Mengenal SABar
Setiap anak datang ke dunia membawa rasa ingin tahu, keinginan mencoba, dan kemampuan untuk tumbuh. Di SABar, itulah titik awal segalanya.
Ada banyak cara memperkenalkan sebuah sekolah: tahun berdiri, izin operasional, daftar fasilitas, deretan program. Kami memilih memulai dari tempat yang berbeda, yaitu dari anak Ayah Bunda sendiri.
Bayangkan anak itu di usia berapa pun ia sekarang. Ia pernah bertanya "kenapa" berkali-kali tanpa bosan. Ia pernah mencoba memanjat sesuatu yang terlalu tinggi, jatuh, lalu mencoba lagi. Ia pernah memaksa membawa seekor siput pulang ke rumah. Semua itu bukan kenakalan dan bukan pula gangguan. Itu fitrah: bekal bawaan yang membuat anak ingin tahu, ingin mencoba, dan ingin terhubung dengan dunia di sekitarnya.
Keyakinan dasar SABar sederhana: fitrah itu tidak perlu dibentuk ulang, melainkan dirawat. Potensi yang tersimpan di dalamnya tidak perlu dipaksa keluar, melainkan dinyalakan. Karena itu tagline yang kami pakai di buku pegangan orang tua TK berbunyi "Merawat Fitrah, Menyalakan Potensi". Kalimat itu bukan hiasan; ia menjadi ukuran untuk setiap kegiatan yang kami rancang.
"Anak adalah bintang yang memiliki cahayanya sendiri, bukan bulan yang hanya memantulkan cahaya orang tuanya." Pesan dari pimpinan SABar dalam rencana kerja sekolah.
Kalimat itu sering kami ulang di ruang fasilitator, dan kami ingin Ayah Bunda ikut memegangnya. Bintang tidak perlu dibandingkan dengan bintang lain. Ia hanya perlu langit yang cukup gelap dan tenang agar cahayanya terlihat.
Inilah alasan SABar tidak memeringkat anak. Tidak ada juara kelas, tidak ada urutan dari yang teratas sampai terbawah. Yang kami lakukan adalah mengamati tiap anak secara utuh: akhlaknya, cara berpikirnya, kemandiriannya, keberaniannya, minatnya, dan hubungannya dengan teman. Pengamatan itu kami tuliskan dalam Progress Report naratif dan kami bicarakan bersama orang tua tiap triwulan, bukan sebagai angka yang mengurutkan, melainkan sebagai cerita tentang perjalanan satu anak.
Slogan lulusan kami, "Discover the Great in You", bermakna serupa. Kehebatan itu sudah ada di dalam diri anak. Tugas sekolah bukan memasangnya dari luar, melainkan membantu anak menemukannya.
Jika fitrah anak adalah rasa ingin tahu dan keinginan mencoba, maka cara belajar yang paling cocok dengannya adalah mengalami langsung. Di SABar, alam di kaki Gunung Slamet adalah ruang kelas sehari-hari. Anak menanam dan memanen di raised bed, mengambil sampel air di curug, memasak hasil kebun, berjualan di Market Day, dan merapikan piringnya sendiri setelah makan siang.
Kurikulum khas sekolah alam yang kami pakai, Belajar Bersama Alam, berpegang pada empat prinsip: belajar yang menyenangkan, belajar yang memberi ruang kebebasan, belajar lewat percobaan, dan belajar dari pengalaman. Di baliknya ada empat pilar yang menjadi tulang punggung semua jenjang: akhlak, logika, kepemimpinan, dan bisnis. Semuanya berjalan beriringan dengan kurikulum nasional, sehingga anak tetap menempuh jenjang pendidikan yang diakui.
Yang berbeda adalah pengalamannya. Anak tidak hanya belajar tentang tanaman dari buku; ia belajar melalui tanaman yang ia rawat sendiri selama berpekan-pekan. Perbedaan kecil dalam kata itu membuat perbedaan besar dalam ingatan dan pemahaman.
Di SABar, orang dewasa yang menemani anak di kelas disebut fasilitator. Istilah ini kami pilih dengan sengaja. Fasilitator adalah teman perjalanan, mitra belajar, pemantik kebaikan, dan pengamat potensi. Ia tidak berdiri di depan untuk mengisi kepala anak, melainkan berjalan di samping untuk membantu anak menemukan sendiri.
Peran itu berlanjut ke rumah. Kami percaya sekolah tidak menggantikan orang tua. Karena itu ada Sekolah Orang Tua SABar (SOS) yang berkumpul secara rutin, ada Parent Day ketika orang tua menjadi sumber belajar di kelas, ada Family Camp, dan ada komunitas ayah bernama Tapake Ramane. Anak yang kami rawat di sekolah adalah anak yang sama yang Ayah Bunda rawat di rumah, dan perjalanan tumbuhnya akan lebih utuh bila keduanya saling menyambung.
Fitrah ada pada setiap anak, termasuk anak yang perkembangannya berbeda dari kebanyakan temannya. Sejak awal, SABar adalah sekolah inklusi: anak reguler dan anak berkebutuhan khusus belajar di lingkungan yang sama. Sebagian belajar bersama di kelas reguler dengan dukungan pendamping, sebagian lain didampingi lebih intensif di Sekolah Kemandirian atau SABar Learning Centre.
Pendekatan terapi kami, SaNGaT SABar (Special Needs Green Therapy), membawa terapi dari ruang berdinding putih ke ruang terbuka: taman sensori, kebun, dan kegiatan sehari-hari sekolah. Bentuk dukungan untuk tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah masa observasi, karena kebutuhan setiap anak memang berbeda.
Bagaimana SABar memandang anak, seperti apa keseharian di saung dan kebun, dan mengapa kemandirian dilatih dari hal-hal kecil.
Empat pilar, Belajar Bersama Alam, Al-Qur'an dengan metode Ummi, adventure, life skill, minat bakat, dan Market Day.
Jenjang mana yang cocok untuk anak Ayah Bunda, peran orang tua dalam ekosistem SABar, dan alur SPMB: datang, berbincang, lalu observasi.
Perkenalan ini baru pintu masuk. Kalau Ayah Bunda ingin melihat bagaimana fitrah anak dirawat di lapangan, datanglah berkunjung pada hari sekolah, duduk sebentar di saung, dan berbincang dengan fasilitator kami. Admin SPMB SABar akan membantu mengatur waktunya.