Pengalaman yang Membentuk

Belajar dari Masyarakat

Pagar sekolah tidak pernah dimaksudkan sebagai batas belajar. Di SABar, desa, pasar, masjid, dan rumah warga adalah kelas yang paling jujur.

Sobat SM tinggal dan belajar bersama keluarga warga saat live-in

Masyarakat sebagai ruang belajar nyata

Ada satu catatan jujur yang dipegang SABar. Rapor Pendidikan PKBM Alam Purwokerto beberapa tahun lalu menyebut bahwa hal yang paling perlu ditingkatkan adalah interaksi positif dengan masyarakat yang beragam latar belakangnya. Sekolah tidak menyembunyikan catatan itu, justru menjadikannya arah: semakin sering anak bertemu orang yang berbeda dari dirinya, semakin siap ia hidup di dunia yang memang beragam.

Keyakinan ini bukan hal baru. Salah satu tujuan SABar sejak awal adalah memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar. Sekolah alam, menurut para pendiri, tidak hanya membangun sekolah, tetapi ikut membangun peradaban. Dan peradaban dibangun di luar pagar, bersama orang-orang yang tinggal di sekitar sekolah.

Dimulai sejak kecil: desa, pasar, balai desa

Bagi Sobat Kecil di TK, belajar dari masyarakat dimulai dari lingkungan terdekat. Saat tema desa, Mercury Class dan Venus Class bertamu ke balai desa, mengenal perangkat desa, dan belajar adab bertamu. Saat tema makanan dan jual beli, mereka berjalan ke pasar dan supermarket untuk membandingkan pasar tradisional dan pasar modern. Ada "operasi semut" membersihkan aliran air di sekitar perumahan, dan jalan-jalan ke desa tetangga untuk melihat mata pencaharian warga.

Di SD, kunjungan belajar membawa anak ke bukit, saung petani, dan tempat-tempat di Banyumas yang punya cerita. Yang dilatih di sini bukan hanya pengetahuan, tetapi kebiasaan: menyapa, bertanya dengan sopan, mengucapkan terima kasih, dan merapikan kembali tempat yang dikunjungi.

Live-in: tinggal dan belajar bersama warga

Di Sekolah Menengah, belajar dari masyarakat menjadi lebih dalam lewat live-in. Sobat SM tinggal beberapa hari bersama keluarga di tempat lain, ikut kesehariannya, makan apa yang dimakan tuan rumah, dan bekerja apa yang dikerjakan tuan rumah. Program ini berjenjang: tahun pertama di luar kabupaten tetapi masih satu provinsi, tahun kedua di luar provinsi, tahun ketiga lebih jauh lagi. Sobat SM pernah live-in di Purbalingga dan di lereng pegunungan Dieng, digabung dengan mountaineering.

Sobat Kemandirian juga punya Live-in Kemandirian, dengan pendampingan yang disesuaikan. Bagi anak berkebutuhan khusus, tinggal di rumah orang lain adalah latihan bantu diri dan sosial yang jarang bisa ditiru di dalam kelas. Halaman [Outing, Live-In, dan Backpacker](/program/outing-live-in-backpacker) membahas persiapan dan jenjangnya.

UMKM, magang, dan taman baca

Magang di usaha kecil

Magang Sobat SM dimulai dari bidang kreatif dan kuliner, lalu manajemen dan UMKM, sebelum menyentuh industri. Anak melihat bagaimana sebuah usaha rumahan bertahan: dari belanja bahan, melayani pembeli, sampai menghitung untung.

Market Day dan Perayaan Pangan

Dua pekan sekali anak berjualan kepada warga sekolah, dan pada acara tertentu kepada masyarakat sekitar. Pembeli sungguhan adalah guru yang paling jujur.

Taman Baca Masyarakat

PKBM Alam Purwokerto mengelola TBM Alam, taman baca yang terbuka untuk masyarakat dan pernah menerima bantuan buku dari Perpustakaan Nasional. Anak belajar bahwa sekolah bisa memberi, bukan hanya menerima.

Safari Ramadhan dan proyek sosial

Pada bulan Ramadhan, Sobat SM pernah menjalani Safari Ramadhan: tiga hari di tiga masjid yang berbeda wataknya. Di masjid lingkungan mahasiswa mereka belajar membiasakan dhuha dan muroja'ah; di masjid dekat pasar mereka mempraktikkan ibadah di tengah keramaian; di masjid perumahan mereka belajar filantropi dan berbagi. Tiga masjid, tiga wajah masyarakat, satu bulan yang sama.

Proyek sosial lain lahir dari inisiatif remaja sendiri. Sobat SM pernah menggagas acara berbagi kado dan permainan untuk anak-anak di desa sekitar sekolah, dengan menggandeng Sobat SABar dari Baturraden. Dari acara seperti ini anak belajar merencanakan, mengumpulkan dukungan, dan menghadapi kenyataan bahwa memberi ternyata membutuhkan kerja keras.

Apa yang berubah pada anak

Yang diharapkan tumbuh dari belajar bersama masyarakat bukan kemampuan akademik semata. SABar berharap anak pulang dengan rasa hormat kepada orang yang berbeda, kepekaan terhadap kebutuhan sekitar, keberanian berbicara dengan orang asing dengan santun, dan kesadaran bahwa dirinya bagian dari masyarakat, bukan tamu di dalamnya. Perubahan-perubahan ini dicatat fasilitator dan dibicarakan bersama Ayah Bunda dalam Progress Report.

Pertanyaan yang sering diajukan

Sejak jenjang apa anak mulai belajar di luar sekolah?
Sejak TK, dalam bentuk outing tematik ke lingkungan terdekat seperti balai desa dan pasar. Jangkauannya bertambah seiring usia hingga live-in dan magang di Sekolah Menengah.
Bagaimana keamanan anak selama live-in?
Keluarga tuan rumah dipilih dan dikenal sekolah, fasilitator mendampingi, dan orang tua mengisi form persetujuan sebelum berangkat. Rincian persiapan tiap angkatan dibicarakan sekolah dengan orang tua.
Apakah anak berkebutuhan khusus ikut live-in?
Ada Live-in Kemandirian dengan pendampingan yang disesuaikan. Bentuk keikutsertaan tiap anak dibicarakan bersama orang tua dan pendamping.
Apakah orang tua bisa mengusulkan tempat belajar di masyarakat?
Bisa. Banyak kunjungan dan narasumber SABar bermula dari usulan keluarga. Sampaikan kepada fasilitator kelas.

Bila Ayah Bunda ingin tahu bagaimana anak-anak SABar bersikap di tengah masyarakat, cara paling jujur bukan membaca halaman ini, melainkan berkunjung dan berbincang dengan fasilitator tentang live-in, Safari Ramadhan, atau Market Day yang terdekat. Admin SPMB SABar akan membantu mengatur waktunya.