Alam & Petualangan

Alam adalah Laboratorium Terbesar

Laboratorium SABar tidak berdinding. Ia berupa hutan damar, bedengan sayur, aliran irigasi, curug, dan desa di lereng Gunung Slamet, tempat anak mengamati, mencoba, dan bertanya setiap hari.

Sobat SABar mengamati tanaman di kebun sekolah

Baturraden sebagai ruang kelas

Bayangkan seorang anak kelas tiga SD yang pagi itu tidak membuka buku teks, tetapi berjongkok di depan bedengan tanam miliknya. Ia mengukur jarak lubang tanam, menghitung hari sampai kangkungnya bisa dipanen, lalu menuliskan pengamatannya dalam kosakata bahasa Inggris dan Basa Jawa. Dalam satu kegiatan, ia sedang belajar matematika, sains, bahasa, dan tanggung jawab. Begitulah alam bekerja sebagai laboratorium di SABar.

Kampus TK dan SD SABar berada di Desa Karang Tengah, Baturraden, di kaki Gunung Slamet. Lingkungannya hutan damar dengan saung-saung belajar, masjid, taman, dan dapur. Tidak jauh dari situ ada curug, aliran irigasi, kebun warga, dan desa yang hidup. Bagi kami, semua itu bukan pemandangan di luar jendela, melainkan bahan ajar yang tersedia setiap hari.

Sekolah alam percaya bahwa anak belajar paling dalam ketika ia mengalami, bukan hanya mendengar. Belajar tentang daur air dari gambar di buku tentu berguna. Tetapi belajar melalui mengambil sampel air di curug, mengamati batu dan pasirnya, lalu membandingkannya dengan air di kebun, meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang.

Dari observasi ke riset sederhana

Di TK, laboratorium ini hadir dalam bentuk permainan dan eksplorasi. Sobat Kecil di Mercury Class dan Venus Class menanam benih jagung atau kacang hijau di kapas dan mengamatinya tumbuh dari hari ke hari. Mereka mengubur sisa daun untuk kompos mini, membuat rumah cacing dari botol bekas, lalu mencatat apa yang terjadi. Ada eksperimen terapung dan tenggelam, pencampuran warna air, meniup balon sambil berhitung, sampai membakar daun kering dengan lup ketika tema pekan itu matahari.

Di SD, pengamatan berkembang menjadi riset kecil. Rencana pembelajaran SABar mengalir dari ayat inspirasi pekan, lalu pengalaman langsung, penyelidikan, riset sederhana, dan akhirnya inovasi atau solusi. Contohnya, murid Jupiter Class belajar menyetek tanaman dan membuat irigasi tetes dari botol bekas dalam tema "My Green Life". Ada tema lain seperti "Water is Useful" dan "Life Cycle" yang semuanya berangkat dari apa yang ada di halaman sekolah.

Di Sekolah Menengah, alam benar-benar menjadi laboratorium utama. Kepala sekolah PKBM menggambarkannya dengan sederhana: matematika bisa dipelajari dari luas daun, jarak tempuh, kedalaman goa, dan arus sungai. Dalam ekspedisi caving, Sobat SM mempelajari stalaktit, stalagmit, dan bentang karst untuk sains; memperkirakan kedalaman dan jarak untuk matematika; menyusun laporan observasi; dan melatih manajemen risiko. Semuanya ditutup dengan tadabbur: merenungkan ciptaan Allah di dalam gelapnya gua.

Kebun sekolah yang punya banyak wajah

Raised bed dan area produksi

Bedengan tanam tempat anak menanam bayam, kangkung, sawi, kacang tanah, singkong, atau cabai. Setiap anak TK merawat tanaman pribadinya selama beberapa pekan.

Taman herbal dan taman keindahan

Sambiloto, kumis kucing, binahong, kencur, kunyit, jahe, mint, dan sirih menjadi bahan belajar tanaman obat, sekaligus bahan Market Day bertema "Keajaiban Tanaman Obat".

Bank pakan dan area terapi

Odot, kaliandra, dan lamtoro ditanam sebagai pakan ternak sekolah; ada pula area terapi dan area pembelajaran dengan ubi ungu dan sorgum yang dipakai dalam pendekatan SaNGaT SABar.

Tadabbur: ilmu yang kembali kepada Penciptanya

Dalam kurikulum SABar, setiap tema di TK memuat satu pertanyaan yang sama: siapa di balik penciptaan semua ini? Anak yang mengamati putri malu menutup daunnya diajak bertanya siapa yang menciptakannya. Murid SD yang menanam kangkung diajak mengaitkannya dengan kemandirian pangan dan tanggung jawab di hadapan Allah. Remaja yang memahami bentang karst diajak memahami "ayat kauniyah", tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam.

Inilah yang membedakan laboratorium alam dari sekadar kegiatan luar ruang. Observasi melatih logika, eksperimen melatih ketelitian, tetapi tadabbur merawat hati. Akhlak tetap menjadi pijakan, apa pun kegiatannya.

Lingkungan sosial juga laboratorium

Alam di SABar tidak hanya berarti pohon dan sungai. Desa di sekitar sekolah adalah laboratorium sosial. Sobat Kecil berkunjung ke balai desa, mengamati gotong royong, mengenal becak dan delman, lalu membandingkannya dengan pasar modern dan rambu lalu lintas kota. Ada tema tentang mata pencaharian, pasar-pasaran, dan kesenian kentongan. Dari sini anak belajar bahwa ilmu sosial pun bisa diamati, bukan hanya dihafal.

Pendekatan ini sejalan dengan kurikulum Belajar Bersama Alam yang mengedepankan kearifan lokal. Mengenal Banyumas, Basa Jawa, dan budaya desa adalah bagian dari mengenal diri sendiri.

Aman di alam

Belajar di curug, sungai, atau gua membutuhkan persiapan. Fasilitator menyiapkan lokasi dan kegiatan sesuai usia anak, mendampingi sepanjang kegiatan, dan untuk perjalanan di luar sekolah meminta persetujuan orang tua lebih dulu. Anak dibiasakan membawa sepatu bot, jas hujan, dan baju ganti karena hujan adalah bagian dari kehidupan di Baturraden.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak tetap belajar materi kurikulum nasional?
Ya. Kurikulum nasional disinergikan dengan kurikulum sekolah alam. Materi seperti IPAS, matematika, dan bahasa dipelajari lewat tema yang berangkat dari lingkungan sekolah.
Bagaimana jika hujan?
Hujan adalah bagian dari keseharian di Baturraden. Anak membawa jas hujan dan baju ganti, dan fasilitator menyesuaikan kegiatan dengan kondisi cuaca.
Apakah anak TK juga belajar di alam setiap hari?
Ya. Eksplorasi tema di TK berlangsung di dalam dan di luar ruang, dengan hari khusus untuk farming di raised bed dan hari untuk outbound.
Apakah ada kegiatan di luar lingkungan sekolah?
Ada, mulai dari trekking ke curug dan kebun raya, outing bertema, hingga caving dan live-in bagi remaja. Semuanya dirancang sesuai usia dan didampingi fasilitator.

Laboratorium ini paling mudah dipahami dengan menginjaknya sendiri. Ayah Bunda bisa datang, berjalan di antara pohon damar, melihat raised bed anak-anak, dan menanyakan bagaimana sebuah tema dipelajari di sini.