Peran Ayah dalam Mendidik Anak: Tapake Ramane SABar School
13 September 2026
10 Oktober 2026
Baturraden, 10 Oktober 2026. Sekolah Alam Baturraden (SABar School) kembali menggelar Sekolah Orang Tua SABar (SOS) pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Kampus 1 SABar School. Pertemuan kedua ini mengangkat tema "Anak Tumbuh, Alam Mengasuh: Menyiapkan Anak Menghadapi Dunia yang Terus Berubah", dengan pemateri Melati Ismi Hapsari, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Menjadi orang tua adalah perjalanan untuk terus belajar dan bertumbuh. Di tengah dunia yang terus berubah, anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung mereka untuk tumbuh, bereksplorasi, dan menghadapi masa depan dengan percaya diri. Karena itulah SOS hadir sebagai ruang belajar bersama bagi Ayah dan Bunda, tempat sekolah dan keluarga berbagi cara mendampingi anak sesuai kebutuhan zamannya.
Gerbang dibuka pukul 07.30, dan acara dimulai pukul 08.00. Pembukaan diisi doa bersama dan lantunan Asmaul Husna, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, lalu menyanyikan Indonesia Raya.
Setelah itu, murid-murid SABar menampilkan pentas unjuk kebolehan di hadapan Ayah dan Bunda. Penampilan ini menjadi pengingat bahwa semua yang dibicarakan hari itu bermuara pada satu hal: anak-anak yang sedang tumbuh. Acara berlanjut dengan sambutan dari pihak sekolah dan ice breaking yang mencairkan suasana sebelum sesi materi. Seperti biasa, setiap keluarga membawa makanan untuk dinikmati bersama (potluck), sehingga suasana pagi itu terasa hangat dan akrab.
Melati membuka materi dengan pertanyaan mendasar: mengapa manusia, termasuk anak-anak, membutuhkan kontak dengan alam?
Jawabannya datang dari berbagai penelitian. Dari sisi kesehatan fisik, paparan lingkungan alam berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular, pengendalian tekanan darah, dan kesehatan metabolik (Twohig-Bennett & Jones, 2018; Jimenez dkk., 2021; Al Ghanim dkk., 2025). Dari sisi kesehatan psikologis, cahaya alami, udara segar, dan ruang hijau membantu mengurangi stres dan mendukung kesejahteraan jiwa (Cipriani dkk., 2017; Gritzka dkk., 2020; Bratman dkk., 2024).
Artinya, waktu di alam bukan sekadar hiburan atau "selingan" dari belajar. Waktu di alam ikut menopang tubuh dan pikiran yang sehat, dua hal yang menjadi dasar anak bisa belajar dengan baik.

Bagi anak, alam menawarkan lebih dari udara segar. Materi SOS 2 merangkum empat manfaat utama:
1. Eksplorasi dan rasa ingin tahu. Tanah, air, rumput, pepohonan, dan perubahan cuaca adalah bahan belajar yang tidak pernah habis. Semuanya mendorong anak untuk bermain, bereksplorasi, dan belajar melalui pengalaman langsung (Chawla, 2015). Anak yang memegang tanah basah, mengamati semut, atau melihat genangan setelah hujan sedang membangun pengetahuan dari tangan dan matanya sendiri.
2. Perhatian dan kreativitas. Waktu yang dihabiskan di alam berkaitan dengan fokus, fungsi kognitif, dan kreativitas anak yang lebih baik (Flouri dkk., 2019; Ulset dkk., 2017). Alam tidak menyediakan mainan siap pakai, sehingga anak terdorong mencipta: ranting menjadi pedang, daun menjadi uang, batu menjadi rumah.
3. Perkembangan motorik. Memanjat, menjaga keseimbangan, dan membangun dengan bahan alami melatih keterampilan motorik kasar sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri (Fathirezaie dkk., 2018). Permukaan yang tidak rata, akar pohon, dan tanjakan kecil adalah "alat latihan" yang tidak bisa digantikan lantai kelas.
4. Ketahanan emosional dan sosial. Pengalaman di alam membantu anak menghadapi tantangan, mengembangkan kesabaran, mengelola stres, dan meningkatkan perilaku prososial atau kepedulian pada orang lain (Flouri dkk., 2014; Sobko dkk., 2018). Menunggu tanaman tumbuh mengajarkan sabar. Mengangkat batang kayu bersama mengajarkan kerja sama.
Bagian yang terasa dekat dengan semangat inklusi di SABar adalah pembahasan tentang anak dengan kebutuhan beragam. Melati memaparkan beberapa temuan penelitian:
Kata kuncinya adalah berpotensi dan dikaitkan. Alam bukan obat, tetapi lingkungan yang dapat mendukung anak dengan cara yang sering sulit dicapai di ruang tertutup.
Peserta juga diajak mengenal istilah-istilah yang sering muncul ketika membicarakan belajar di alam. Pembelajaran atau kegiatan berbasis alam (nature-based learning) sering dipakai bergantian dengan beberapa konsep terkait:
Mengenal istilah ini membantu orang tua memahami bahwa belajar di alam punya landasan dan praktik yang luas di dunia pendidikan dan psikologi, bukan sekadar tren.
Mengapa alam berdampak sebesar itu? Melati menjelaskan empat teori yang mendasarinya.
Hipotesis Biofilia (Wilson, 1995; Kellert, 1995). Manusia memiliki ketertarikan alami dan ikatan emosional dengan makhluk hidup serta proses alam. Hubungan ini memenuhi kebutuhan fisik dan material, sekaligus memberi manfaat estetis, intelektual, kognitif, dan spiritual. Dengan kata lain, kerinduan anak pada alam adalah bagian dari fitrahnya.
