Entrepreneurship
Ketika mendengar "pilar bisnis", sebagian orang tua membayangkan anaknya dicetak menjadi pedagang. Yang sebenarnya ingin kami tumbuhkan jauh lebih luas dari itu.
Sekolah alam berdiri di atas empat pilar: akhlak, logika, kepemimpinan, dan bisnis. Tiga yang pertama jarang dipertanyakan. Pilar keempatlah yang sering membuat orang tua mengernyit: mengapa anak kecil diajari bisnis? Apakah sekolah ingin anak-anak sibuk mencari uang?
Jawabannya: pilar bisnis di SABar adalah pendidikan produktivitas, kreativitas, dan tanggung jawab. Kata "bisnis" dipakai karena bisnis adalah wadah paling nyata untuk melatih semua itu sekaligus. Seorang anak yang membuat sesuatu, menawarkannya, dan mempertanggungjawabkan hasilnya sedang berlatih menjadi orang yang produktif, apa pun profesinya kelak: dokter, petani, guru, seniman, atau memang pengusaha.
Visi SABar menyebut lulusan yang berkecakapan hidup, dan tujuan sekolah menyebut lulusan yang berjiwa pemimpin dan berjiwa bisnis. Berjiwa bisnis di sini berarti mampu menghasilkan nilai bagi orang lain, bukan sekadar mampu menjual.
Kalau jualan hanyalah wadahnya, apa isinya? Setidaknya lima hal berikut, dan semuanya berguna jauh di luar meja dagang.
Rasa memiliki atas pekerjaannya sendiri. Anak yang merasa "ini punyaku" akan menyelesaikan, bukan sekadar mengerjakan.
Mencari cara baru ketika cara lama tidak berhasil: mengganti bahan, mengubah bungkus, memikirkan produk yang belum ada.
Menghadapi masalah nyata: bahan habis, harga bahan naik, dagangan tidak laku, teman satu kelompok tidak datang.
Menjelaskan gagasan, menawarkan, mendengar keluhan, dan bernegosiasi dengan orang yang pendapatnya berbeda.
Memahami bahwa orang membayar untuk sesuatu yang bermanfaat baginya, sehingga pertanyaannya selalu "apa yang kubuat ini berguna untuk siapa?".
Tidak satu pun dari lima hal itu khusus untuk pedagang. Semuanya adalah bekal untuk hidup produktif di bidang apa pun.
Pilar bisnis dilatih secara bertahap, dengan wadah yang berbeda di tiap jenjang. Sobat Kecil di TK mengenalnya lewat bermain peran jual beli, fun cooking, dan Market Day. Di SD, Market Day berlanjut dan anak kelas atas mendapat mentoring bisnis. Di Sekolah Menengah, ada Business Mentoring, business plan, marketing dan branding, studi kelayakan usaha, Pitching Business Exhibition, Learn to Maestro, dan magang.
Dua metode yang secara khusus disebut SABar untuk menumbuhkan mental bisnis adalah magang dan Learn to Maestro. Keduanya membawa anak keluar dari simulasi: bertemu orang yang sungguh-sungguh berkarya dan merasakan bekerja untuk orang lain. Di sanalah ownership, problem solving, dan komunikasi diuji dalam situasi yang tidak bisa diatur sekolah.
| Yang dilatih | Contoh di SABar |
|---|---|
| Ownership | Anak menyiapkan sendiri dagangannya dari rumah dan menanggung hasilnya |
| Kreativitas | Tema Market Day yang berganti memaksa anak memikirkan produk baru tiap giliran |
| Problem solving | Business plan Sobat SM yang direvisi setelah uji penjualan |
| Komunikasi | Pitching Business Exhibition di hadapan orang tua dan fasilitator |
| Value creation | Project sosial dan produk dari hasil kebun yang berguna bagi orang lain |
Supaya tidak salah paham, ada baiknya menyebut yang bukan tujuan. SABar tidak mengukur keberhasilan pilar bisnis dari uang yang dihasilkan anak. SABar tidak mendorong anak berjualan di luar kegiatan belajar. SABar tidak menjanjikan semua lulusannya menjadi pengusaha, dan tidak menganggap profesi pengusaha lebih tinggi dari profesi lain.
Yang diinginkan sederhana: anak yang tidak takut memulai sesuatu, mampu menyelesaikan, dan memikirkan manfaatnya bagi orang lain. Anak seperti ini akan menjadi karyawan yang baik, pemimpin yang baik, atau pengusaha yang baik, tergantung jalan yang ia pilih kelak.
Ada yang bertanya, mengapa tidak menunggu anak besar? Karena yang dibangun adalah kebiasaan, dan kebiasaan paling mudah tumbuh ketika risikonya masih kecil. Dagangan tidak laku di Market Day TK hanya berarti ubi rebus dibawa pulang. Gagal yang sama di usia dewasa bisa berarti kehilangan pekerjaan. Lebih baik anak belajar bangkit ketika jatuhnya masih rendah.
Pilar bisnis pun tidak berdiri sendiri. Ia berpijak pada akhlak: jujur saat menimbang, tidak melebih-lebihkan saat menawarkan, menepati janji kepada pembeli. Ia memakai logika: menghitung modal, membaca mana yang laku. Dan ia melatih kepemimpinan: membagi peran, mengambil keputusan, menanggung hasil. Entrepreneurship di SABar adalah tempat keempat pilar bertemu dalam satu pengalaman nyata.
Kalau Ayah Bunda masih ragu dengan kata "bisnis" di sekolah anak, cara paling jujur untuk menilainya adalah melihat sendiri: datang saat Market Day, atau berbincang dengan admin SPMB SABar tentang bagaimana pilar ini dijalani di jenjang yang Ayah Bunda tuju.