Kurikulum & Pilar
Tidak semua anak akan menjadi ketua, dan memang tidak perlu. Yang dibutuhkan setiap anak adalah kemampuan memimpin dirinya sendiri: tahu apa yang harus dilakukan, berani melakukannya, dan bangkit lagi ketika gagal.
Kata leadership sering membuat orang membayangkan anak yang berdiri di depan barisan. Di SABar, maknanya dimulai jauh lebih dekat: anak yang bisa memakai sepatu botnya sendiri, memutuskan ikut mencoba titian meskipun takut, menyelesaikan tugas piketnya tanpa diingatkan, dan mengatakan "aku butuh bantuan" pada saat yang tepat. Leadership adalah kemampuan memimpin diri, dan dari situlah kemampuan memimpin orang lain tumbuh bila waktunya tiba.
Pilar ini mencakup kemandirian, keberanian, kemampuan mengambil keputusan, resiliensi, kerja sama, dan komunikasi. Dokumen kurikulum SABar menetapkan dua jalan utamanya: outbound learning dan green therapy. Keduanya punya kesamaan, yaitu menghadapkan anak pada tantangan nyata, dalam lingkungan yang aman, dengan orang dewasa yang mendampingi tanpa mengambil alih.
Setiap Jumat anak-anak TK mengikuti senam pagi lalu outbound dengan satu "karakter" yang menjadi fokus pekan itu. Panduan outbound TK memasangkan setiap nilai dengan satu permainan ringan dan satu tantangan: keseimbangan, mau mencoba, keberanian, komunikasi, fokus, sabar, kerja sama, sportif, percaya diri, pantang menyerah, peduli, kepemimpinan, dan pemecahan masalah. Nama permainannya pun akrab di telinga anak: Kesatria Keseimbangan, Peri Bisik, Kerajaan Pelangi dengan telepon kaleng, Bamboo Bridge, Ayunan Tarzan, sampai Pencari Harta Karun dengan peta.
Tantangannya nyata tetapi diukur. Rappelling, misalnya, disesuaikan untuk usia TK; kegiatan berdampak tinggi memerlukan alat keselamatan khusus dan pendamping yang bertugas mengamankan. Anak boleh takut, boleh menunda, boleh mencoba lagi pekan depan. Yang dilatih bukan nekat, melainkan keberanian yang tahu batasnya.
Target pencapaian TK memuat domain "Self Help & Physical Motor" yang menjadi fondasi pilar ini, dan tuntutannya bertambah di jenjang berikutnya.
Berangkat sekolah tanpa ditunggui, makan tanpa disuapi, ke toilet sendiri, membereskan mainan, memanjat, dan bergelantung. Anak juga menyiapkan perlengkapannya sendiri: sepatu bot, topi, lotion anti nyamuk.
Life skill seperti housekeeping, fun cooking, tali-temali, dan public speaking; trekking, berenang, wall climbing, rappelling, dan tubing; sekolah malam sampai kelas 6 yang melatih anak jauh dari orang tua semalam.
Program berjenjang dari tahun ke tahun: mountaineering dari tingkat dasar, survival, hingga lanjutan dengan proyek sosial atau riset; live-in dari luar kabupaten, luar provinsi, sampai luar pulau atau luar negeri; backpacker; dan proyek yang berkembang dari pertunjukan, pameran, hingga menjadi penyelenggara acara.
Bagian terpenting dari pilar leadership mungkin yang paling tidak terlihat: kemampuan bangkit. Anak yang tanamannya layu, yang dagangannya tidak laku di Market Day, yang kelompoknya kalah dalam permainan, sedang mendapat kesempatan belajar yang tidak bisa dibeli. Fasilitator tidak buru-buru menghibur dengan menyalahkan keadaan; ia mengajak anak melihat apa yang bisa dicoba berbeda. Panduan outbound TK sengaja memasukkan "sportif" dan "pantang menyerah" sebagai nilai tersendiri, karena keduanya tidak tumbuh dengan sendirinya.
Kerja sama dan komunikasi dilatih dalam konteks yang sama. Permainan kelompok, kesepakatan kelas yang disusun bersama murid, tugas piket, presentasi project, dan pitching di hadapan orang tua adalah ruang-ruang kecil di mana anak belajar mendengar, menyampaikan, dan mengambil bagian.
Pilar leadership juga berlaku bagi Sobat Kemandirian dan anak-anak berkebutuhan khusus di kelas inklusi. Pendekatan SaNGaT SABar (Special Needs Green Therapy) membawa latihan sensori motor, bantu diri, dan sosial ke ruang terbuka: berjalan tanpa alas kaki di rumput basah, pasir, dan kerikil; mendorong gerobak dan mengangkat ember; menyiram tanaman sesuai jadwal sendiri; menyiapkan sepatu bot dan topi sebelum keluar. Program From Shadow to Hero bahkan mengubah peran pendamping dari "yang mengikuti di belakang" menjadi pembuka jalan menuju kemandirian, bukan ketergantungan. Memimpin diri, dalam bentuk apa pun yang mungkin bagi tiap anak, adalah tujuannya.
Jika Ayah Bunda ingin melihat seperti apa anak yang sedang belajar memimpin dirinya, datanglah pada hari outbound dan perhatikan wajah anak yang baru saja berhasil menyeberangi jembatan bambu. Setelah itu, mari berbincang dengan admin SPMB SABar.