Dibandingkan dengan...
Ayah Bunda mungkin pernah membaca lima kata yang sering dipakai sekolah bertaraf internasional: confident, responsible, reflective, innovative, engaged. SABar bukan sekolah Cambridge, tetapi lima kata itu ternyata mudah dikenali dalam keseharian Sobat SABar.
Saat memilih sekolah, orang tua hari ini dihadapkan pada banyak nama: Cambridge, Montessori, Kurikulum Merdeka, project-based learning. Nama-nama itu sering memicu rasa takut tertinggal: "kalau anak saya tidak di sekolah Cambridge, apakah dia kalah bersaing?"
Halaman ini tidak dibuat untuk mengatakan sekolah alam lebih baik dari Cambridge, atau sebaliknya. Keduanya berangkat dari sejarah dan konteks yang berbeda. Cambridge adalah kurikulum internasional dengan silabus, buku, dan ujian berjenjang yang diakui lintas negara. Sekolah alam lahir di Indonesia sebagai gerakan yang menjadikan alam, kehidupan nyata, dan akhlak sebagai pusat belajar. SABar School berjalan di jalur yang kedua, dengan kurikulum nasional sebagai pijakan formalnya.
Yang menarik adalah ketika kita berhenti membandingkan label dan mulai membandingkan kualitas manusia yang ingin ditumbuhkan. Di situlah dua pendekatan ini ternyata banyak bertemu.
Cambridge merumuskan lima sifat yang ingin ditumbuhkan pada pelajarnya: percaya diri (confident), bertanggung jawab (responsible), reflektif (reflective), inovatif (innovative), dan terlibat (engaged). Rumusan ini bukan milik SABar, dan kami tidak mengklaimnya. Namun bila Ayah Bunda berkunjung dan mengamati satu hari di SABar, lima sifat itu akan terlihat dalam bentuk yang sangat konkret.
| Kualitas | Dalam bahasa Cambridge | Yang dialami Sobat SABar |
|---|---|---|
| Percaya diri | Berani mengemukakan pendapat dan menghadapi tantangan | Pitching Business dan Pitching Project di hadapan orang tua; Pentas Khitobah di SD; outbound dengan tantangan bertahap |
| Bertanggung jawab | Peduli pada diri, orang lain, dan lingkungan | Mencuci piring sendiri, merawat tanaman di raised bed, Infaq Sampah, kesepakatan kelas yang dibuat bersama |
| Reflektif | Mampu menilai cara belajarnya sendiri | Refleksi di penutup kelas setiap hari; pertanyaan afektif di worksheet; portofolio pengembangan diri di SM |
| Inovatif | Mencari solusi baru untuk masalah nyata | Irigasi tetes dari botol bekas; karya dari barang bekas untuk dilelang; tema Market Day yang berganti-ganti |
| Terlibat | Ingin tahu dan siap membuat perbedaan | Belajar dari masyarakat lewat live-in; magang; Learn to Maestro bersama orang yang berkarya di bidangnya |
Jika Cambridge berangkat dari daftar sifat pelajar, SABar berangkat dari empat pilar sekolah alam: akhlak, logika, leadership, dan bisnis. Pilar inilah yang mengatur pengalaman apa yang dialami anak setiap pekan.
Pilar logika di SABar berorientasi pada kemampuan bernalar yang juga menjadi perhatian penilaian internasional seperti PISA: matematika, sains, dan membaca. Namun jalan masuknya bukan lembar latihan semata. Di kelas Jupiter, misalnya, anak menghitung perkalian dan pembagian dalam pekan yang sama ketika mereka menyetek tanaman dan membuat irigasi tetes. Di Sekolah Menengah, murid memperkirakan kedalaman dan jarak saat menelusuri gua, lalu menuliskannya sebagai laporan observasi.
Pilar leadership dilatih lewat outbound dan green therapy, bukan lewat jabatan ketua kelas. Pilar bisnis menumbuhkan productive mindset lewat magang dan Learn to Maestro. Dengan cara ini, "percaya diri" dan "bertanggung jawab" bukan sifat yang diajarkan, melainkan hasil samping dari pengalaman yang diulang.
Kejujuran penting di halaman ini. Cambridge menawarkan sertifikasi internasional, silabus berbahasa Inggris penuh, dan jalur ujian yang dikenal perguruan tinggi di banyak negara. SABar tidak menawarkan itu. Ijazah dan rapor Sobat SABar mengikuti jalur nasional: TK dan SD formal di bawah Dinas Pendidikan, serta Paket B dan Paket C melalui PKBM Alam Purwokerto untuk jenjang menengah.
Bahasa Inggris di SABar dibiasakan sejak TK lewat kosakata tematik mingguan dan dikuatkan dengan program bahasa Inggris setiap hari Sabtu. Namun bahasa pengantar sehari-hari tetap bahasa Indonesia, ditambah basa Jawa yang sengaja dirawat sebagai kearifan lokal. Bagi keluarga yang membutuhkan jalur sertifikasi internasional secara khusus, SABar mungkin bukan jawabannya, dan kami lebih suka mengatakannya di awal.
Yang bisa kami janjikan bukan nama kurikulum, melainkan pengalaman: anak yang terbiasa bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu menceritakan prosesnya kepada orang lain.
Irisan dengan "cara berpikir Cambridge" paling terasa di Sekolah Menengah. Standar empat pilar untuk Sobat SM mencakup buku portofolio pengembangan diri, kemampuan mempresentasikan diri, proyek kolaborasi, riset sederhana, dan memahami ayat kauniyah, yaitu membaca tanda-tanda Allah di alam.
Perjalanannya bertahap. Proyek dimulai dari pertunjukan, berkembang menjadi pameran atau expo, lalu menjadi pengelolaan acara. Bisnis bergerak dari menyusun business plan dan berjualan, ke marketing dan branding, hingga studi kelayakan usaha. Live-in melebar dari luar kabupaten, ke luar provinsi, hingga luar pulau atau luar negeri. Setiap tahap menuntut anak berpikir lebih jauh, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkannya di depan orang lain.
Inilah yang kami maksud "bertemu pada cara berpikir": bukan karena SABar mengadopsi Cambridge, melainkan karena pendidikan yang baik, dari mana pun asalnya, akhirnya menuju manusia yang sama: yang berani, bertanggung jawab, dan terus belajar.
Cara paling jujur untuk membandingkan adalah melihat sendiri. Ayah Bunda bisa datang, berbincang dengan admin SPMB SABar, dan mengamati bagaimana Sobat SABar belajar berpikir lewat tangan, kaki, dan percakapan mereka sendiri.