← Kabar

Peran Ayah dalam Mendidik Anak: Tapake Ramane SABar School

13 September 2026

Peran Ayah dalam Mendidik Anak: Tapake Ramane SABar School

BATURRADEN, BANYUMAS — Pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau ibu. Ayah juga memiliki peran penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Semangat itulah yang dibawa dalam pertemuan Komunitas Tapake Ramane SABar School pada 5–6 September 2026.

Para ayah dari keluarga besar SABar School berkumpul untuk belajar dan berdiskusi tentang parenting. Mereka ditemani para fasilitator SABar yang selama ini dengan sabar membersamai proses tumbuh dan belajar anak.

Pertemuan tersebut bukan sekadar seminar satu arah. Para ayah mendapat ruang untuk berbagi pengalaman, bertanya, dan mendiskusikan tantangan pengasuhan yang mereka hadapi di rumah.

Salah satu pembahasan utama adalah peran ayah dalam mendidik anak.

7 Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Dalam diskusi Tapake Ramane, terdapat tujuh peran ayah yang menjadi bahan refleksi bersama.

1. Hadir Secara Fisik dan Hati

Anak tidak hanya membutuhkan ayah yang berada di rumah. Anak juga membutuhkan perhatian dan keterlibatan ayah.

Kehadiran berarti bersedia mendengarkan cerita anak. Ayah juga perlu menyediakan waktu untuk benar-benar bersama mereka.

Hal sederhana seperti meletakkan telepon genggam ketika anak bercerita dapat memiliki arti besar.

2. Mendoakan, Tidak Hanya Memarahi

Anak pasti melakukan kesalahan dalam proses tumbuhnya. Pada saat seperti itu, respon ayah tidak harus selalu berupa kemarahan.

Ayah dapat menegur sekaligus membimbing. Ayah juga dapat mendoakan agar anak mampu belajar dari kesalahannya.

Disiplin tetap diperlukan. Namun, hubungan antara ayah dan anak tidak semestinya dibangun hanya melalui teguran.

3. Bermain dan Bercanda

Bermain bersama anak bukan aktivitas tanpa tujuan.

Melalui permainan dan candaan, hubungan antara ayah dan anak dapat tumbuh lebih dekat. Kedekatan ini menjadi pintu masuk bagi komunikasi yang lebih terbuka.

Anak juga dapat merasa bahwa ayah bukan hanya sosok yang memberikan aturan. Ayah adalah tempat yang aman untuk bercerita dan bertumbuh.

4. Tegas dalam Disiplin, Lembut dalam Hati

Ketegasan merupakan bagian penting dalam pendidikan anak.

Anak perlu mengenal batas, aturan, tanggung jawab, dan konsekuensi. Namun, ketegasan tidak harus berubah menjadi kekerasan atau kemarahan.

Seorang ayah dapat mengatakan tidak dengan tegas. Pada saat yang sama, anak tetap perlu merasakan bahwa dirinya dicintai.

5. Adil dan Tidak Membedakan Anak

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda.

Kemampuan, minat, cara belajar, bahkan kecepatan tumbuh setiap anak juga tidak sama. Karena itu, adil tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama.

Ayah perlu memahami kebutuhan setiap anak. Yang perlu dihindari adalah membandingkan seorang anak dengan saudara atau anak lainnya.

6. Memberi Nama dan Lingkungan yang Baik

Tanggung jawab orang tua dimulai sejak memberikan nama yang baik kepada anak. Namun, tanggung jawab tersebut tidak berhenti di sana.

Ayah dan ibu juga memiliki peran dalam memilih lingkungan tempat anak bertumbuh.

Lingkungan keluarga, sekolah, pertemanan, dan masyarakat akan ikut membentuk karakter anak. Karena itu, menciptakan lingkungan yang sehat merupakan bagian dari pendidikan.

7. Menjadi Partner Ibu, Bukan Saingan

Ayah dan ibu memiliki peran yang berbeda, tetapi tujuannya sama.

Keduanya bukan pihak yang saling berlomba menjadi orang tua paling benar. Ayah dan ibu adalah partner dalam mendampingi anak.

Ketika terjadi perbedaan pandangan, keduanya perlu mencari jalan bersama. Anak membutuhkan ayah dan ibu yang dapat saling menguatkan.

Menjadi Ayah Tidak Harus Menunggu Sempurna

Diskusi Tapake Ramane juga membawa satu kesadaran penting.

Menjadi ayah bukan berarti harus selalu mengetahui jawaban dari setiap persoalan anak.

Ada ayah yang sedang belajar mengendalikan emosi. Ada yang sedang mencari cara berkomunikasi dengan anak. Ada pula yang sedang berusaha membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Karena itulah ruang belajar bersama menjadi penting.

