Seni, Budaya, dan Ekspresi

Festival Budaya

Satu pekan dalam setahun, halaman sekolah berubah menjadi peta kecil Nusantara dan dunia. Anak-anak tidak sekadar belajar tentang budaya; mereka memakainya, memasaknya, dan memainkannya.

Sobat SABar dan orang tua dalam fashion show busana daerah pada Festival Budaya

Mengapa budaya perlu dialami, bukan hanya dihafal

Nama-nama rumah adat dan tarian daerah mudah dihafal, dan mudah pula dilupakan. Yang lebih lama tinggal adalah pengalaman: rasa gulai yang dimasak bersama ibu di stand kelas, berat topeng yang dipakai saat menari, atau bunyi angklung yang pertama kali digoyangkan sendiri. SABar memilih jalan kedua ini.

Di sekolah alam, kearifan lokal memang bagian dari kurikulum Belajar Bersama Alam. Sepanjang tahun, Sobat SABar sudah bersentuhan dengan budaya dalam dosis kecil: mendengar legenda Jaka Tarub di Book Day, memasak mi Aceh dan onigiri saat Fun Cooking, mengenal aksara Jawa dan basa krama di worksheet SD, atau mengunjungi Museum Wayang Banyumas. Festival Budaya adalah muara dari semua sentuhan kecil itu, saat semua kelas merayakannya bersama dalam satu pekan.

Seperti apa Festival Budaya di SABar

Festival Budaya digelar setahun sekali dan berlangsung sekitar sepekan, dengan puncak acara yang biasanya digabung dengan pertemuan Progress Report sehingga Ayah Bunda bisa hadir. Setiap kelas atau fase mendapat satu budaya untuk didalami: daerah di Nusantara, atau negara lain pada tahun tertentu.

Berdasarkan petunjuk teknis festival yang pernah dijalankan, rangkaian acaranya kurang lebih seperti ini:

  1. Fashion show busana daerah. Anak berjalan didampingi orang tua, mengenakan batik atau kostum budaya yang didalami kelasnya, lalu berfoto bersama kelas atau fase.
  2. Pertunjukan budaya per jenjang. TK (Mercury Class dan Venus Class), fase A, fase B, fase C di SD, Sekolah Kemandirian, dan Sekolah Menengah masing-masing menampilkan tarian, lagu, cerita, atau drama dari budaya yang mereka pelajari.
  3. Stand budaya. Setiap kelas membuka stand berisi informasi, karya seni anak, dan kuliner khas daerah. Stand ini dikerjakan bersama orang tua, dan kuliner boleh dijual langsung kepada pengunjung.
  4. Puncak dan refleksi. Festival ditutup bersamaan dengan Progress Report triwulan, sehingga apa yang anak alami sepekan itu ikut dibicarakan dengan fasilitator dan orang tua.

Lokasi stand dan urutan pertunjukan diatur sekolah setiap tahun dan disampaikan kepada orang tua menjelang acara.

Satu tema, banyak ilmu: budaya sebagai spider web

Di SABar, tema diperlakukan seperti jaring laba-laba: satu tema menautkan banyak bidang. Ketika sebuah kelas mendapat budaya Sumatra, misalnya, anak-anak tidak hanya berlatih tari. Mereka membaca peta untuk tahu di mana pulau itu, menghitung bahan saat memasak mi gomak, mengenal rempah yang dipakai, menyimak cerita rakyatnya, dan menyusun kalimat untuk menjelaskan stand mereka kepada pengunjung.

Di TK, pekan-pekan menjelang festival sering memakai tema provinsi dan negara: makanan khas Sumatra, Sulawesi, Arab, dan Jepang dimasak dalam Fun Cooking, kosakata bahasa Inggris pekan itu mengikuti tema, dan kegiatan "Goes to China" serta barongsai pernah menjadi bagian dari agenda. Di SD dan Sekolah Menengah, budaya masuk ke IPAS, Pendidikan Pancasila, bahasa Jawa, dan proyek kelas. Festival menjadi titik tempat semua benang itu bertemu.

Keluarga ikut di dalamnya

Festival Budaya mungkin agenda SABar yang paling banyak melibatkan orang tua secara langsung. Stand budaya adalah pekerjaan bersama: Ayah Bunda menyiapkan informasi dan kuliner, anak-anak menyiapkan karya dan penjelasannya. Fashion show dirancang agar anak berjalan bersama orang tuanya, bukan sendirian.

Ini sejalan dengan cara SABar memandang keluarga: sekolah tidak menggantikan orang tua, tetapi bekerja bersama mereka. Bagi banyak keluarga, festival menjadi kesempatan mengenal orang tua lain di kelas yang sama, dan bagi anak, melihat ayah dan ibunya ikut sibuk menyiapkan stand adalah pesan bahwa belajar itu urusan bersama. Halaman [Parent Day dan Orang Tua sebagai Sumber Belajar](/orang-tua/parent-day) menceritakan bentuk keterlibatan lain sepanjang tahun.

Yang dibawa pulang anak setelah festival

Keberanian tampil

Berjalan di depan banyak orang dengan busana daerah, lalu menari atau bercerita, adalah latihan percaya diri yang nyata, apalagi bagi anak yang tahun sebelumnya hanya berani menonton.

Rasa hormat pada perbedaan

Anak melihat bahwa teman di kelas sebelah mendalami budaya yang berbeda, dengan makanan, bahasa, dan lagu yang berbeda, dan semuanya layak dirayakan.

Pengalaman berjualan dan melayani

Stand kuliner membuat anak menawarkan, menjelaskan, dan menghitung, bekal yang sama dengan yang mereka latih di Market Day dua pekan sekali.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan Festival Budaya diadakan?
Festival Budaya adalah agenda tahunan yang biasanya berlangsung di paruh pertama tahun ajaran, sekitar sepekan, dengan puncak bersamaan Progress Report. Tanggal pastinya disampaikan sekolah kepada orang tua tiap tahun.
Apakah orang tua wajib menyiapkan kostum?
Busana daerah umumnya disiapkan keluarga secara sederhana, misalnya batik yang sudah ada di rumah. Sekolah tidak meminta kostum mahal; yang penting anak nyaman dan budaya kelasnya tersampaikan.
Apakah semua jenjang ikut?
Ya. TK, SD, Sekolah Kemandirian, dan Sekolah Menengah masing-masing punya pertunjukan dan stand. Pengaturan untuk SABar Learning Centre di Cilacap dibicarakan sekolah dengan orang tua di unit tersebut.
Bolehkah keluarga di luar SABar datang?
Pada beberapa tahun, pertunjukan dan stand kuliner terbuka untuk pengunjung. Bila Ayah Bunda sedang mempertimbangkan SABar, hubungi admin SPMB SABar untuk mengetahui apakah tahun ini festival bisa dikunjungi.

Festival Budaya hanyalah salah satu pekan dalam setahun di SABar. Untuk melihat bagaimana pekan itu bersambung dengan Market Day, Family Camp, dan Progress Report, baca halaman kalender kegiatan. Dan bila Ayah Bunda ingin merasakannya langsung, berkunjunglah; admin SPMB SABar akan membantu mengatur waktunya.