Cara Belajar › Filosofi
Dua anak bisa duduk di saung yang sama, mengikuti tema yang sama, dan belajar dengan cara yang sama sekali berbeda. Di SABar, perbedaan itu bukan masalah yang harus diseragamkan.
Bayangkan pagi di Mercury Class. Tema pekan ini "Our Plant", dan fasilitator membawa benih jagung serta kapas basah. Satu anak langsung mengambil benih dan bertanya kapan tumbuhnya. Anak lain berdiri agak jauh, memperhatikan dulu sampai yakin. Anak ketiga lebih tertarik pada semut yang lewat di tepi raised bed. Ketiganya sedang belajar, hanya saja dengan pintu masuk yang berbeda.
Di banyak tempat, anak yang berdiri agak jauh akan disebut lambat, dan anak yang mengamati semut akan disebut tidak fokus. Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), fasilitator justru mencatat ketiganya sebagai informasi: siapa yang perlu waktu, siapa yang perlu bergerak, siapa yang rasa ingin tahunya mudah berpindah. Dari catatan itu, cara menemani masing-masing anak disesuaikan.
Perbedaan karakter, tempo belajar, minat, bakat, dan kebutuhan perkembangan adalah hal yang paling awal diperhatikan di SABar. Bukan untuk memberi label, melainkan untuk mengenal.
Di SABar ada ungkapan yang sering diulang kepada orang tua: anak adalah bintang yang memiliki cahayanya sendiri, bukan bulan yang hanya memantulkan cahaya orang tuanya. Karena itu anak tidak perlu dibandingkan, baik dengan kakaknya, dengan teman sebangkunya, maupun dengan bayangan orang tua tentang dirinya di masa kecil.
Ungkapan itu punya konsekuensi yang sangat praktis. SABar tidak memeringkat murid. Tidak ada juara kelas yang diumumkan, tidak ada urutan dari yang paling pintar ke yang paling tidak. Yang diamati adalah perjalanan tiap anak: dari mana ia memulai, apa yang sedang ia latih sekarang, dan langkah apa yang mungkin ia ambil berikutnya. Seorang anak yang bulan lalu belum berani bicara di circle time dan pekan ini mau menceritakan tanamannya sudah mencatat kemajuan yang penting, meskipun angka hafalannya sama dengan sebelumnya.
Perkembangan yang beragam itu dirangkum dalam Progress Report setiap triwulan, berbentuk narasi, dan dibicarakan langsung bersama Ayah Bunda. Di jenjang SD, selain rapor narasi ada pula rapor bakat yang khusus memotret ke mana minat dan kekuatan anak sedang mengarah.
Ada anak yang bisa membaca sebelum masuk SD, ada yang baru lancar beberapa bulan setelahnya. Ada anak yang hafal surat pendek dengan cepat, ada yang perlu diulang berminggu-minggu. Di SABar, tempo yang berbeda tidak mengubah harga seorang anak di mata fasilitatornya. Hafalan dan calistung tetap dicatat dengan tertib di kartu evaluasi anak, tetapi catatan itu dipakai untuk menyesuaikan pendampingan, bukan untuk mengurutkan.
Hal yang sama berlaku untuk minat. Anak yang senang angka, anak yang senang bercerita, anak yang tangannya terampil, dan anak yang paling cepat menenangkan temannya yang menangis semuanya membawa kekuatan yang berbeda. Sejak TK ada Talents Program, dan di jenjang yang lebih tinggi ada Capturing Talent, Learn to Maestro, serta magang, agar kekuatan yang berbeda-beda itu punya tempat untuk tumbuh.
Kalau setiap anak memang berbeda, maka anak berkebutuhan khusus bukan pengecualian dari aturan; ia adalah bagian dari keragaman yang sama. Itulah mengapa misi pertama SABar adalah menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sebagian anak berkebutuhan khusus belajar di kelas reguler bersama teman-temannya dengan pendamping, sebagian di Sekolah Kemandirian (Sun Class) dalam kluster sesuai kebutuhan, dan ada pula yang dilayani di SABar Learning Centre di Cilacap.
Di SABar, pendampingan untuk anak berkebutuhan khusus dirancang menyatu dengan keseharian sekolah melalui pendekatan SaNGaT SABar (Special Needs Green Therapy), terapi yang berlangsung di alam dan di tengah teman-teman, bukan di ruang terpisah. Prinsipnya, semua orang di sekitar anak ikut menjadi terapisnya: fasilitator, teman sekelas, dan orang tua di rumah.
Bentuk dukungan untuk tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah masa observasi. Tidak ada daftar baku "diterima" atau "tidak diterima"; yang ada adalah percakapan jujur tentang apa yang bisa disediakan sekolah dan apa yang dibutuhkan anak.
Cara paling jujur untuk melihat apakah pandangan ini benar-benar dijalankan adalah datang dan memperhatikan bagaimana fasilitator menemani anak-anak yang berbeda-beda itu. Ayah Bunda boleh berkunjung dulu, berbincang dengan admin SPMB SABar, dan bertanya apa saja.