Pengalaman yang Membentuk
Ada hal yang tidak bisa dipelajari dari buku: cara seorang petani membaca langit, cara seorang penulis memilih kata, cara seorang pemadam kebakaran menjaga tenang. Di SABar, anak belajar hal-hal itu dari orangnya langsung.
Seorang anak yang membaca tentang cara menanam sawi akan tahu langkahnya. Seorang anak yang berdiri di samping petani, melihat tangan itu memilih bibit, lalu mendengar mengapa bedengan dibuat lebih tinggi saat musim hujan, akan tahu sesuatu yang lain: bahwa ilmu punya wajah, punya cerita, dan punya alasan.
Inilah yang dimaksud SABar dengan belajar dari ahlinya. Fasilitator di SABar sengaja tidak memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu. Mereka adalah teman perjalanan dan pengamat potensi; sebagian besar ilmu ada di luar sana, pada orang-orang yang menjalaninya. Tugas sekolah adalah membuka pintu dan mempertemukan.
Cara ini sejalan dengan empat pilar SABar. Pilar bisnis secara khusus dibangun lewat magang dan Learn to Maestro, karena mental berkarya paling cepat tumbuh ketika anak melihat orang dewasa yang sungguh-sungguh berkarya.
Learn to Maestro adalah program ketika anak belajar langsung dari orang yang menekuni suatu bidang hingga dalam. Di TK, bentuknya disebut Learn From Maestro dan mengikuti tema kelas: ketika tema api, anak-anak mengunjungi petugas pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana; ketika tema transportasi, mereka naik kereta dalam Edutrain; ketika tema desa, mereka bertamu ke balai desa.
Di Sekolah Menengah, maestro yang ditemui lebih beragam. Sobat SM pernah belajar bersama penulis dan penerjemah naskah Babad Banyumas, lalu menjelajah tempat-tempat yang disebut dalam naskah itu. Sobat Kemandirian pernah belajar membuat es dari pelaku usaha kecil. Di sini maestro bukan selalu orang terkenal; maestro adalah siapa pun yang menguasai kerjanya dan mau berbagi. Halaman [Learn to Maestro](/program/learn-to-maestro) menceritakan program ini lebih rinci.
SABar menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga agar pertukaran narasumber bisa berjalan. Dengan sebuah universitas di Purwokerto, PKBM Alam Purwokerto pernah menandatangani nota kesepahaman yang mencakup pertukaran narasumber, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Lewat lembaga penelitian universitas lain, Sobat SM pernah menerima kunjungan mahasiswa kedokteran dari sebuah universitas di Belanda sebagai narasumber wawasan internasional. Menariknya, informasi tentang kunjungan itu bermula dari orang tua murid.
Psikolog sekolah pun menjadi "ahli" yang hadir rutin: memandu Psychology Class, dan menjadi narasumber pada Sekolah Orang Tua. Dengan demikian, yang belajar dari ahlinya bukan hanya anak, tetapi juga Ayah Bunda dan fasilitator. Rincian tentang mitra SABar dapat dibaca di halaman [Jejaring & Mitra](/mengenal/jejaring).
Di TK, orang tua bergiliran menjadi guru tamu, membagikan pekerjaan atau keahliannya kepada anak-anak. Hari itu ditutup dengan pameran dan lelang karya anak.
Banyak maestro dan narasumber SABar ditemukan lewat orang tua: tetangga yang membatik, kerabat yang beternak, kolega yang bekerja di bidang yang sedang dipelajari anak.
SOS mengundang narasumber untuk Ayah Bunda, dari psikolog sampai orang tua lain yang berbagi pengalaman, sehingga belajar dari ahlinya menjadi budaya seluruh keluarga.
SABar tidak menjanjikan daftar tetap narasumber atau tokoh tertentu setiap tahun. Siapa yang ditemui bergantung pada tema, kesediaan narasumber, dan izin publikasi. Nama dan cerita maestro hanya dimuat di situs ini bila yang bersangkutan mengizinkan. Yang dijanjikan adalah prinsipnya: sepanjang tahun, anak dipertemukan dengan orang yang berkarya nyata, dan pertemuan itu diolah menjadi pembelajaran.
Cara paling mudah memahami program ini adalah bertanya kepada fasilitator tentang siapa yang sedang atau akan ditemui anak-anak triwulan ini. Ayah Bunda bisa datang berkunjung, berbincang, dan bila punya keahlian yang ingin dibagi, sampaikan saja; SABar selalu mencari ahli berikutnya.