Minat, Bakat & Masa Remaja

Learn to Maestro

Ada hal yang tidak bisa dipelajari dari buku: cara tangan seorang pembuat es mengaduk adonannya, atau cara seorang penulis menjawab pertanyaan "kenapa Bapak mau repot-repot menerjemahkan naskah tua?". Di SABar, anak datang langsung kepada orangnya.

Sobat SM belajar langsung dari seorang maestro

Ilmu yang punya wajah

Anak-anak bisa membaca tentang sejarah Banyumas di buku. Tetapi ketika mereka duduk di hadapan seorang penulis buku anak yang juga menerjemahkan Babad Banyumas, lalu mendengar bagaimana ia menelusuri naskah lama dan memilih kata demi kata, sejarah itu tiba-tiba punya wajah. Pertanyaan yang muncul pun berbeda: bukan lagi "kapan peristiwa itu terjadi", melainkan "bagaimana Bapak tahu ini benar?".

Itulah inti Learn to Maestro. Maestro di sini bukan berarti orang terkenal, melainkan orang yang sungguh-sungguh berkarya di bidangnya dan bersedia membuka dapur kerjanya untuk anak-anak. Bisa pegiat sejarah, pelaku usaha, petani, pengrajin, seniman, atau tenaga ahli yang kebetulan berkunjung ke SABar.

Di SABar, Learn to Maestro disebut sebagai salah satu metode untuk menumbuhkan mental bisnis, bersama magang. Pertemuan dengan orang yang menekuni bidangnya bertahun-tahun memberi anak gambaran nyata: bahwa karya lahir dari ketekunan, kegagalan yang diulang, dan cinta pada pekerjaan.

Bagaimana pertemuan itu berlangsung

Bentuknya tidak selalu sama. Kadang maestro datang ke sekolah, kadang anak-anak yang berangkat ke tempat sang maestro bekerja. Yang dijaga adalah tiga hal: anak melihat karya yang sedang dikerjakan, anak boleh bertanya apa saja, dan sedapat mungkin anak ikut mencoba dengan tangannya sendiri.

  1. Mengenal lebih dulu — Sebelum bertemu, anak diajak mempelajari bidang sang maestro dan menyiapkan pertanyaan yang benar-benar ingin mereka tahu.
  2. Bertemu dan menyaksikan — Anak mengamati proses kerja secara langsung, dari bahan mentah sampai jadi, termasuk bagian yang biasanya tersembunyi dari pembeli.
  3. Mencoba — Sedapat mungkin anak mencoba sendiri, meski hasilnya masih jauh dari sang maestro.
  4. Merefleksikan — Kembali ke sekolah, anak menceritakan dan menuliskan apa yang ia pelajari, dan hasilnya masuk ke portofolio.

Sesudah pertemuan, biasanya ada anak yang pulang dengan rencana. Ada yang ingin mencoba resepnya di Market Day berikutnya, ada yang mulai menulis cerita sendiri, ada yang tiba-tiba bertanya tentang magang.

Dari TK sampai remaja

Learn to Maestro tidak menunggu anak besar. Di TK, Mercury Class dan Venus Class mengenalnya sebagai Learn From Maestro: Sobat Kecil bertemu orang-orang yang bekerja di sekitar mereka, misalnya saat outing ke balai desa, pemadam kebakaran, atau pasar. Parent Day pun menjadi bentuk sederhananya: Ayah Bunda datang sebagai guru tamu dan bercerita tentang pekerjaannya.

Di Sekolah Kemandirian, Sobat Kemandirian pernah belajar langsung di sebuah usaha es, mengenal proses membuat dan menjual dari dekat dengan pendampingan fasilitator. Di jenjang Sekolah Menengah, Learn to Maestro menjadi agenda yang dirancang sungguh-sungguh: Sobat SM menjelajah Bale Babad Banyumas, berdialog dengan penerjemah Babad Banyumas, dan mengunjungi Bendungan Gerak Serayu untuk belajar dari orang-orang yang mengelolanya.

JenjangBentuk Learn to MaestroYang ditumbuhkan
TK (Mercury & Venus Class)Learn From Maestro saat outing, Parent DayRasa ingin tahu, keberanian bertanya
SD (Earth sampai Neptune Class)Kunjungan belajar, narasumber tamu, mentoring farming dan bisnisMengenal proses kerja dari hulu ke hilir
Sekolah Kemandirian & SLCKunjungan ke usaha setempat dengan pendampinganKemandirian, pengenalan kerja
SM (Milky Way & Andromeda Class)Eksplorasi dan dialog dengan pegiat sejarah, pelaku usaha, pengelolaArah minat, mental bisnis, bahan project

Mengapa bukan sekadar kunjungan

Kunjungan biasa sering berhenti pada foto bersama. Learn to Maestro ingin lebih jauh dari itu. Pertanyaan yang disiapkan, kesempatan mencoba, dan refleksi sesudahnya membuat anak pulang dengan sesuatu yang bisa ia kerjakan, bukan hanya cerita.

Bagi remaja, pertemuan ini juga menjadi bagian dari cara menemukan arah. Setelah berbincang dengan beberapa maestro di bidang yang berbeda, Sobat SM biasanya mulai tahu bidang mana yang membuatnya ingin kembali, dan itu menjadi pertimbangan saat memilih tempat magang.

Siapa saja maestronya

SABar tidak punya daftar maestro yang tetap. Siapa yang ditemui anak-anak menyesuaikan tema belajar, jenjang, dan kesempatan yang ada pada tahun itu. Jejaring SABar dengan perguruan tinggi, komunitas, dan orang tua murid sering membuka pintu ke orang-orang yang tak terduga. Informasi awal tentang sebuah kunjungan bahkan pernah datang dari orang tua murid sendiri.

Kalau Ayah Bunda atau kerabat Ayah Bunda menekuni suatu bidang dan ingin berbagi kepada anak-anak, SABar dengan senang hati menyambutnya. Pintu Parent Day dan Learn to Maestro terbuka untuk itu.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah Learn to Maestro hanya untuk murid Sekolah Menengah?
Tidak. Bentuk sederhananya sudah dikenalkan sejak TK sebagai Learn From Maestro, dan dijalankan juga di Sekolah Kemandirian dengan pendampingan. Di jenjang SM, bentuknya paling terstruktur.
Siapa yang menentukan maestronya?
Fasilitator bersama sekolah, menyesuaikan tema belajar dan jenjang. Orang tua murid dan jejaring SABar sering menjadi penghubung.
Apakah orang tua bisa menjadi maestro?
Bisa, melalui Parent Day atau Learn to Maestro. Sampaikan saja kepada fasilitator bidang yang Ayah Bunda tekuni.
Apakah ada biaya tambahan untuk kegiatan ini?
Ketentuan tiap kegiatan disampaikan sekolah kepada orang tua di awal tahun ajaran atau menjelang kegiatan. Untuk rinciannya, silakan berbincang dengan sekolah.

Ingin tahu siapa saja yang pernah ditemui Sobat SABar dan apa yang mereka bawa pulang? Ayah Bunda bisa berkunjung ke sekolah dan berbincang dengan admin SPMB SABar, atau membaca bagaimana magang melanjutkan pertemuan ini ke dunia kerja.