Sehari di SABar
Di SABar, kelas bisa berupa saung beratap, bedengan tanam, tepi sungai, atau lorong pasar. Anak tetap belajar membaca, berhitung, dan bersikap; hanya tempatnya yang berbeda.
Bayangkan pagi di Baturraden. Udara masih sejuk, kabut tipis menyisakan embun di rumput. Sekelompok anak berjalan menuju saung sambil menenteng sepatu bot. Di saung itu mereka duduk melingkar, berdoa, lalu berbincang tentang kabar hari ini. Setelah itu sebagian pergi ke raised bed untuk mengamati benih yang mereka tanam pekan lalu, sebagian lagi menyiapkan bahan untuk eksperimen di halaman. Tidak ada bel yang berdering, tidak ada barisan meja yang menghadap satu papan tulis.
Sekolah Alam Baturraden (SABar) memang memiliki saung belajar, masjid, taman, dapur, dan kebun. Namun yang membedakan bukan hanya bangunannya, melainkan cara memandang ruang. Di SABar, ruang belajar adalah segala tempat yang membuat anak bisa mengamati, mencoba, dan bertanya. Hutan damar di sekitar kampus, bedengan sayur, kolam, lapangan, dan jalan desa adalah bagian dari kelas yang sama.
Ini bukan berarti anak tidak pernah duduk dan menulis. Ada waktu untuk membaca, menulis, berhitung, dan hafalan yang dicatat rapi di kartu evaluasi. Bedanya, apa yang ditulis itu lahir dari sesuatu yang baru saja mereka alami.
Ada perbedaan halus antara belajar tentang sesuatu dan belajar melalui sesuatu. Anak bisa belajar tentang bagian tanaman dari gambar di buku. Anak juga bisa belajar melalui tanaman yang ia tanam sendiri, ia siram, ia tunggu, lalu ia panen untuk dimakan bersama. Keduanya mengajarkan akar, batang, dan daun. Yang kedua juga mengajarkan sabar, tanggung jawab, dan rasa syukur, tanpa perlu diceramahkan.
Karena itulah SABar memilih alam sebagai ruang belajar harian, bukan sekadar lokasi karyawisata setahun sekali. Hujan, lumpur, serangga, dan cuaca yang berubah adalah bagian dari pelajaran. Anak yang terbiasa dengan itu semua belajar bahwa dunia tidak selalu rapi dan terkendali, dan bahwa mereka tetap bisa belajar di dalamnya.
Para fasilitator SABar memandang diri mereka sebagai teman perjalanan dan pengamat potensi, bukan satu-satunya sumber pengetahuan di depan kelas. Di luar ruangan, peran itu terasa lebih nyata: fasilitator bertanya, mengamati, dan membantu anak menyambungkan apa yang ia temukan dengan apa yang perlu ia pahami.
Tempat circle time, bercerita, menulis, dan berkarya. Atapnya melindungi dari hujan, sisinya terbuka ke pepohonan.
Bedengan tanam tempat anak mengenal perlengkapan farming, menanam benih, membuat kompos mini, memanen bayam atau kangkung, lalu mengolahnya di dapur.
Lokasi outbound dan trekking yang disesuaikan usia: menyeberang jembatan bambu, memanjat dinding, mengambil sampel air dan batu, atau berenang sambil "menyelamatkan bumi" dengan memungut sampah di kolam.
Anak TK mengenal pasar tradisional dan pasar modern lewat kunjungan; Sobat SM belajar dari pelaku usaha lewat Learn to Maestro dan magang.
Kunjungan ke balai desa, mengenal gotong royong, kesenian kentongan, dan mata pencaharian warga sekitar.
Terminal, museum, kantor pemadam kebakaran, atau penanggulangan bencana, dikunjungi sesuai tema pekan.
Bagi Sobat Kecil di Mercury Class dan Venus Class, ruang belajar meluas selangkah demi selangkah. Pekan-pekan awal dihabiskan mengenal lingkungan sekolah: saung, kebun, kamar mandi, lapangan. Saat tema beralih ke "My Neighbourhood" dan "Living Things", anak berjalan-jalan ke sekitar perumahan, berkunjung ke desa, dan mengenal transportasi desa. Ketika tema sampai pada kota, mereka naik kendaraan ke terminal atau pusat perbelanjaan untuk melihat langsung apa yang selama ini hanya ada di cerita.
Di SD Alam Baturraden, kelas-kelas dari Earth Class sampai Neptune Class memakai ritme yang mirip: berkumpul di depan saung, bereksplorasi di raised bed masing-masing, lalu refleksi. Pelajaran kurikulum nasional dikaitkan dengan apa yang ada di sekitar: menanam kangkung menjadi pintu masuk IPAS dan matematika, irigasi tetes dari botol bekas menjadi bahan belajar sains dan kepedulian lingkungan. Kunjungan belajar ke tempat seperti Bukit Pandang Munggang memberi pengalaman yang tidak tergantikan oleh buku.
Bagi Sobat SM di Milky Way Class dan Andromeda Class, ruang belajar sudah melampaui Baturraden: menjelajah sejarah Banyumas, mendaki, caving, live-in di daerah lain, dan magang di tempat kerja sungguhan. Semakin besar anak, semakin jauh jangkauan ruang belajarnya.
Belajar di luar ruangan di SABar bukan jalan-jalan tanpa arah. Setiap kegiatan punya tema pekan, target evaluasi, dan pembiasaan akhlak yang sedang dilatih. Trekking ke curug, misalnya, dirancang untuk melatih keberanian, kerja sama, dan pantang menyerah, sekaligus menjadi kesempatan mengambil sampel air dan batu untuk diamati. Setelah kegiatan, anak diajak merefleksikan apa yang ia temukan dan apa yang ingin ia coba lagi. Karena itu, meski sering terlihat seperti bermain, yang terjadi adalah belajar yang dirancang dengan sungguh-sungguh.
Belajar di alam berarti anak akan pulang dengan baju kotor, sepatu basah, dan cerita panjang. Itu bagian dari rencana. Karena itu anak membawa baju ganti dan jas hujan; sepatu bot boleh ditinggal di sekolah. Untuk kegiatan di luar kampus seperti outing atau sekolah malam, sekolah meminta persetujuan orang tua terlebih dahulu, dan fasilitator mendampingi sepanjang kegiatan.
Keselamatan dan kenyamanan anak tetap menjadi dasar. Area bermain dan belajar diperiksa, permainan yang menantang disesuaikan dengan usia, dan perlengkapan pertolongan pertama tersedia. Bila Ayah Bunda ingin tahu bagaimana sebuah kegiatan dijalankan, cara paling baik adalah datang dan melihatnya langsung.
Kelas tanpa dinding paling mudah dipahami dengan melihatnya sendiri. Ayah Bunda dipersilakan datang ke Baturraden, melihat anak-anak berkegiatan di saung dan kebun, lalu berbincang dengan admin SPMB SABar tentang apa pun yang ingin ditanyakan.