Lulusan SABar
Kemandirian bukan mata pelajaran. Ia dilatih setiap hari, dari memakai sepatu bot sendiri sampai memutuskan kapan kelompok harus berhenti mendaki.
Pilar ketiga sekolah alam adalah kepemimpinan, dan kepemimpinan yang pertama-tama dikejar di Sekolah Alam Baturraden (SABar) bukan memimpin orang lain, melainkan memimpin diri sendiri. Anak yang mampu memimpin dirinya tahu apa yang harus dilakukan tanpa menunggu disuruh, berani memutuskan, menanggung akibat keputusannya, dan tidak runtuh ketika hasilnya tidak sesuai harapan.
Lulusan yang mandiri dalam bertindak, dalam bayangan kami, adalah orang yang bisa diandalkan oleh dirinya sendiri. Ia bisa mengurus kebutuhannya, mengatur barangnya, menjaga kesehatannya, dan ketika hidup menghadirkan persoalan, ia melangkah lebih dulu sebelum mengeluh. Semua itu terdengar besar, tetapi pondasinya diletakkan dari hal-hal yang sangat kecil.
Di TK Alam Baturraden, salah satu domain yang diamati fasilitator bernama Self Help: anak bersekolah tanpa ditunggui, makan tanpa disuapi, ke toilet sendiri, dan membereskan mainannya. Tidak ada yang spektakuler, tetapi inilah kemandirian yang pertama dan paling nyata bagi anak usia dini.
Di SABar, anak membawa perlengkapan hariannya sendiri: baju ganti, jas hujan, bekal camilan dari rumah, dan sejenisnya. Sebagian barang seperti sepatu bot boleh ditinggal di sekolah, dan anak sendiri yang bertanggung jawab mengambil, memakai, membersihkan, dan mengembalikannya ke rak. Selesai makan siang, anak mencuci piringnya. Sebelum pulang, anak mengecek barangnya. Kebiasaan sederhana ini diulang ratusan kali dalam setahun, dan dari pengulangan itulah kemandirian tumbuh tanpa terasa.
Bagi Sobat Kemandirian, langkah yang sama dipecah menjadi tahap-tahap yang lebih kecil dan dirayakan satu per satu: menyiapkan sepatu bot dan topi sebelum ke kebun, menyiram tanaman sesuai jadwal sendiri, mengemas hasil panen. Kemandirian yang bermakna bagi hidup sehari-hari adalah tujuan utamanya.
Keputusan tidak bisa dilatih di atas kertas. Karena itu, metode pilar kepemimpinan di SABar adalah Outbound Learning dan Green Therapy: anak ditempatkan dalam situasi nyata yang menuntut mereka memilih.
Mandiri dalam bertindak berarti sanggup memikul tanggung jawab yang makin besar. Di SABar, tanggung jawab itu dirancang bertumbuh bersama usia. Sobat Kecil bertanggung jawab atas mainannya dan satu atau dua tanaman pribadinya. Murid SD bertanggung jawab atas raised bed kelompok, modal Market Day, dan peran kecil dalam pentas. Sobat SM bertanggung jawab atas project yang berkembang dari pertunjukan, pameran, hingga mengelola acara sendiri, serta atas laporan magangnya di tempat kerja sungguhan.
Dari sini, kepemimpinan atas orang lain muncul secara alami. Anak yang terbiasa memimpin dirinya biasanya dipercaya teman-temannya untuk memimpin kelompok, bukan karena ditunjuk, melainkan karena terbukti bisa diandalkan.
Keberanian dan ketangguhan adalah dua hal yang paling kami harapkan tumbuh pada setiap anak, dan keduanya hanya bisa tumbuh bila anak diizinkan gagal. Benih yang mati, dagangan yang tidak laku, tenda yang roboh, tali yang terlepas: semuanya adalah kegagalan kecil yang aman, dan fasilitator sengaja tidak selalu mencegahnya.
Yang dilakukan setelah gagal jauh lebih penting daripada kegagalannya. Anak diajak merefleksikan apa yang terjadi, mencoba lagi, dan merayakan ketika akhirnya berhasil. Nilai "pantang menyerah" dalam panduan outbound bukan slogan; ia adalah pengalaman berulang yang membuat anak percaya bahwa gagal bukan akhir.
Kemandirian di SABar berarti anak akan sering pulang dengan baju kotor, tangan berbekas tanah, dan cerita tentang sesuatu yang belum berhasil. Itu bagian dari prosesnya, dan kami mengajak Ayah Bunda ikut menikmatinya.
Kemandirian anak mudah dilihat dari hal kecil: bagaimana ia memakai sepatu botnya, mencuci piringnya, dan merapikan barangnya. Ayah Bunda dipersilakan datang melihat sendiri dan berbincang dengan admin SPMB SABar tentang tahap yang sesuai untuk ananda.