Bersama Orang Tua
Jejak seorang ayah tertinggal lama dalam diri anaknya. Tapake Ramane adalah tempat para ayah SABar belajar meninggalkan jejak yang baik, bersama-sama.
Dalam banyak keluarga, urusan sekolah anak secara tidak sengaja menjadi urusan ibu. Ibu yang mengantar, ibu yang hadir di pertemuan orang tua, ibu yang membaca grup kelas. Ayah hadir, tetapi sering dari kejauhan. Padahal anak membutuhkan ayahnya secara utuh: bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi sebagai teladan, teman bermain, penentu batas, dan orang yang mengajarinya berani.
Sekolah Alam Baturraden (SABar) membaca kebutuhan itu dan membuka ruang khusus bagi para ayah: Tapake Ramane. Namanya diambil dari bahasa Jawa Banyumasan yang kira-kira berarti "jejak ayahnya". Di komunitas ini, para ayah belajar tentang perannya dalam pengasuhan, saling bercerita tentang tantangan yang jarang dibicarakan di tempat lain, dan saling menguatkan untuk hadir lebih dekat dengan anak.
Pertemuan Tapake Ramane diadakan di Baturraden pada 5 sampai 6 September 2026. Selama dua hari, para ayah dari berbagai unit SABar berkumpul di alam terbuka, jauh dari rutinitas, untuk membahas peran-peran ayah dalam mendidik anak. Materinya tidak berhenti pada teori; para ayah diajak merefleksikan bagaimana peran itu dijalani dalam keseharian masing-masing, dan apa yang ingin diubah setelah pulang.
Yang membuat pertemuan ini berbeda dari seminar parenting biasa adalah suasananya. Di antara pohon damar dan udara kaki Gunung Slamet, percakapan antarlelaki yang biasanya kaku punya kesempatan menjadi lebih jujur: tentang waktu bermain yang terasa kurang, tentang cara berbicara dengan remaja, tentang hal-hal yang ingin diperbaiki. Cerita lengkap pertemuan ini dapat dibaca di Kabar SABar.
Setelah pertemuan, percakapan tidak berhenti. Para ayah melanjutkan obrolannya di grup daring Tapake Ramane: saling mengingatkan tentang hal-hal yang sudah disepakati, berbagi cerita tentang pengalaman bersama anak, dan sesekali menyiapkan kegiatan bersama. Grup ini juga menjadi tempat ayah-ayah baru diperkenalkan ketika anaknya bergabung di SABar, sehingga tidak ada ayah yang merasa sendirian.
Dari sinilah komunitas ayah mendapat bentuknya yang sebenarnya: bukan sebuah acara, melainkan hubungan yang terus dirawat sepanjang tahun.
SABar menempatkan akhlak sebagai pijakan, dan akhlak paling kuat diajarkan lewat teladan. Ayah yang menepati janji dan meminta maaf saat salah sedang mengajar tanpa kata.
Outbound, camping, dan trekking adalah bagian dari hari anak di SABar. Ayah yang ikut mendaki atau berkemah di Family Camp menjadi bagian dari keberanian anaknya.
Bagi remaja di Sekolah Menengah, ayah adalah pendamping utama dalam belajar mengendalikan diri dan memikul tanggung jawab, sebagaimana ditekankan dalam kurikulum aqil baligh SABar.
Tapake Ramane terbuka bagi semua ayah murid SABar dari semua unit. Setelah anak bergabung, fasilitator kelas akan membantu menghubungkan Ayah dengan grup daring komunitas. Agenda pertemuan berikutnya disampaikan sekolah melalui fasilitator, grup daring, dan Kabar SABar. Calon orang tua yang ingin tahu lebih dulu dapat menanyakannya kepada admin SPMB saat berkunjung.
Kepada para Ayah: anak-anak tidak akan mengingat seberapa sibuk ayahnya, tetapi akan mengingat jejak yang ditinggalkannya. Datanglah berkunjung ke SABar, dan mari berbincang tentang jejak seperti apa yang ingin Ayah tinggalkan.