Dibandingkan dengan...

Sekolah Alam dan Montessori: Bertemu pada Kemandirian

Banyak Ayah Bunda mengenal Montessori lebih dulu, lalu bertanya apakah sekolah alam mirip. Jawaban jujurnya: berbeda asal-usul, tetapi bertemu di satu tempat yang penting, yaitu kemandirian anak.

Anak TK mencuci piring sendiri setelah makan siang di Sekolah Alam Baturraden

Dua jalan, satu persimpangan

Montessori adalah pendekatan pendidikan yang berkembang dari pengamatan terhadap anak usia dini lebih dari seabad lalu, dan kini dikenal luas lewat gagasan seperti lingkungan yang disiapkan, kebebasan dalam batas, alat belajar konkret, dan practical life, yaitu kegiatan hidup sehari-hari seperti menuang, menyapu, mengancingkan baju, dan menyiapkan makanan. Sekolah alam adalah gerakan pendidikan yang lahir di Indonesia dengan alam sebagai ruang belajar utama dan empat pilar sebagai kerangkanya.

Kami tidak akan mengklaim bahwa SABar adalah sekolah Montessori, dan kami tidak menilai pendekatan mana yang lebih baik. Keduanya punya kekuatan sendiri. Yang ingin kami tunjukkan di halaman ini adalah persimpangan tempat keduanya bertemu, agar Ayah Bunda yang sudah mengenal Montessori bisa membaca keseharian SABar dengan lebih mudah.

Yang sama: anak melakukan sendiri

Judul Kartu

Ada empat gagasan Montessori yang akan terasa akrab saat Ayah Bunda melihat SABar.

Practical life

Di SABar, target pencapaian TK memuat makan tanpa disuapi, ke toilet sendiri, membereskan mainan, dan berangkat tanpa ditunggui. Setelah makan siang, anak mencuci piringnya sendiri. Perlengkapan harian seperti sepatu bot, jas hujan, dan baju ganti disiapkan dan diurus sendiri sesuai usianya.

Pengalaman konkret sebelum abstrak

Anak mengenal konsep lewat benda dan tubuhnya dulu: benih di kapas sebelum gambar siklus tanaman, menghitung kembalian di Market Day sebelum soal cerita, mengukur jarak tanam sebelum definisi satuan panjang.

Lingkungan yang disiapkan

Pedoman TK mengatur agar alat main disiapkan sebelum anak datang, lingkungan indoor dan outdoor aman dan nyaman, tersedia tiga jenis main (sensorimotor, peran, pembangunan), area air tidak licin, dan alat tersimpan per kategori agar anak bisa mengambil dan mengembalikan sendiri.

Orang dewasa yang mengamati, bukan mengambil alih

Fasilitator di SABar diposisikan sebagai teman perjalanan dan pengamat potensi. Dalam pendampingan anak berkebutuhan khusus, perannya pun digeser dari "bayangan yang mengikuti" menjadi pembuka jalan menuju kemandirian.

Yang berbeda: ruangnya

Perbedaan paling terlihat ada pada ruang belajarnya. Montessori umumnya dikenal lewat ruang kelas yang tertata dengan alat-alat belajar yang dirancang khusus. Di SABar, ruang utamanya adalah alam: saung terbuka, hutan damar, raised bed, aliran air, kebun herbal, dan jalan setapak. Alat belajarnya pun lebih sering berupa benda yang ada di sana: tanah, daun, batu, air, botol bekas, dan hasil panen.

Perbedaan kedua ada pada kerangkanya. Sekolah alam menyusun belajar dalam empat pilar, yaitu akhlak, logika, leadership, dan bisnis, dan menjalankannya dalam tema yang menghubungkan banyak ilmu. Kegiatan seperti outbound dengan satu nilai tiap pekan, Market Day dua pekan sekali, trekking, sekolah malam, dan magang di Sekolah Menengah adalah ciri sekolah alam yang tidak lahir dari tradisi Montessori. Perbedaan ini bukan kekurangan salah satunya; ia hanya menunjukkan bahwa keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda dengan cara masing-masing.

Practical life versi SABar

Jika practical life di Montessori dikenal lewat nampan dan teko kecil, di SABar ia hadir dalam urutan hari yang sederhana. Begini kira-kira perjalanannya, dari kemandirian paling dasar sampai yang lebih kompleks:

  1. Mengurus diri. Memakai sepatu bot sendiri, mengoles lotion anti nyamuk, mencuci tangan, wudhu, dan toilet mandiri.
  2. Mengurus barang. Memeriksa tas sebelum pulang, menyimpan jas hujan di tempatnya, mengembalikan alat main ke wadahnya.
  3. Mengurus makanan. Membawa bekal camilan sendiri dari rumah, makan siang dengan tertib, lalu mencuci piring dan merapikan tempat makan. Di SD ada fun cooking dan jungle cooking; di Sekolah Kemandirian ada cooking class dari memetik sayur sampai menyajikannya.
  4. Mengurus lingkungan. Membuang dan memilah sampah, Infaq Sampah, housekeeping di SD, menyiram tanaman sesuai jadwal sendiri, dan merawat tanaman pribadi berpekan-pekan.
  5. Mengurus orang lain. Melayani pembeli di Market Day, piket kelompok, dan, di jenjang yang lebih tinggi, menyiapkan acara untuk orang lain.

Tidak satu pun langkah ini memakai alat khusus. Semuanya memakai kehidupan itu sendiri.

Untuk anak yang beragam

Kemandirian juga menjadi inti layanan bagi Sobat Kemandirian dan anak-anak di SABar Learning Centre. Pendekatan SaNGaT SABar menempatkan bantu diri sebagai salah satu "buah" yang ingin dipetik: menyiapkan perlengkapan sendiri, menyiram tanaman sesuai jadwal, mengemas hasil panen. Bentuk dukungan untuk tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah masa observasi. Bagi keluarga yang pernah mengenal pendekatan apa pun sebelumnya, termasuk Montessori, pengalaman itu akan menjadi bahan percakapan yang berharga saat berkunjung.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah SABar sekolah Montessori?
Bukan. SABar adalah sekolah alam yang menjalankan kurikulum nasional dan kurikulum Belajar Bersama Alam. Halaman ini hanya menunjukkan titik temu keduanya pada kemandirian.
Anak saya pernah di PAUD Montessori. Apakah akan kaget pindah ke sekolah alam?
Kebiasaan mandiri yang sudah terbentuk biasanya menjadi bekal yang baik. Yang baru adalah ruang terbuka, aktivitas fisik, dan kegiatan kelompok yang lebih banyak. Masa observasi di awal membantu sekolah dan Ayah Bunda melihat penyesuaian apa yang diperlukan.
Apakah SABar memakai alat belajar Montessori?
SABar tidak berpijak pada perangkat Montessori. Media belajar di SABar lebih banyak dari alam dan benda sehari-hari, ditambah media terapi tertentu untuk anak berkebutuhan khusus.
Mana yang lebih baik untuk anak usia dini?
Keduanya pendekatan yang dihormati, dan jawabannya bergantung pada anak dan keluarga. Cara paling tepat untuk memutuskan adalah melihat langsung keseharian sekolah dan berbincang dengan fasilitatornya.

Kemandirian paling mudah dinilai dengan melihatnya. Datanglah saat jam makan siang, perhatikan antrean kecil di tempat cuci piring, lalu mari berbincang dengan admin SPMB SABar tentang anak Ayah Bunda.