannya bersama, dibaca dari empat sisi sekaligus: adakah akhlak di dalamnya (syukur, berbagi), adakah logika (mengapa kacang tumbuh di dalam tanah), adakah leadership (membagi tugas, menunggu giliran), dan adakah bisnis (berapa yang bisa dijual, berapa yang dimakan).

Itulah sebabnya di SABar jarang ada kegiatan yang berdiri sendiri. Festival Sains, Pitching Literasi, Festival Budaya, dan Market Day bukan acara hiburan di sela pelajaran; semuanya adalah muara dari tema yang sudah berjalan berpekan-pekan.

Pengalaman yang berubah seiring usia

Yang dialami anak tentu berbeda di tiap jenjang. Sobat Kecil di Mercury Class dan Venus Class belajar lewat bermain, bernyanyi, bermain peran, dan merawat satu dua tanaman pribadi. Di SD, pengalaman berkembang menjadi worksheet terintegrasi mingguan, mentoring farming untuk kelas rendah dan mentoring bisnis untuk kelas tinggi, serta petualangan yang menantang seperti rappelling, tubing, dan trekking.

Di Sekolah Menengah, Sobat SM mengalami magang, live-in, mountaineering, dan proyek yang semakin besar tanggung jawabnya tiap tahun. Di Sekolah Kemandirian dan SABar Learning Centre, pengalaman diatur mengikuti rencana individual tiap anak, dengan prinsip yang sama: alam sebagai media, dan kemandirian sebagai arah.

Pertanyaan "pakai kurikulum apa?" biasanya dijawab dalam satu kalimat. Pertanyaan "anak saya mengalami apa?" lebih baik dijawab dengan datang dan melihat.

Yang tidak akan dialami anak di SABar

Kejujuran juga berarti menyebut yang tidak ada. Di SABar, anak tidak akan diperingkat dari satu sampai sekian, karena sekolah memandang setiap anak unik dan punya cahayanya sendiri. Anak tidak akan menghabiskan hari di balik meja berderet, meski buku dan worksheet tetap ada, terutama di SD dan jenjang menengah. Anak juga tidak akan diajari bahwa hafalan Al-Qur'an adalah lomba; yang dirawat adalah pengamalannya.

Bagi sebagian keluarga, hal-hal itu justru yang dicari. Bagi sebagian lain, mungkin bukan. Keduanya sah, dan halaman ini ditulis agar Ayah Bunda bisa memutuskan dengan gambaran yang jujur.

Pertanyaan yang sering diajukan

Jadi, SABar memakai kurikulum apa?
Kurikulum nasional (termasuk Kurikulum Merdeka dan pendidikan kesetaraan Paket B/C) yang disinergikan dengan kurikulum sekolah alam Belajar Bersama Alam dari Jaringan Sekolah Alam Nusantara.
Bagaimana saya tahu anak saya benar-benar belajar, bukan sekadar bermain?
Lewat Progress Report tiap triwulan yang membahas perkembangan anak di berbagai domain, portofolio karya, dan pemaparan rencana program di awal tahun serta tiap triwulan.
Apakah anak yang pendiam atau sangat aktif cocok dengan pengalaman seperti ini?
Setiap anak masuk lewat masa observasi lebih dulu, sehingga sekolah dan orang tua bisa membicarakan bentuk dukungan yang sesuai sebelum memutuskan.
Bisakah saya melihat kelas yang sedang berjalan sebelum mendaftar?
Bisa. Alur SPMB SABar memang dimulai dengan datang dan berbincang, bukan mengisi formulir. Hubungi admin SPMB SABar untuk mengatur waktunya.

Kurikulum bisa dibaca di dokumen, tetapi pengalaman hanya bisa dilihat di tempatnya. Ayah Bunda dipersilakan datang, duduk sebentar di saung, dan melihat apa yang dialami Sobat SABar pada hari biasa.