Entrepreneurship

Berkarya yang Memberi Manfaat

Pertanyaan terakhir yang diajukan fasilitator setelah anak menyelesaikan karyanya bukan "laku berapa?", melainkan "ini berguna untuk siapa?".

Anak-anak SABar berkarya yang bermanfaat bagi lingkungan

Laba bukan ukuran terakhir

Kalau pilar bisnis berhenti pada laba, sekolah hanya akan mencetak orang yang pandai mengambil. SABar ingin sebaliknya: orang yang pandai memberi. Karena itu setiap karya anak, dari dagangan Market Day sampai project Sobat SM, selalu diajak kembali ke satu pertanyaan: apa manfaatnya bagi orang lain dan bagi alam.

Pandangan ini berakar pada cita-cita yang tertulis dalam tujuan SABar: memberi dampak nyata bagi masyarakat melalui pengembangan kawasan rahmatan lil alamin, kawasan yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sekolah yang berdiri di kaki Gunung Slamet, di tengah hutan damar, memang tidak bisa memisahkan produktivitas dari kepedulian pada sekitarnya.

Bagi anak, gagasan besar ini diterjemahkan menjadi kebiasaan kecil: tidak menyisakan sampah yang tidak bisa diolah, berbagi hasil, dan memikirkan orang yang akan memakai karyanya.

Dari sampah menjadi manfaat

Salah satu pelajaran paling awal tentang manfaat justru datang dari sampah. Di TK, ada kebiasaan bernama Infaq Sampah: Sobat Kecil membawa sampah dari rumah, lalu bersama-sama memilah dan mengolahnya. Sampah yang biasanya dibuang berubah menjadi sesuatu yang bernilai, dan anak belajar bahwa "tidak ada sampah selama siklus manfaatnya bisa diperpanjang", prinsip permakultur yang dipegang SABar.

Di Sekolah Kemandirian, Sobat Kemandirian membuat kompos yang dijual dalam skala sekolah dan mengemas hasil panen kebun. Di SD, anak membuat irigasi tetes dari botol bekas dan merancang mainan daur ulang. Karya dari barang bekas yang dibuat Sobat Kecil dipamerkan dan dilelang saat Parent Day, dan hasilnya kembali untuk kegiatan anak-anak. Setiap contoh ini mengajarkan hal yang sama: berkarya bisa dimulai dari apa yang sudah ada, dan hasilnya bisa berguna bagi banyak orang.

Tangga manfaat dari TK sampai remaja

TK (Mercury & Venus Class)

Infaq Sampah, merawat tanaman sendiri, "Janji Hijauku", dan surat cinta untuk orang tua yang dikirim lewat pos. Manfaat yang paling dekat: keluarga dan sekolah sendiri.

SD (Earth sampai Neptune Class)

Green Life Style, menanam dan memanen untuk dimakan bersama, mentoring farming dan bisnis, dan hasil kebun yang diolah untuk Market Day. Manfaatnya meluas ke teman dan lingkungan sekolah.

Sekolah Kemandirian dan SLC

vokasional kompos dan pengemasan hasil panen, Market Day dengan pendampingan. Manfaatnya: kemandirian anak dan produk yang dipakai orang lain.

SM (Milky Way & Andromeda Class)

project yang tumbuh dari pertunjukan sampai mengelola acara, mountaineering tingkat lanjut yang digabung dengan project sosial atau riset, Safari Ramadhan yang menyentuh filantropi, dan Taman Baca Masyarakat yang dikelola sekolah. Manfaatnya sampai ke masyarakat di luar sekolah.

Peristiwa

Makin besar anak, makin jauh jangkauan manfaat yang diharapkan dari karyanya. Dari rumah sendiri, ke sekolah, ke desa sekitar, sampai ke masyarakat yang lebih luas.

Manfaat yang dirasakan masyarakat

Di jenjang Sekolah Menengah, berkarya yang memberi manfaat tidak lagi simbolis. Sobat SM pernah menginisiasi kegiatan berbagi untuk anak-anak di desa sekitar sekolah, bekerja sama lintas unit SABar. Dalam Safari Ramadhan, mereka mengunjungi masjid-masjid di lingkungan yang berbeda dan belajar tentang ibadah sekaligus filantropi. Taman Baca Masyarakat yang dikelola PKBM Alam Purwokerto membuka akses buku bagi warga.

Project sosial di tahun ketiga SM menggabungkan semua yang pernah dipelajari: kemampuan merencanakan dari business plan, komunikasi dari Market Day dan pitching, kepemimpinan dari outbound dan mountaineering, dan kepekaan dari live-in bersama masyarakat. Hasilnya bukan laba, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan orang lain.

Bentuk project sosial dan kegiatan berbagi berubah tiap tahun, mengikuti gagasan Sobat SM sendiri dan kebutuhan masyarakat sekitar. Ayah Bunda bisa menanyakan kegiatan tahun berjalan langsung kepada sekolah.

Mengapa ini bagian dari pilar bisnis

Mungkin terdengar aneh: kegiatan berbagi dan merawat alam dimasukkan ke pilar bisnis, bukan pilar akhlak. Padahal justru di situlah maksudnya. SABar ingin anak memahami bahwa bisnis yang baik dan kebaikan bukan dua hal yang bertentangan. Produk yang laku adalah produk yang bermanfaat. Usaha yang bertahan adalah usaha yang tidak merusak lingkungannya. Pedagang yang dipercaya adalah pedagang yang jujur.

Dengan cara ini, anak tidak tumbuh dengan dua kepala: satu untuk mencari untung, satu untuk beramal. Ia tumbuh dengan satu cara pandang: berkarya sebaik mungkin, agar sebanyak mungkin orang mendapat manfaatnya. Itulah arti berjiwa bisnis yang dimaksud SABar, dan itulah yang kami harapkan tetap dibawa lulusan SABar ke mana pun ia pergi.

Belajar tentang manfaat, atau belajar melalui manfaat?

Anak bisa diberi tahu bahwa berbagi itu baik. Tetapi anak yang menyerahkan sendiri kompos buatannya untuk kebun tetangga, atau melihat buku yang ia rapikan dibaca warga di taman baca, belajar dengan cara yang berbeda. Manfaat itu bukan lagi konsep; ia punya wajah orang yang menerimanya.

Itulah sebabnya SABar memilih jalan yang lebih lambat: membiarkan anak mengalami manfaat dari karyanya sendiri, sedikit demi sedikit, dari sampah di rumah sampai project di masyarakat.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah anak diwajibkan menyumbangkan hasil penjualannya?
Tidak ada kewajiban seperti itu. Yang dibangun adalah kebiasaan memikirkan manfaat karya bagi orang lain; bentuknya dibicarakan di tiap kelas sesuai usia.
Apa itu Infaq Sampah?
Kebiasaan di TK: anak membawa sampah dari rumah, lalu bersama fasilitator memilah dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai.
Apakah orang tua bisa terlibat?
Bisa. Lelang karya di Parent Day, kegiatan berbagi, dan tugas keluarga dari barang bekas adalah beberapa cara orang tua ikut serta.
Apa yang dimaksud rahmatan lil alamin di SABar?
Cita-cita agar sekolah dan lulusannya menjadi rahmat bagi masyarakat dan alam sekitarnya, yang diterjemahkan menjadi karya dan kebiasaan yang bermanfaat.

Ayah Bunda yang ingin anaknya tumbuh produktif sekaligus peduli, mari berkunjung dan melihat sendiri bagaimana kebun, dapur, dan meja Market Day di SABar menjadi tempat belajar memberi. Admin SPMB SABar siap menemani berbincang.