Bersama Orang Tua
Anak menghabiskan sebagian harinya di sekolah, tetapi rumah tetap sekolah pertamanya. Di SABar, Ayah Bunda adalah mitra yang ikut belajar, bukan penonton di pinggir lapangan.
Sekolah Alam Baturraden (SABar) berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak lahir dengan fitrah yang baik, dan tugas orang dewasa di sekitarnya adalah merawat fitrah itu agar potensinya menyala. Orang dewasa yang paling dekat dengan anak bukan fasilitator, melainkan Ayah Bunda. Karena itu, SABar tidak pernah membayangkan dirinya sebagai pengganti keluarga. Yang kami tawarkan adalah kemitraan: apa yang dilatih di sekolah akan jauh lebih kuat bila disambung di rumah, dan sebaliknya.
Kemitraan ini terlihat dalam hal-hal kecil. Anak yang belajar mencuci piringnya sendiri di sekolah akan menganggapnya biasa kalau di rumah ia juga diberi kesempatan yang sama. Anak yang dibiasakan mengucap maaf, permisi, tolong, dan terima kasih di lingkaran pagi akan lebih mantap bila kata-kata itu juga hidup di meja makan keluarga. Bagi anak berkebutuhan khusus, kemitraan ini bahkan menjadi prinsip utama: dukungan berjalan sepanjang hari, bukan hanya pada jam sekolah, sehingga rumah dan sekolah perlu bergerak searah.
SABar menyediakan beberapa pintu bagi Ayah Bunda untuk ikut serta, dan tidak semuanya menuntut waktu yang sama. Ada yang berupa pertemuan rutin seperti Sekolah Orang Tua (SOS), ada yang berupa percakapan tentang anak dalam Progress Report tiap triwulan, ada yang berupa kebersamaan keluarga di Family Camp dan Family Day, dan ada yang berupa kesempatan berbagi keahlian di Parent Day. Para ayah juga punya ruang sendiri lewat komunitas Tapake Ramane, sementara informasi keseharian seperti pengumuman dan presensi dapat diikuti lewat Portal ASIS.
Di awal dan akhir tahun ajaran, sekolah memaparkan rencana program kepada orang tua, dan setiap triwulan pemaparan itu diperbarui. Kehadiran Ayah Bunda di pertemuan-pertemuan ini sangat berarti, karena dari sanalah rumah dan sekolah menyepakati arah yang sama untuk anak.
Urutan ini bukan birokrasi. Ia memastikan setiap persoalan ditangani lebih dulu oleh orang yang paling mengenal anak.
Para pendiri SABar meyakini bahwa anak adalah bintang yang memiliki cahayanya sendiri, bukan bulan yang hanya memantulkan cahaya orang tuanya. Keyakinan ini membebaskan Ayah Bunda dari kebiasaan membandingkan, dan membuka ruang untuk sesuatu yang lebih menyenangkan: tumbuh bersama anak, belajar bersama orang tua lain, dan menemukan kembali bahwa mendidik adalah perjalanan yang tidak harus ditempuh sendirian.
Kalau Ayah Bunda ingin melihat seperti apa rasanya menjadi mitra belajar di SABar, datanglah ke salah satu pertemuan SOS atau jadwalkan kunjungan ke sekolah. Perjalanan ini lebih ringan bila dijalani bersama.