Minat, Bakat & Masa Remaja
Bakat jarang mengumumkan dirinya sendiri. Ia muncul sebentar saat anak lupa sedang diperhatikan, dan tugas fasilitator adalah menangkapnya sebelum berlalu.
Seorang anak di kebun tiba-tiba berhenti menyiram karena melihat semut yang membawa remah roti. Ia mengikuti barisan semut itu sampai ke bawah batu, lalu memanggil temannya untuk ikut melihat. Di ruang lain, seorang anak yang jarang bicara mengatur sendiri urutan kotak-kotak kardus menjadi jembatan yang bisa dilewati mobil mainan, tanpa diminta siapa pun.
Momen seperti ini bisa lewat begitu saja kalau sekolah hanya melihat hasil ulangan. Di SABar, momen-momen inilah yang justru dicari. Capturing Talent berarti menangkap potensi anak melalui aktivitas, pengalaman, karya, dan pola ketertarikannya, bukan melalui satu alat ukur yang sama untuk semua anak.
Fasilitator SABar memang dipahami sebagai teman perjalanan, mitra belajar, dan pengamat potensi. Karena anak-anak berkegiatan di banyak tempat, dari saung belajar, raised bed, kolam, sampai stan Market Day, kesempatan untuk mengamati menjadi jauh lebih banyak dibanding di balik meja.
Yang diamati bukan hanya apa yang bisa dilakukan anak, tetapi juga apa yang terus-menerus ia pilih saat diberi kebebasan. Anak yang selalu kembali ke pojok buku, anak yang selalu minta memegang pisau saat fun cooking, anak yang selalu menjadi juru bicara kelompoknya, anak yang betah berlama-lama di kebun. Pola yang berulang ini sering lebih jujur daripada jawaban anak saat ditanya "kamu suka apa?".
Cara anak terlibat dalam outbound, farming, memasak, bermain peran, dan tugas kelompok: siapa yang memimpin, siapa yang tekun, siapa yang paling peduli pada temannya.
Gambar, bangunan dari balok, cerita yang ia karang, kreasi perkusi, hasil olahan untuk Market Day, sampai tulisan panjang di jenjang remaja.
Hal yang anak pilih berulang-ulang ketika tidak disuruh, pertanyaan yang sering ia ajukan, dan topik yang membuatnya tidak mau berhenti.
Di TK, pengamatan ini dilakukan melalui observasi, catatan anekdot, percakapan, penugasan, unjuk kerja, dan hasil karya. Semua dikumpulkan dalam portofolio dan dianalisis tiap triwulan dan semester. Di SD, hasilnya dirangkum menjadi rapor bakat yang berjalan berdampingan dengan rapor naratif. Di Sekolah Menengah, Talent Based Activity dan portofolio pengembangan diri menjadi wadahnya.
Ada bahayanya ketika sekolah terlalu cepat memberi cap: "dia anak seni", "dia anak hitung". Cap seperti itu bisa menutup pintu yang belum sempat dibuka. Karena itu di SABar, hasil pengamatan diperlakukan sebagai arah sementara, bukan vonis. Anak yang tahun ini tampak suka memasak boleh saja tahun depan jatuh cinta pada peta dan perjalanan.
Yang penting adalah anak diberi ruang untuk mencoba lagi. Pengamatan menjadi bahan untuk memilih tantangan berikutnya: tampil di Festival Talent, memimpin stan Market Day, mencoba perkusi, atau, bagi remaja, mencoba magang di bidang yang membuatnya penasaran. Dari situ pengamatan diperbarui, dan begitu seterusnya. Hasilnya dibicarakan secara terbuka bersama anak sesuai usianya, agar anak sendiri belajar mengenali dirinya.
Anak punya wajah yang berbeda di rumah dan di sekolah. Ada anak yang di sekolah pemalu tetapi di rumah menjadi sutradara drama adik-adiknya. Karena itu SABar menganggap Ayah Bunda sebagai pengamat kedua yang sama pentingnya.
Progress Report tiap triwulan adalah pertemuan tatap muka, bukan sekadar lembar yang dibawa pulang. Di sana fasilitator menceritakan apa yang mereka lihat, dan orang tua menambahkan apa yang mereka lihat di rumah. Sekolah Orang Tua SABar (SOS) juga memuat sesi khusus Capturing Talent untuk orang tua SD, serta sesi "Menumbuhkan Bakat Anak", supaya cara memandang anak di rumah dan di sekolah bisa saling menguatkan.
Metode dan alat bantu pengamatan bisa berbeda antarjenjang dan terus disesuaikan. Ayah Bunda yang ingin tahu bagaimana anak akan diamati di kelas tertentu bisa menanyakannya langsung saat berkunjung atau pada pertemuan awal tahun ajaran.
Menangkap bakat hanyalah langkah pertama. Setelah itu SABar membuka jalan untuk menumbuhkannya: Learn to Maestro mempertemukan anak dengan orang yang sungguh-sungguh berkarya di bidang itu, project dan portfolio memberi tempat bagi karya anak untuk berkembang, dan magang di jenjang Sekolah Menengah membawa bakat itu ke dunia kerja yang nyata.
Dengan begitu, Capturing Talent bukan berkas yang disimpan di lemari, melainkan peta yang terus dipakai sepanjang perjalanan anak di SABar, dari Mercury Class sampai Andromeda Class.
Ayah Bunda ingin melihat bagaimana fasilitator SABar mengamati anak? Datanglah berkunjung saat anak-anak berkegiatan, dan berbincanglah dengan admin SPMB SABar tentang cara sekolah mengenal anak sejak hari-hari pertama.