Seni, Budaya, dan Ekspresi

Festival Talent dan Pentas Akhir Tahun

Panggung di SABar tidak dibuat untuk membuat tamu terkesan. Ia dibuat agar anak punya tempat menunjukkan apa yang sudah ia tumbuhkan, dan agar Ayah Bunda bisa melihat seberapa jauh ia melangkah.

Sobat SABar tampil dalam Pentas Akhir Tahun di hadapan orang tua

Dua panggung dalam setahun

Dalam satu tahun ajaran, Sobat SABar bertemu dua panggung besar. Yang pertama Festival Talent, biasanya di paruh pertama tahun ajaran dan digabung dengan salah satu pertemuan Sekolah Orang Tua (SOS). Yang kedua Pentas Akhir Tahun, yang di SABar disebut Akhirussanah, menjelang tahun ajaran berakhir, bersamaan dengan Progress Report terakhir dan Student Recognition.

Di antara keduanya ada panggung-panggung yang lebih kecil: Pentas TK dan Pentas Kemandirian pada pertemuan Progress Report, Pentas Khitobah untuk anak SD yang berlatih berbicara di depan orang banyak, Pitching Business dan Pitching Project saat anak mempresentasikan usaha dan proyeknya, serta pertunjukan per kelas pada Festival Budaya. Ritme ini membuat tampil di depan orang menjadi hal yang biasa, bukan peristiwa menegangkan setahun sekali.

Festival Talent: memperlihatkan apa yang ditemukan

Festival Talent adalah lanjutan alami dari Capturing Talent, cara SABar mengamati minat dan bakat anak sepanjang tahun. Di TK, Special Friday mengisi pekan demi pekan dengan gerak lagu, seni bercerita, perkusi, dan crafting. Di SD, fasilitator mencatat kecenderungan anak dalam rapor bakat di samping rapor narasi. Di Sekolah Menengah, Sobat SM bekerja dengan Talent Based Activity, project, dan portofolio.

Festival Talent adalah hari ketika catatan-catatan itu naik ke panggung. Seorang anak yang sepanjang triwulan senang menabuh perkusi tampil bersama kelompoknya. Anak yang suka bercerita membawakan kisah. Anak yang lebih nyaman di belakang layar membantu mengatur properti atau menjelaskan karya. Tidak ada babak penyisihan. Yang ditampilkan adalah bakat yang ditemukan, bukan bakat yang menang.

Pentas Akhir Tahun: melihat pertumbuhan, bukan kemegahan

Akhirussanah di SABar biasanya memuat drama musikal, apresiasi untuk murid dan fasilitator, serta wisuda bagi yang menyelesaikan jenjang. Drama musikal dipilih karena memberi peran bagi banyak anak sekaligus: yang bernyanyi, yang menari, yang berdialog, yang mengurus latar. Lagu dan gerak yang dibawakan sering kali adalah kreasi yang sudah dilatih sepanjang tahun di Special Friday atau sesi seni kelas.

Yang ingin diperlihatkan sekolah pada hari itu sederhana: anak ini, setahun lalu, belum berani berdiri di depan teman-temannya; hari ini ia menyanyi di panggung. Anak itu, di awal tahun, masih ditunggui di kelas; hari ini ia naik panggung sendiri lalu turun mencari orang tuanya dengan bangga. Kemegahan dekorasi tidak pernah menjadi ukuran. Pertumbuhan anaklah ukurannya.

Student Recognition: diakui, bukan diperingkat

SABar tidak memeringkat anak, karena setiap anak unik. Karena itu, pada Pentas Akhir Tahun tidak ada pengumuman juara umum. Yang ada adalah Student Recognition: tiap anak diakui untuk perkembangan yang spesifik pada dirinya, misalnya keberanian mencoba, ketekunan merawat tanaman, kepedulian pada teman, atau kemajuan dalam membaca Al-Qur'an. Fasilitator pun mendapat apresiasi serupa. Semua itu bersumber dari catatan observasi, portofolio, dan Progress Report sepanjang tahun, bukan dari penilaian satu hari.

Proses di balik panggung

  1. Mengamati sepanjang tahun. Fasilitator mencatat minat anak dalam kegiatan harian, Special Friday, project, dan Market Day.
  2. Memilih bersama anak. Menjelang pentas, anak dilibatkan menentukan apa yang ingin ia tampilkan dan peran apa yang ia ambil dalam kelompok.
  3. Berlatih dalam kegiatan biasa. Latihan tidak menggantikan belajar; ia menyatu dalam Circle Time, sesi seni, dan kerja kelompok.
  4. Tampil dan direfleksikan. Setelah pentas, anak diajak merefleksikan apa yang ia rasakan dan apa yang ingin ia coba tahun depan. Catatan ini kembali ke Progress Report.

Peran Ayah Bunda

Kedua panggung ini sengaja dirangkai dengan pertemuan orang tua: Festival Talent dengan Sekolah Orang Tua, Pentas Akhir Tahun dengan Progress Report. Tujuannya agar Ayah Bunda tidak hanya menonton, tetapi juga mendengar cerita fasilitator tentang proses di baliknya. Pertunjukan lima menit di panggung menjadi lebih bermakna bila Ayah Bunda tahu bahwa lima menit itu adalah hasil dari berbulan-bulan keberanian kecil yang dikumpulkan.

Bagi keluarga yang sedang mengenal SABar, panggung ini juga cara yang jujur untuk melihat sekolah apa adanya: anak-anak yang tampil dengan segala kekurangan dan kelebihannya, fasilitator yang mendampingi di sisi panggung, dan orang tua yang ikut bertepuk tangan untuk anak orang lain.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah setiap anak pasti tampil?
Setiap anak mendapat peran, tetapi bentuknya disesuaikan. Ada yang tampil di depan, ada yang mengurus properti, ada yang menjelaskan karya di stand. Yang dipastikan adalah tiap anak terlibat dan diakui.
Apakah ada lomba atau juara?
Tidak ada juara umum atau peringkat. Student Recognition mengakui perkembangan masing-masing anak berdasarkan catatan sepanjang tahun.
Kapan Festival Talent dan Akhirussanah diadakan?
Festival Talent biasanya di paruh pertama tahun ajaran, Akhirussanah menjelang tahun ajaran berakhir. Jadwal tiap tahun disampaikan sekolah kepada orang tua.
Apakah anak berkebutuhan khusus juga tampil?
Ya. Pentas Kemandirian dan keterlibatan Sobat Kemandirian dalam pentas bersama adalah bagian tetap dari agenda, dengan bentuk partisipasi yang dibicarakan bersama orang tua dan pendamping.
Apakah perlu biaya tambahan untuk kostum dan properti?
Sekolah mengutamakan kesederhanaan dan bahan yang ada. Bila ada kebutuhan khusus, fasilitator membicarakannya dengan orang tua kelas jauh hari.

Panggung paling jujur untuk mengenal SABar sebenarnya adalah hari biasa, saat anak-anak berlatih tanpa tahu ada yang menonton. Ayah Bunda boleh datang, melihat, dan bertanya kepada fasilitator tentang bagaimana bakat anak diamati. Admin SPMB SABar siap membantu mengatur kunjungan.