Kurikulum & Pilar

Bisnis: Belajar Menghasilkan Nilai

Pilar bisnis bukan berarti setiap anak harus menjadi pengusaha. Ia berarti setiap anak belajar bahwa tangannya bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, dan bahwa ia bertanggung jawab atas apa yang ia hasilkan.

Anak-anak menata dagangan berbungkus daun pisang di meja Market Day Sekolah Alam Baturraden

Dari tangan sendiri

Dua pekan sekali, ada hari ketika Sobat SABar datang ke sekolah dengan wajah yang sedikit berbeda: hari Market Day. Temanya berganti-ganti, misalnya olahan ubi, makanan yang dibungkus daun pisang, atau makanan tradisional. Anak menyiapkan dagangannya, menata meja, menyebut harga, melayani pembeli, mengembalikan uang, dan di akhir hari menghitung hasilnya. Market Day ada di semua unit, dari Mercury Class dan Venus Class di TK, kelas-kelas SD, Milky Way Class dan Andromeda Class di Sekolah Menengah, Sun Class di Sekolah Kemandirian, sampai Coral Class di SLC. Harinya diatur per kelas.

Dari kegiatan yang tampak sederhana itu, pilar bisnis bekerja. SABar memaknai bisnis sebagai belajar menghasilkan nilai: karya, kreativitas, transaksi, pelayanan, tanggung jawab, dan productive mindset, yaitu kebiasaan berpikir "apa yang bisa aku hasilkan" alih-alih hanya "apa yang bisa aku dapat". Dokumen kurikulum menyebut jalannya: magang dan Learn to Maestro. Market Day adalah latihan paling awal dan paling sering.

Bukan tentang uang

Uang hadir di Market Day, tetapi ia bukan pelajaran utamanya. Anak TK yang berjualan dengan tema "Resep Rahasia Keluargaku" sedang belajar bahwa resep neneknya berharga bagi orang lain. Anak SD yang mengemas hasil panen raised bed sedang belajar bahwa kerja berpekan-pekan merawat tanaman punya hasil yang bisa dibagi. Sobat Kemandirian yang mengemas kompos untuk dijual dalam skala sekolah sedang belajar bahwa ia mampu berkontribusi.

Karena itu pilar bisnis selalu bergandengan dengan pilar akhlak. Kejujuran saat mengembalikan kembalian, keramahan kepada pembeli, dan sikap saat dagangan tidak laku adalah bagian dari pelajaran. Di Special Friday TK, karya dari barang bekas dibuat untuk dilelang tiap semester, dan hasil lelang itu mengajarkan bahwa berkarya bisa sekaligus bermanfaat bagi orang lain.

Bertumbuh bersama usia

JenjangBentuk pilar bisnisYang dilatih
TK (Mercury & Venus Class)Market Day bertema masakan, Bisnis Day, lelang karya barang bekas, fun cookingBerani menawarkan, mengenal jual beli, menghargai karya sendiri
SD (Earth sampai Neptune Class)Market Day, mentoring farming untuk kelas 1–3 dan mentoring bisnis untuk kelas 4–6, Pitching Business di hadapan orang tuaMerencanakan, menghitung, menyampaikan gagasan, bertanggung jawab atas hasil
Sekolah Menengah (Milky Way & Andromeda Class)Magang berjenjang dari bidang kreatif dan kuliner, manajemen dan UMKM, hingga industri; business plan, marketing, studi kelayakan usaha; project dari pertunjukan sampai menjadi penyelenggara acaraMembaca kebutuhan nyata, bekerja dengan orang dewasa, menyelesaikan proyek sampai tuntas
Sekolah Kemandirian & SLC (Sun & Coral Class)Market Day, kegiatan vokasional seperti mengemas hasil panen dan membuat kompos, Modern MarketKemandirian, keterampilan kerja sederhana, rasa mampu berkontribusi

Learn to Maestro dan magang

Semakin besar anak, semakin penting baginya melihat bagaimana orang dewasa benar-benar berkarya. Learn to Maestro mempertemukan anak dengan orang yang menekuni bidangnya, misalnya penulis dan penerjemah naskah Babad Banyumas, atau pelaku usaha yang membuka dapurnya untuk Sobat Kemandirian. Anak melihat proses, bertanya, dan mencoba, bukan sekadar mendengar cerita sukses.

Di Sekolah Menengah, magang menjadi bagian dari kurikulum dan berjenjang dari tahun ke tahun, dari bidang kreatif dan kuliner, manajemen dan UMKM, hingga industri dan lintas bidang. Bersamaan dengan itu, Sobat SM menyusun business plan, belajar marketing dan branding, lalu membuat studi kelayakan usaha sederhana. Tujuannya bukan agar semua lulusan membuka usaha, melainkan agar mereka mengenal dunia kerja dari dalam dan tahu bahwa nilai dihasilkan lewat kerja yang tekun.

Sekolah yang ikut berlatih

Pilar bisnis tidak hanya untuk anak. Sejak TA 2025/2026, SABar mengembangkan unit usaha sekolah lewat program Teacherpreneur, agar fasilitator pun mengalami apa yang mereka ajarkan: merancang, mencoba, dan bertanggung jawab atas hasil. Katering makan siang milik SABar sendiri adalah salah satu contoh bagaimana sekolah berusaha menghasilkan nilai bagi keluarganya sendiri. Anak belajar dari apa yang ia lihat, dan sekolah berusaha menjadi contoh yang bisa dilihat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak harus membawa modal untuk Market Day?
Bentuk persiapan Market Day, termasuk bahan dan modalnya, diatur per kelas dan disampaikan fasilitator kepada orang tua. Prinsipnya sederhana dan sesuai usia; silakan tanyakan rinciannya saat berkunjung.
Bagaimana jika anak saya tidak berminat berjualan?
Tidak semua anak harus suka berjualan, dan itu wajar. Pilar bisnis juga bisa dilatih lewat membuat karya, melayani, atau mengelola proyek di belakang layar. Fasilitator membantu anak menemukan perannya.
Apakah magang di Sekolah Menengah dilakukan di tempat usaha sungguhan?
Ya, magang dirancang berjenjang mengikuti bidang yang sesuai tahun belajar Sobat SM. Tempat dan bentuk magang tiap tahun disampaikan sekolah kepada orang tua.
Apakah hasil Market Day menjadi milik anak?
Pengelolaan hasil Market Day diatur bersama di tiap kelas sebagai bagian dari pembelajaran mencatat, membagi, dan bertanggung jawab. Rinciannya dibicarakan fasilitator dengan anak dan orang tua.

Kalau Ayah Bunda kebetulan datang pada hari Market Day, bersiaplah ditawari sesuatu oleh penjual kecil yang sangat serius. Itu cara paling menyenangkan untuk memahami pilar bisnis. Mari jadwalkan kunjungan dan berbincang dengan admin SPMB SABar.