Cara Belajar › Filosofi

SABar sebagai Wellbeing School

Anak yang merasa aman lebih berani mencoba. Anak yang merasa diterima lebih mudah belajar. Dari dua kalimat sederhana itulah tagline "SABar School It's a Wellbeing School" berangkat.

Circle time di bawah pohon di Sekolah Alam Baturraden

Istilah Inggris yang perlu dijelaskan

Sejak Tahun Ajaran 2025/2026, Sekolah Alam Baturraden (SABar) menegaskan dirinya dengan tagline "SABar School It's a Wellbeing School". Kami sadar istilah ini bisa terdengar seperti jargon, jadi mari diterjemahkan ke dalam bahasa orang tua.

Wellbeing, dalam pengertian SABar, adalah keadaan ketika anak merasa aman, diterima apa adanya, sehat badannya, terhubung dengan orang-orang di sekitarnya, berkembang sesuai temponya, dan punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Enam hal itu bukan tujuan yang dicapai setelah pelajaran selesai. Ia adalah syarat agar pelajaran bisa masuk. Anak yang takut, yang merasa tidak diinginkan, atau yang kelelahan tidak akan belajar banyak, sepintar apa pun materinya.

Prinsip ini tidak berhenti di spanduk. Ia tertulis dalam misi pertama sekolah: menyelenggarakan pendidikan inklusif dengan prinsip wellbeing school.

Enam wajah wellbeing di keseharian

Aman

Setiap pagi anak disambut satu per satu, dipanggil namanya, dan tahu persis di mana ia menaruh tas dan sepatunya. Aturan kelas disepakati bersama anak, bukan hanya ditempel di dinding. Ada SOP penanganan perundungan, dan sekolah terbuka mengakui bahwa menjaga kekompakan dan mencegah perundungan adalah pekerjaan yang terus dilakukan, bukan yang sudah selesai.

Diterima

Anak yang pendiam, anak yang tidak bisa diam, anak yang hafalannya cepat, anak yang berkebutuhan khusus: semua punya tempat di lingkaran yang sama. Tidak ada ranking, karena tidak ada yang perlu dibandingkan.

Sehat

Hari di SABar penuh gerak: senam, outbound, berenang, trekking, farming, memanjat. Makan siang dari katering SABar sendiri dengan menu berganti, dan bekal camilan dari rumah tanpa kantin yang menjual jajanan kemasan.

Terhubung

Circle time setiap pagi, kerja kelompok di kebun, Market Day yang mempertemukan kelas-kelas, dan Family Day yang mempertemukan keluarga-keluarga. Anak belajar bahwa ia bagian dari sesuatu.

Berkembang

Setiap anak punya target perkembangan sesuai usianya, dicatat dalam portofolio, dan dibicarakan tiap triwulan dalam Progress Report. Kemajuan diukur dari anak itu sendiri.

Menjadi diri sendiri

Pengalaman yang beragam memberi anak kesempatan menemukan di mana ia paling hidup, dan fasilitator menjaga agar ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain untuk diterima.

Perasaan juga dipelajari, bukan hanya diurus

Di SABar, emosi anak diperlakukan sebagai bagian dari pelajaran. Circle time pagi dimulai dengan menanyakan kabar dan perasaan, dan itu bukan basa-basi. Dalam pendekatan SaNGaT SABar untuk anak berkebutuhan khusus, ada circle time di bawah pohon dengan "batu emosi" yang membantu anak menamai apa yang ia rasakan sebelum diminta melakukan apa pun. Cara serupa, dalam bentuk yang berbeda, hidup di kelas-kelas lain: anak diajak merefleksikan hari di penutup kegiatan, dan pembiasaan akhlak di TK mencakup berani mengungkapkan keinginan, mau meminta maaf, dan memaafkan.

Bagi orang tua, SABar menyediakan Psychology Class yang dipandu psikolog sekolah, serta sesi Sekolah Orang Tua yang membahas tumbuh kembang, aqil baligh remaja, dan komunikasi keluarga. Wellbeing anak tidak bisa dipisahkan dari wellbeing rumahnya.

Ketika ada masalah

Sekolah yang menjaga wellbeing bukan sekolah tanpa masalah; ia adalah sekolah yang tahu harus berbuat apa saat masalah datang. Di SABar, alur komunikasinya jelas: orang tua berbicara dengan fasilitator lebih dulu, lalu kepala sekolah, lalu pengelola bila diperlukan. Untuk anak berkebutuhan khusus, laporan orang tua dan berita acara kejadian khusus ditindaklanjuti lewat musyawarah tatap muka dalam hitungan hari kerja, bukan dibiarkan menggantung.

Pendamping dan fasilitator dilatih untuk berbicara lembut, jelas, dan tegas tanpa meledek anak. Komunikasi dengan orang tua dibiasakan dimulai dari berita baik, lalu tantangan, lalu saran untuk di rumah, dengan kata "kita", bukan "anak Ibu".

SABar tidak menjanjikan sekolah bebas konflik. Yang dijanjikan adalah orang dewasa yang hadir, alur yang jelas, dan kesediaan untuk duduk bersama orang tua ketika sesuatu terjadi.

Wellbeing fasilitator juga dijaga

Anak tidak bisa merasa aman di dekat orang dewasa yang kelelahan dan tidak didukung. Karena itu fokus tahun ajaran ini juga mencakup pelatihan fasilitator: upgrading rutin, teaching clinic, sesi berbagi, outbound fasilitator tiap triwulan, dan Jambore Fasilitator Sekolah Alam. Fasilitator yang terus belajar dan merasa dihargai lebih mampu menemani anak dengan sabar, sesuai nama sekolah ini.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah wellbeing school berarti anak tidak dituntut apa pun?
Bukan. Anak tetap punya target belajar, kesepakatan kelas, dan tanggung jawab harian seperti mencuci piringnya sendiri. Wellbeing adalah fondasinya, agar tuntutan itu bisa dipikul tanpa rasa takut.
Bagaimana SABar menangani perundungan?
Ada SOP penanganan perundungan, kesepakatan kelas yang dibuat bersama murid, dan alur komunikasi orang tua ke fasilitator lalu kepala sekolah. Untuk rinciannya, Ayah Bunda bisa bertanya langsung saat berkunjung.
Apakah ada psikolog di SABar?
Ada Psychology Class untuk orang tua yang dipandu psikolog sekolah, dan pendekatan SaNGaT SABar melibatkan terapis profesional. Bentuk dukungan untuk tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah observasi.
Apakah tagline ini mengganti "Merawat Fitrah, Menyalakan Potensi"?
Tidak. Keduanya saling melengkapi: fitrah hanya bisa dirawat di lingkungan yang menjaga wellbeing anak.

Rasa aman sulit dijelaskan, tetapi mudah dirasakan. Ayah Bunda boleh datang di hari biasa, mengamati bagaimana anak-anak disambut dan bagaimana fasilitator bicara dengan mereka, lalu menilai sendiri. Admin SPMB SABar siap membantu mengatur waktunya.