Seorang ayah dapat belajar dari pengalaman ayah lainnya. Pengalaman kecil yang berhasil diterapkan dalam satu keluarga mungkin menjadi inspirasi bagi keluarga lain.

Tapake Ramane Tidak Berhenti Setelah Acara

Pertemuan pada 5–6 September tersebut bukan menjadi akhir kegiatan.

Para ayah justru berkomitmen untuk melanjutkan proses belajar bersama. Mereka ingin saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam mendidik anak.

Diskusi pun berlanjut melalui ruang komunikasi daring.

Dengan demikian, Tapake Ramane tidak hanya hidup ketika ada pertemuan resmi. Komunitas ini diharapkan menjadi ruang belajar yang terus berjalan.

Ada banyak hal yang dapat dibagikan.

Bagaimana menghadapi anak yang sedang marah? Bagaimana menumbuhkan kemandirian? Bagaimana menjadi ayah yang tetap dekat dengan anak di tengah kesibukan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang dapat didiskusikan bersama.

Semangat tersebut sejalan dengan pendekatan Sekolah Alam Baturraden atau SABar School. Orang tua ditempatkan sebagai mitra dalam proses pendidikan anak, bukan sekadar pengantar dan penjemput.

kolaborasi para ayah di sabar school

SABar School Dorong Digitalisasi Bersama Puskomedia

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, SABar School juga memperkuat langkah menuju digitalisasi sekolah.

Yayasan Sekolah Rumah Indonesia, yang menaungi SABar School, menjalin kerja sama dengan PT Puskomedia Indonesia Kreatif.

Kerja sama tersebut akan mendukung pemanfaatan ASIS atau Sistem Informasi Sekolah di lingkungan SABar.

Digitalisasi ini tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan administrasi sekolah.

Salah satu harapannya adalah mendokumentasikan berbagai praktik baik yang selama ini tumbuh di SABar School. Pengetahuan tersebut kemudian dapat dibagikan kepada masyarakat yang lebih luas.

Cerita kegiatan sekolah dapat didokumentasikan. Pengalaman fasilitator dapat dibagikan. Pembelajaran dari komunitas orang tua juga dapat disampaikan kepada ayah dan bunda lainnya.

Dengan dukungan digital, kebaikan yang tumbuh di lingkungan SABar diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah.

Sistem digital SABar juga diarahkan agar informasi sekolah terus diperbarui dan mudah ditemukan melalui internet. Halaman publik yang aktif dapat menjadi salah satu pintu masyarakat untuk mengenal kegiatan SABar.

Dari SABar untuk Ayah dan Bunda di Mana Pun

Tapake Ramane menunjukkan bahwa proses pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah.

Pendidikan juga terjadi di rumah.

Pendidikan terjadi saat ayah bersedia mendengarkan anak. Saat ayah mengajak bermain. Saat ayah memberikan batas dengan kasih sayang.

Pendidikan juga hadir saat ayah dan ibu memilih berjalan sebagai satu tim.

Karena itu, komunitas orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan SABar School.

Sekolah dapat mendampingi anak selama beberapa jam dalam sehari. Namun, keluarga tetap menjadi lingkungan utama tempat anak bertumbuh.

Melalui Tapake Ramane dan ruang berbagi yang terus berkembang, SABar School berharap semakin banyak ayah yang berani belajar.

Bukan untuk menjadi ayah yang sempurna.

Namun, untuk menjadi ayah yang hadir dan terus bertumbuh bersama anak.

Mari Belajar Menjadi Orang Tua Bersama

Setiap keluarga mempunyai cerita yang berbeda. Tantangan yang dihadapi setiap ayah dan bunda juga tidak selalu sama.

Karena itu, pengalaman Anda mungkin sangat berarti bagi orang tua lainnya.

Apa tantangan terbesar Anda dalam mendampingi anak saat ini?
Dari tujuh peran ayah di atas, mana yang paling ingin Anda perbaiki atau kuatkan?

Mari berbagi pengalaman dan berdiskusi bersama komunitas orang tua melalui sabar.sch.id.

Jika tulisan ini bermanfaat, bagikan kepada ayah, bunda, keluarga, atau teman yang sedang belajar membersamai tumbuh kembang anak.

Semakin banyak pengalaman baik dibagikan, semakin banyak pula orang tua yang dapat belajar bersama.

parenting ayah Tapake Ramane SABar School Sekolah Alam Baturraden komunitas orang tua sekolah parenting Purwokerto parenting Banyumas

Kabar lainnya

← Semua kabar