Teori Pemulihan Atensi atau Attention Restoration Theory (Kaplan & Kaplan, 1989). Lingkungan alam memiliki "daya tarik yang lembut" (soft fascination), seperti suara gemerisik daun dan aliran air. Daya tarik ini tidak menuntut konsentrasi penuh, sehingga membantu memulihkan dan meningkatkan kemampuan perhatian. Ini menjelaskan mengapa anak sering lebih segar dan fokus setelah berkegiatan di luar.
Teori Pemulihan Stres atau Stress Recovery Theory (Ulrich dkk., 1991). Berada di lingkungan alam dapat membantu menurunkan stres dan kecemasan, serta memunculkan rasa tenang dan rileks.
Teori Bentuk Vitalitas atau Vitality Forms Theory (Stern, 2010). Ritme, gerakan, intensitas, dan perubahan dalam pengalaman di alam, seperti daun yang jatuh atau air yang mengalir, mampu menarik perhatian, mempertahankan minat, dan menciptakan pengalaman yang bermakna bagi anak.
Dari teori-teori tersebut, Melati menarik benang merah tentang regulasi emosi. Pola suara dan gerakan yang berulang di alam, seperti kicauan burung, angin yang berdesir di antara dedaunan, pepohonan yang bergoyang, awan yang bergerak, dan gemericik air, berpotensi menciptakan pengalaman sensoris yang menenangkan. Pengalaman ini mendukung regulasi emosi tanpa menuntut anak merespons dengan cepat atau terarah.
Alam juga menghadirkan pengalaman multisensoris yang bisa diakses lewat berbagai indra sekaligus: melihat, mendengar, menyentuh, mencium, bahkan merasakan. Setiap anak bisa terlibat dengan caranya sendiri, sesuai karakteristik dan preferensi sensorisnya.
Lalu, seperti apa pembelajaran berbasis alam dalam praktik? Prinsipnya, lingkungan dan unsur alam dijadikan sumber sekaligus konteks belajar, melalui eksplorasi dan bermain. Tempatnya tidak harus hutan; halaman sekolah, taman, kebun, atau area hijau yang aman sudah bisa menjadi ruang kelas.
Fokusnya menyesuaikan usia anak:
Tiga contoh kegiatan yang dibahas:
1. Eksplorasi dan klasifikasi benda alam. Anak mengumpulkan, membandingkan, dan mengelompokkan daun, batu, atau biji berdasarkan bentuk, ukuran, dan tekstur. Kegiatan sederhana ini melatih kognisi, bahasa, matematika awal, dan eksplorasi sensoris.
2. Investigasi tanaman dan lingkungan. Anak menanam, mengamati pertumbuhan tanaman, mencatat perubahan, lalu membandingkan hasil pengamatan. Hasilnya adalah pembelajaran sains, keterampilan observasi, pemecahan masalah, dan rasa tanggung jawab.
3. Bermain dan berkomunikasi di alam. Anak membangun sesuatu dari ranting, bermain peran, berbagi benda temuan, atau mengajak teman melihat sesuatu yang menarik. Kegiatan ini menumbuhkan kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi, sekaligus memberi kesempatan anak mengembangkan minat dan perhatiannya.
Materi SOS 2 tidak hanya membahas manfaat. Melati juga memaparkan tantangan pembelajaran berbasis alam secara terbuka:
Keterbukaan ini penting. Belajar di alam bukan berarti melepas anak tanpa rencana, melainkan menyiapkan kegiatan yang aman, terarah, dan terhubung dengan tujuan belajar.
Salah satu pesan yang paling membekas: respons anak terhadap alam tidak selalu sama. Bagi sebagian anak, alam menjadi sumber ketertarikan dan kenyamanan. Bagi anak lain, alam justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Cahaya yang terik, suara burung, gerakan daun, serangga, atau binatang di alam bebas dapat ditanggapi dengan sangat berbeda oleh setiap anak.
Karena itu, kehadiran orang dewasa yang peka menjadi kunci.
Peran guru:
Peran orang tua:
Dari materi hari itu, ada beberapa langkah kecil yang bisa langsung dicoba Ayah dan Bunda di rumah:
Usai materi dan sesi ice breaking, Ayah dan Bunda mengikuti sesi tanya jawab selama sekitar satu jam. Sesi ini memberi ruang bagi orang tua untuk mengaitkan materi dengan pengalaman anak masing-masing di rumah dan di sekolah. Acara kemudian ditutup dengan pembagian door prize, pemberian kenang-kenangan kepada pemateri, dan foto bersama.
Tema SOS 2 sejalan dengan keseharian di SABar, tempat kebun, saung, sungai, dan lereng Gunung Slamet menjadi ruang belajar setiap hari. Lewat Sekolah Orang Tua, sekolah dan keluarga menyamakan langkah, sehingga pengalaman anak di sekolah dapat berlanjut di rumah.
Terima kasih kepada Melati Ismi Hapsari, S.Psi., M.Psi., Psikolog, atas ilmu dan pengalaman yang dibagikan, serta kepada Ayah dan Bunda yang telah hadir dan belajar bersama. Sampai jumpa di Sekolah Orang Tua SABar berikutnya.
Download Materi: Materi sekolah alam baturraden (PPTX)
Baca juga: Peran Ayah dalam Mendidik Anak
Rujukan penelitian dalam berita ini bersumber dari materi pemateri, antara lain Twohig-Bennett & Jones (2018), Chawla (2015), Kaplan & Kaplan (1989), Ulrich dkk. (1991), Stern (2010), dan Faber Taylor & Kuo (2009).
13 September 2026