Life Skill & Kemandirian
Ada anak yang hafal perkalian tetapi belum bisa mengikat tali sepatunya. Ada remaja yang nilainya bagus tetapi bingung ketika harus memasak untuk dirinya sendiri. SABar percaya sekolah harus menyiapkan anak untuk hidup, bukan hanya untuk lulus.
Ayah Bunda mungkin mengenali situasi ini. Pagi hari, tas anak disiapkan orang tua. Sepatu dipakaikan. Bekal dibuka di sekolah oleh orang lain. Sore hari, piring bekas makan ditinggal di meja. Bukan karena anak malas, melainkan karena ia tidak pernah diberi kesempatan dan ditunggu sampai bisa. Kita sering lebih cepat mengerjakan daripada menunggu anak belajar.
Di sisi lain, tuntutan akademik terasa makin tinggi. Les tambahan, target nilai, dan lomba membuat waktu untuk urusan "kecil" seperti melipat baju atau menyapu terasa tidak penting. Padahal kemampuan akademik tidak otomatis membuat anak mampu mengurus diri dan mengambil tanggung jawab. Keduanya harus dilatih, dan latihan yang kedua ini sering tertinggal.
SABar memilih untuk tidak menunda. Life skill bukan jam pelajaran tambahan di hari tertentu. Ia ada dalam cara anak datang, makan, bermain, dan pulang setiap hari.
Dalam empat pilar sekolah alam, kecakapan hidup berada di bawah pilar kepemimpinan: memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Di TK, "Self Help & Physical Motor" adalah salah satu domain yang diamati dan dilaporkan dalam Progress Report: sekolah tanpa ditunggui, makan tanpa disuapi, toilet mandiri, membereskan mainan. Di SD, life skill mencakup housekeeping, fun cooking, public speaking, tali-temali, dan handicraft. Di Sekolah Menengah, bentuknya berubah menjadi magang, mengelola proyek, dan mengatur anggaran perjalanan.
Di Sekolah Kemandirian, life skill bahkan menjadi akar dari seluruh pendekatan. Dalam metafora pohon yang dipakai SaNGaT SABar, talent dan life skill adalah akarnya; kemampuan bantu diri adalah buahnya. Tanpa akar yang kuat, kemampuan akademik tidak punya tempat untuk tumbuh.
Dengan kata lain, belajar kehidupan di SABar bukan sesuatu yang "juga diajarkan". Ia adalah sesuatu yang menopang semua yang lain.
Sikat gigi, sepatu, tas, makan, piring, antre, dan barang pribadi. Dilatih setiap hari lewat pembiasaan, dari TK sampai remaja.
Practical life yang di banyak rumah dikerjakan orang dewasa, di SABar dikerjakan anak sesuai kemampuannya.
Tugas anak TK tidak sama dengan SD, dan SD tidak sama dengan remaja. Tanggung jawab naik seiring pengalaman.
Perubahan kecil yang diamati, dicatat, dan dibicarakan bersama orang tua, bukan diukur dengan angka.
Dalam rencana mingguan TK, ada pekan ketika Sobat Kecil membawa sikat gigi dan perlengkapan mandi ke sekolah untuk mempraktikkan mandi dan menggosok gigi sendiri. Ada pekan ketika mereka belajar memotong kuku, melipat baju, mencuci sepatu bot, mengikat tali sepatu, memakai baju berkancing, dan mencuci gelas. Ada pula hari ketika mereka memberi pakan kambing dan ayam, atau membuat ecobrick dari sampah plastik.
Yang menarik bukan daftar kegiatannya, melainkan apa yang berubah setelahnya. Anak yang sudah bisa memakai sepatu botnya sendiri biasanya mulai menolak dibantu. Anak yang sudah pernah mencuci gelas biasanya mulai memperhatikan gelas kotor di rumah. Kemandirian menular ke hal-hal lain, dan rasa percaya diri yang tumbuh dari "aku bisa" ikut membantu ketika ia menghadapi tugas akademik yang sulit.
SABar tidak bisa melatih kemandirian sendirian. Anak yang di sekolah mencuci piringnya sendiri tetapi di rumah selalu dilayani akan bingung mana yang benar. Karena itu, pembiasaan di sekolah selalu dibicarakan dengan orang tua: lewat Progress Report tiap triwulan, Sekolah Orang Tua, dan komunikasi harian dengan fasilitator.
Prinsip yang dipakai di Sekolah Kemandirian berlaku untuk semua anak: pembiasaan berlangsung sepanjang hari kecuali saat tidur. Artinya, rumah dan sekolah perlu sepakat. Bukan sepakat untuk keras, melainkan sepakat untuk memberi kesempatan dan menunggu.
Ayah Bunda bisa melihat sendiri bagaimana anak-anak di SABar makan, membereskan tempat makan, dan menyiapkan dirinya untuk pulang. Pemandangan sederhana itu sering lebih meyakinkan daripada penjelasan panjang. Mari berkunjung.