Dibandingkan dengan...
Project-based learning, student agency, deep learning, pendidikan karakter: istilah-istilah ini datang dan pergi di brosur sekolah. Di balik semuanya ada satu arah yang sama, yaitu kembali kepada pengalaman nyata, dan sekolah alam sudah lama ada di sana.
Jika Ayah Bunda membaca profil sekolah-sekolah beberapa tahun terakhir, ada deretan istilah yang terus muncul: project-based learning, inquiry, student agency, deep learning, growth mindset, social-emotional learning, pendidikan karakter, kemandirian. Di kurikulum nasional sendiri kini ada pembelajaran mendalam, kegiatan kokurikuler yang kolaboratif lintas disiplin, dan delapan dimensi profil lulusan yang memuat kemandirian, kolaborasi, kreativitas, dan penalaran kritis.
Kalau diperhatikan, semua istilah itu menunjuk ke arah yang sama. Anak sebaiknya tidak hanya duduk mendengar, tetapi mengalami. Anak sebaiknya punya ruang memilih dan memutuskan. Belajar sebaiknya menghasilkan sesuatu yang nyata, bukan hanya nilai. Karakter sebaiknya dibentuk lewat praktik, bukan hafalan. Dunia pendidikan, dengan berbagai bahasa, sedang kembali ke pengalaman nyata.
Kami memahami rasa takut tertinggal yang muncul saat membaca istilah-istilah itu. Namun SABar memilih tidak mengganti nama kurikulumnya setiap kali ada istilah baru yang ramai. Alasannya bukan karena anti pembaruan, melainkan karena empat prinsip Belajar Bersama Alam yang menjadi dasar praktik di SABar, yaitu fun learning, free learning, experimental learning, dan experiential learning, sudah berbicara tentang hal yang sama. Free learning adalah ruang agar anak punya pilihan dan suara. Experimental dan experiential learning adalah pengalaman nyata dan proyek. Fun learning adalah pengakuan bahwa anak yang merasa aman dan gembira lebih mudah belajar.
Daripada mengklaim "SABar sudah menerapkan semua tren itu", kami lebih suka menunjukkan praktiknya dan membiarkan Ayah Bunda menilai sendiri apakah praktik itu sesuai dengan yang dicari. Berikut beberapa contohnya.
Di SD, rencana belajar bergerak dari pengalaman, pertanyaan, pencarian data, hingga inovasi dan solusi, misalnya memperbaiki cara menyiram tanaman dengan irigasi tetes dari botol bekas. Di Sekolah Menengah, project-based learning masuk daftar kegiatan utama, dan proyeknya berjenjang dari pertunjukan, pameran, sampai menjadi penyelenggara acara. Di TK, cerita orisinil karya anak dan fasilitator dibukukan tiap triwulan.
Kesepakatan kelas di PKBM disusun bersama murid, bukan diturunkan dari atas. Di raised bed, tiap anak merawat tanaman pilihannya sendiri. Di Market Day, anak menentukan apa yang dibuat dan bagaimana menawarkannya. Pitching Business dan pitching project memberi anak panggung untuk menyampaikan gagasannya kepada orang dewasa.
Akhlak dan leadership tidak diajarkan sebagai topik, tetapi dilatih dalam kegiatan harian: salim, antre, piket, mencuci piring sendiri, menyiapkan perlengkapan sendiri, dan outbound dengan satu nilai tiap pekan.
Ada satu hal yang membedakan pengalaman nyata di sekolah alam dari "pengalaman nyata" yang dirancang di dalam kelas: ia sungguh-sungguh nyata. Kangkung yang tidak disiram benar-benar layu. Air curug yang diambil sampelnya benar-benar dingin. Pembeli di Market Day benar-benar bisa menolak. Gua yang dijelajahi Sobat SM benar-benar gelap, dan dari sana mereka belajar karst, estimasi jarak, laporan observasi, manajemen risiko, dan tadabbur sekaligus.
Pengalaman seperti ini tidak selalu rapi. Kadang hujan, kadang gagal, kadang anak pulang dengan baju kotor. Justru di situlah nilai belajarnya: anak berhadapan dengan dunia sebagaimana adanya, dengan fasilitator yang mendampingi, dan dengan kesempatan mencoba lagi.
Kalau tren pendidikan modern dirangkum dalam satu kalimat, mungkin bunyinya: anak perlu berpindah dari belajar tentang sesuatu ke belajar melalui sesuatu. Belajar tentang air dari buku berbeda dengan belajar melalui air yang ia angkut dalam ember. Belajar tentang tanggung jawab berbeda dengan belajar melalui tanaman yang bergantung pada ingatannya untuk menyiram. SABar tidak menemukan gagasan ini, dan tidak mengklaimnya. Kami hanya menjalankannya setiap hari, di kaki Gunung Slamet, bersama anak-anak yang sepatu botnya berlumpur.
Istilah bisa dibaca di mana saja; praktik hanya bisa dilihat di tempatnya. Ayah Bunda kami undang untuk datang, mengikuti satu hari belajar di SABar, lalu memutuskan sendiri apakah ini pengalaman nyata yang Ayah Bunda inginkan untuk anak.