Minat, Bakat & Masa Remaja
"Nanti mau jadi apa?" adalah pertanyaan yang terlalu besar untuk dijawab di balik meja. Di SABar, remaja menjawabnya dengan mencoba, bertemu orang, dan mengenali dirinya sedikit demi sedikit.
Di usia belasan, seorang anak diminta memilih jurusan, lalu beberapa tahun kemudian memilih kuliah atau pekerjaan. Padahal banyak dari mereka belum pernah sungguh-sungguh mencoba apa pun di luar pelajaran sekolah. Tidak heran kalau pilihannya sering mengikuti teman, tren, atau sekadar keinginan orang tua.
SABar memandang masa remaja sebagai masa mengenali diri, bukan masa mengejar nilai. Jenjang Sekolah Menengah di PKBM Alam Purwokerto, dengan Milky Way Class untuk Paket B dan Andromeda Class untuk Paket C, dirancang agar Sobat SM punya cukup banyak pengalaman nyata sebelum mengambil keputusan besar. Karena itulah orang tua sering menyebutnya "sekolah minat dan bakat".
Ini bukan berarti akademik ditinggalkan. Ujian kesetaraan tetap disiapkan dan ijazah tetap diraih. Bedanya, di sela itu anak diberi ruang untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang membuat saya betah, apa yang membuat saya ingin kembali, dan apa yang ternyata bukan untuk saya.
Sebelum bicara karier, SABar memulai dari sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran bahwa anak sedang beranjak dewasa. Kurikulum aqil baligh membantu Sobat SM memahami perubahan dirinya, tanggung jawab yang mulai ia pikul, dan pengendalian diri, termasuk melalui pembiasaan ibadah dan puasa. Orang tua pun diajak memahami fase ini lewat sesi Sekolah Orang Tua SABar tentang aqil baligh remaja.
Dari kesadaran itu, percakapan tentang arah hidup menjadi lebih jujur. Remaja yang tahu bahwa ia sedang tumbuh menjadi orang dewasa akan memilih dengan cara yang berbeda dari remaja yang masih merasa semua keputusan milik orang tuanya.
Arah tidak ditemukan dengan berpikir saja. Ia ditemukan dengan mencoba. Di Sekolah Menengah SABar, Sobat SM menjalani rangkaian pengalaman yang sengaja beragam, dan setiap pengalaman menambah satu petunjuk tentang dirinya.
Kegiatan sesuai minat, dengan buku portofolio pengembangan diri yang menyimpan jejak karya dan refleksi anak dari tahun ke tahun.
Bertemu orang yang sungguh-sungguh berkarya di bidangnya, melihat dapur kerjanya, dan bertanya hal-hal yang tidak ada di buku.
Dari bidang kreatif dan kuliner, manajemen dan UMKM, sampai industri. Anak merasakan dunia kerja sebelum harus memilihnya.
Dari menggelar pertunjukan, menyiapkan pameran, hingga menjadi penyelenggara acara. Anak menemukan peran yang paling cocok untuknya di dalam tim.
Tinggal bersama masyarakat di daerah lain dan menjalani mountaineering berjenjang. Anak mengenal dirinya saat jauh dari rumah dan dari kenyamanan.
Menyusun business plan, mencoba pemasaran, sampai studi kelayakan usaha, lalu mempresentasikannya di Pitching Business Exhibition.
Fasilitator mendampingi di sepanjang jalan, bukan untuk menentukan, melainkan untuk membantu anak membaca apa yang ia rasakan setelah tiap pengalaman. Pertanyaan yang sering diajukan sederhana: bagian mana yang membuatmu lupa waktu?
Keputusan besar tentang pendidikan dan karier adalah keputusan keluarga. SABar tidak mengambil alih peran itu. Yang dilakukan sekolah adalah memperkaya percakapan di rumah dengan data yang nyata: catatan pengamatan fasilitator, portofolio, laporan magang, dan cerita anak sendiri.
Progress Report tiap triwulan menjadi ruang untuk membicarakannya. Alih-alih hanya mendengar nilai, Ayah Bunda mendengar apa yang anak temukan tentang dirinya tiga bulan terakhir. Dari situ keluarga bisa merencanakan langkah berikutnya bersama, apakah mencoba bidang lain, memperdalam yang sudah ada, atau mulai menjajaki pilihan setelah lulus.
Harapan SABar untuk setiap lulusannya terangkum dalam slogan "Discover the Great in You": mengenal diri dan potensinya, lalu siap belajar sepanjang hayat. Remaja yang lulus dengan mengenal dirinya tidak selalu tahu persis akan jadi apa, tetapi ia tahu cara mencari tahu. Ia pernah mencoba, pernah gagal, pernah bertemu orang yang menekuni bidangnya, dan pernah bekerja untuk orang lain.
Itulah bekal yang menurut kami lebih tahan lama daripada daftar jurusan favorit. Karena jurusan bisa berganti, pekerjaan bisa berubah, tetapi kemampuan mengenali diri dan terus belajar akan terus dipakai.
Kalau Ayah Bunda sedang mendampingi remaja yang belum tahu arahnya, mungkin yang ia butuhkan bukan jawaban, melainkan kesempatan mencoba. Datanglah berkunjung bersama anak, lihat kegiatan Sobat SM, dan berbincang dengan admin SPMB SABar.