Al-Qur'an & Penilaian
Para pendiri SABar meninggalkan pesan yang sampai hari ini menjadi pegangan: apa pun kegiatannya, akhlak sebagai pijakannya. Kalimat itu tidak dipasang di dinding saja; ia dijalani di pagi hari, di meja makan, dan di kebun.
Di banyak tempat, nilai agama hidup di satu jam pelajaran, lalu selesai ketika bel berbunyi. SABar memilih cara lain. Akhlak adalah pilar pertama dari empat pilar sekolah alam, dan posisinya sebagai pilar pertama bukan kebetulan. Logika, leadership, dan bisnis dibangun di atasnya.
Artinya, sains dipelajari dengan rasa takjub pada Sang Pencipta. Leadership dilatih dengan adab kepada teman yang lebih lemah. Bisnis dijalankan dengan kejujuran kepada pembeli. Ketika akhlak menjadi pijakan, tidak ada kegiatan yang netral: memanjat, berjualan, atau menanam sama-sama menjadi kesempatan untuk berlatih bersikap.
Kurikulum sekolah alam merumuskan metodenya dengan satu kata: teladan. Akhlak tidak diceramahkan; ia dicontohkan oleh fasilitator, lalu dibiasakan oleh anak sampai menjadi miliknya sendiri.
Akhlak di SABar dimulai dari hal yang bisa dilakukan anak berusia tiga setengah tahun. Turun dari kendaraan, salim kepada fasilitator, mengucap salam. Berbaris dan antre saat mencuci tangan. Mengucapkan empat kata ajaib: maaf, permisi, tolong, terima kasih. Duduk saat makan, berdoa sebelum dan sesudahnya, menghabiskan makanan, lalu mencuci piring sendiri.
Hal-hal ini masuk dalam domain pertama Progress Report TK, yang menggabungkan akhlak, leadership, dan ibadah. Yang dicatat fasilitator bukan nilai angka, melainkan apakah anak sudah terbiasa, masih perlu diingatkan, atau baru mulai mencoba.
Salim, senyum, salam, antre, meminta maaf dan memaafkan, berbagi mainan dan makanan, berkata jujur.
Mengurus barang sendiri, menjaga kebersihan tubuh, menutup aurat, mengendalikan marah.
Membuang sampah pada tempatnya, memilah organik dan anorganik, merawat tanaman, tidak menyakiti hewan.
Di TK, setiap pekan Sobat Kecil mengenal satu hadits pendek yang bergantian setiap beberapa pekan: menyebarkan salam, kasih sayang, jangan marah, menutup aurat, kebersihan, sesama muslim bersaudara, senyum itu sedekah, adab makan, keutamaan doa. Hadits itu tidak berhenti sebagai hafalan. Pekan dengan hadits "senyum itu sedekah" akan diisi fasilitator dengan pertanyaan sederhana: sudahkah kamu tersenyum kepada temanmu hari ini?
Pertanyaan yang sama muncul lagi di worksheet SD: "Sudahkah kamu tersenyum kepada teman dan fasilitatormu hari ini?" Di SD pula, setiap pekan dibuka dengan ayat inspirasi yang menjadi benang merah tema. Ketika anak menanam kangkung, ayat tentang tanggung jawab manusia atas bumi tidak lagi abstrak; ia ada di tangan yang sedang menggali lubang tanam.
Untuk Sobat SM, akhlak mengambil bentuk yang lebih dewasa lewat kurikulum aqil baligh. Remaja diajak memahami pengendalian diri, termasuk melalui puasa, dan belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Di sinilah peran orang tua sangat terasa: keteladanan di rumah dan di sekolah harus searah.
Akhlak sosial dilatih lewat kegiatan nyata. Safari Ramadhan membawa Sobat SM ke masjid-masjid yang berbeda di Purwokerto untuk berlatih ibadah, murojaah, dan filantropi. Ada pula kegiatan berbagi yang digagas murid sendiri untuk anak-anak di desa sekitar sekolah. Pada titik ini, akhlak bukan lagi sesuatu yang dicontohkan fasilitator, melainkan sesuatu yang dipilih anak.
Target sekolah untuk akhlak sederhana namun berat: anak menjadi kuat dalam pendirian. Bukan sekadar sopan ketika dilihat, tetapi jujur ketika tidak ada yang melihat.
Akhlak tidak bisa dibangun oleh sekolah sendirian. Anak yang terbiasa mencuci piring di sekolah akan bingung jika di rumah piringnya selalu "hilang sendiri". Karena itu SABar menempatkan orang tua sebagai mitra: lewat Sekolah Orang Tua (SOS), Progress Report tiap triwulan, dan percakapan sehari-hari dengan fasilitator.
Yang diminta dari Ayah Bunda bukan hal besar: menjaga kebiasaan yang sama di rumah, menjadi teladan dalam hal kecil, dan bersabar ketika anak belum konsisten. Akhlak, seperti tanaman di raised bed, tidak tumbuh terburu-buru; semuanya mekar pada waktunya.
Cara paling sederhana memahami akhlak sebagai pijakan adalah melihat jam makan siang di SABar: anak-anak antre, berdoa, makan, dan mencuci piringnya sendiri. Ayah Bunda bisa menyaksikannya langsung saat berkunjung dan berbincang dengan admin SPMB SABar.