Capturing Talent
Anak diberi ruang luas untuk mencoba: farming, perkusi, gerak dan lagu, crafting, memasak, olahraga, bahasa, sains, bisnis. Fasilitator dan orang tua mengamati mana yang membuat anak bertahan lama dan kembali lagi tanpa disuruh.
Lulusan SABar
Setiap anak adalah bintang yang punya cahayanya sendiri, bukan bulan yang hanya memantulkan cahaya orang tuanya. Tugas sekolah adalah membantunya menemukan cahaya itu.
Slogan lulusan Sekolah Alam Baturraden (SABar) adalah Discover the Great in You. Kata kuncinya ada di awal: discover, menemukan. Kami tidak berkata "kami akan membuatmu hebat", karena kehebatan itu bukan sesuatu yang dipasang dari luar. Ia sudah ada dalam diri setiap anak sejak lahir, dan yang bisa dilakukan sekolah adalah membantu anak menemukannya, lalu merawatnya sampai menyala.
Karena itu, ciri lulusan yang kelima ini menjadi pengikat empat ciri sebelumnya. Akhlak, logika, kemandirian, dan produktivitas akan tumbuh paling subur bila anak tahu siapa dirinya: apa yang membuatnya bersemangat, di mana ia kuat, dan di mana ia masih perlu belajar. Anak yang mengenal dirinya tidak perlu menjadi orang lain untuk merasa berharga.
Ada satu keputusan yang paling sering ditanyakan orang tua baru: SABar tidak memeringkat anak. Tidak ada juara kelas, tidak ada urutan satu sampai sekian. Alasannya sederhana dan serius: setiap anak unik, dan ranking hanya mengukur satu dimensi sambil mengabaikan yang lain.
Ketika anak dibandingkan dengan teman sekelasnya, yang tumbuh biasanya bukan pengenalan diri, melainkan dua hal yang sama-sama tidak sehat: merasa lebih dari orang lain, atau merasa kurang dari orang lain. Anak yang pandai memanjat tetapi lambat membaca akan menyimpulkan dirinya "bodoh", padahal ia sedang menunjukkan kekuatan yang tidak terukur oleh angka. Nilai Achieve dalam akronim SABAR dijalani lewat prinsip ini: setiap anak punya capaiannya sendiri, dan kemajuan diukur dari perjalanan anak itu, bukan dari posisi di antara teman-temannya.
Di SABar, pendidik disebut fasilitator, dan salah satu perannya yang paling penting adalah menjadi pengamat potensi. Setiap hari mereka melihat anak dalam situasi yang beragam: saat berkebun, saat memimpin kelompok outbound, saat menghitung uang Market Day, saat bercerita di circle time, saat berdebat dengan teman. Di tiap situasi itu, potensi anak menampakkan diri dengan cara yang tidak akan terlihat di bangku kelas.
Pengamatan itu dicatat sebagai catatan anekdot, dikumpulkan dalam portofolio, dan dilaporkan secara naratif dalam Progress Report setiap triwulan. Di SD, selain rapor narasi ada pula rapor bakat yang khusus merekam kecenderungan minat anak. Semua ini kemudian dibicarakan bersama orang tua, karena orang tua adalah pengamat potensi yang lain, dengan sudut pandang yang berbeda dari sekolah.
Pengamatan potensi di SABar bukan tes bakat sekali jadi. Ia adalah proses bertahun-tahun, dan hasilnya bisa berubah seiring anak tumbuh. Bakat yang tampak di TK belum tentu sama dengan yang tampak di SM, dan itu wajar.
Mengenal diri butuh kesempatan mencoba banyak hal. SABar menyediakannya lewat jalur yang bertahap.
Anak diberi ruang luas untuk mencoba: farming, perkusi, gerak dan lagu, crafting, memasak, olahraga, bahasa, sains, bisnis. Fasilitator dan orang tua mengamati mana yang membuat anak bertahan lama dan kembali lagi tanpa disuruh.
Seiring kecenderungan mulai tampak, kegiatan diarahkan lebih khusus. Minat yang kuat diberi tantangan yang lebih besar, sementara area yang belum berkembang tetap dilatih tanpa tekanan.
Anak bertemu dan belajar langsung dari orang yang sungguh-sungguh berkarya di bidang yang diminatinya: penulis, perajin, pelaku usaha, pegiat lingkungan. Pertemuan ini sering menjadi titik ketika anak berkata, "Aku ingin seperti itu."
Sobat SM menguji minatnya di dunia nyata lewat magang berjenjang, lalu merekam seluruh perjalanannya dalam buku portofolio pengembangan diri yang dipresentasikan sendiri.
Mengenal diri bukan hanya mengenal kekuatan. Anak yang sehat secara batin juga bisa berkata, "Aku belum bisa ini," tanpa merasa hancur. Kejujuran seperti ini hanya mungkin tumbuh di lingkungan yang tidak mempermalukan kekurangan, dan itulah yang dijaga SABar lewat prinsip wellbeing school.
Refleksi harian di akhir kegiatan adalah latihannya. Anak ditanya apa yang berhasil, apa yang belum, dan apa yang ingin dicoba besok. Lama-kelamaan anak terbiasa menilai dirinya secara jujur dan adil: tidak membesar-besarkan, tidak merendahkan. Bagi remaja, kurikulum aqil baligh dan program Membantu Remaja Menemukan Arah membawa pengenalan diri ini ke pertanyaan yang lebih besar tentang masa depan.
Bagi Sobat Kemandirian, mengenal diri berarti mengenal cara belajarnya sendiri: apa yang menenangkan, apa yang membuat fokus, apa yang sudah bisa dilakukan sendiri. Pendampingan individual dirancang justru untuk membuka potensi, bukan menciptakan ketergantungan.
Setiap anak punya cahayanya sendiri, dan tidak ada cara mengenalnya selain mengamati dari dekat. Ayah Bunda dipersilakan berkunjung, melihat anak-anak berkegiatan, dan berbincang dengan admin SPMB SABar tentang bagaimana sekolah mengamati potensi ananda.