Lulusan SABar

Siap Belajar Sepanjang Hayat

Kami tidak tahu pekerjaan apa yang akan ada ketika anak-anak ini dewasa. Yang kami tahu, mereka akan selalu perlu belajar lagi, dan itulah yang kami siapkan.

Remaja berransel di persimpangan jalan setapak

Bekal yang tidak kedaluwarsa

Pengetahuan punya masa berlaku. Alat berubah, pekerjaan berubah, bahkan cara belajar berubah. Yang tidak kedaluwarsa adalah kesanggupan untuk belajar lagi: keberanian menghadapi hal yang belum dikenal, kerendahan hati mengakui belum bisa, dan rasa ingin tahu yang menggerakkan seseorang untuk mencari tahu sendiri.

Ciri keenam lulusan Sekolah Alam Baturraden (SABar) adalah penutup sekaligus pengikat semua ciri lainnya. Anak yang berakhlak akan terus belajar menjadi lebih baik. Anak yang berlogika akan terus bertanya. Anak yang mandiri akan terus mencoba. Anak yang produktif akan terus berkarya. Anak yang mengenal dirinya tahu ke mana ia ingin tumbuh. Semua itu hanya mungkin bila belajar sudah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bukan kewajiban yang selesai saat lulus.

Rasa ingin tahu yang dijaga, bukan dipadamkan

Setiap anak lahir dengan rasa ingin tahu yang besar. Yang sering terjadi, sekolah justru memadamkannya pelan-pelan: pertanyaan dianggap mengganggu, kesalahan dihukum, dan belajar disempitkan menjadi menghafal jawaban. Prinsip Belajar Bersama Alam di SABar sengaja dirancang berkebalikan. Empat prinsipnya adalah Fun Learning, Free Learning, Experimental Learning, dan Experiential Learning, atau belajar dari pengalaman.

Dalam praktiknya, Sobat Kecil boleh menghabiskan waktu lama mengamati cacing di kompos. Murid SD boleh menguji irigasi tetes buatannya berkali-kali sampai menetes dengan benar. Sobat SM boleh menyelidiki gua, bendungan, atau pasar kota untuk menjawab pertanyaan mereka sendiri. Fasilitator menjaga agar keingintahuan itu punya ruang, dan agar jawaban tidak datang terlalu cepat.

Tidak takut pada hal baru

Belajar sepanjang hayat membutuhkan keberanian, karena hal baru selalu tidak nyaman. SABar melatihnya dengan mengatur agar anak secara teratur keluar dari zona nyamannya, dengan tingkat yang bertambah seiring usia.

Lingkungan baru

Outing sesuai tema, kunjungan belajar, dan sekolah malam memperkenalkan anak pada tempat dan situasi yang berbeda dari rumah sejak usia dini.

Orang baru

Parent Day menghadirkan orang tua sebagai guru tamu, Learn to Maestro mempertemukan anak dengan para ahli, dan belajar dari masyarakat membawa anak ke desa dan komunitas yang asing.

Budaya baru

Live-in Sobat SM bertambah jauh setiap tahun, dari luar kabupaten sampai luar pulau atau luar negeri, dan ada agenda backpacker ke negara tetangga. Program bahasa Inggris setiap Sabtu menyiapkan bekal komunikasinya.

Judul Kartu

Anak yang pernah tidur di tenda saat hujan, pernah ditolak pembeli di Market Day, pernah tersesat sebentar saat membaca peta di outbound, membawa pengalaman itu sebagai bukti bagi dirinya sendiri: hal baru itu menakutkan, tetapi bisa dilalui.

Adaptif karena terbiasa berubah

Adaptasi tidak bisa diajarkan lewat ceramah tentang perubahan. Ia tumbuh dari pengalaman menyesuaikan diri berkali-kali. Di SABar, ruang kelas bisa berupa saung, kebun, tepi sungai, atau rumah warga. Tema berganti tiap beberapa pekan. Kelompok Market Day berubah. Cuaca di kaki Gunung Slamet sering memaksa rencana diubah mendadak: hujan turun, kegiatan kebun berpindah ke saung, dan anak-anak belajar bahwa rencana boleh berubah tanpa harus kecewa.

Kurikulum pun ikut beradaptasi dengan zaman. Kurikulum nasional disinergikan dengan kurikulum sekolah alam, dan di SD ada kokurikuler koding yang mengenalkan anak pada cara berpikir komputasional, sambil tetap berpijak pada pengalaman nyata. Bagi kami, teknologi adalah salah satu hal baru yang perlu dipelajari dengan sikap yang sama: ingin tahu, berani mencoba, dan tetap berakhlak.

Tumbuh di tengah komunitas pembelajar

Misi SABar menyebut sekolah ini sebagai komunitas pembelajar. Artinya, yang belajar bukan hanya anak. Fasilitator mengikuti upgrading rutin, teaching clinic, dan sesi berbagi. Orang tua belajar lewat Sekolah Orang Tua yang diadakan kira-kira sebulan sekali, Circle of Parents, dan Tapake Ramane untuk para ayah.

Anak yang setiap hari melihat orang dewasa di sekitarnya masih belajar, masih bertanya, masih mencoba hal baru, akan menyimpulkan satu hal penting: belajar bukan sesuatu yang berhenti setelah lulus. Belajar adalah cara hidup. Inilah yang kami harapkan terbawa jauh setelah Sobat SABar meninggalkan kebun dan saung di Baturraden: rasa ingin tahu yang tetap menyala, dan keyakinan bahwa hal yang belum bisa hari ini bisa dipelajari esok hari.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah sekolah alam menyiapkan anak untuk dunia yang serba digital?
Kami meyakini bekal utamanya adalah kesanggupan belajar hal baru dan akhlak dalam memakainya. Di SD ada kokurikuler koding, dan di jenjang lain teknologi dipakai sesuai kebutuhan, tetapi pengalaman nyata tetap menjadi pintu masuk utama.
Bagaimana lulusan SABar beradaptasi ketika pindah ke sekolah dengan sistem berbeda?
Pengalaman setiap anak berbeda, dan kami tidak ingin menjanjikan yang tidak bisa dipastikan. Yang dilatih di SABar adalah kebiasaan menyesuaikan diri dengan lingkungan, orang, dan aturan baru, yang kami harapkan berguna di mana pun anak melanjutkan.
Apakah belajar sepanjang hayat berarti anak tidak perlu nilai akademik?
Bukan. Murid SD dan SM tetap mengikuti kurikulum nasional dan penilaian berkala. Yang kami jaga adalah agar nilai tidak menjadi satu-satunya alasan anak belajar.
Bagaimana orang tua bisa ikut menjaga rasa ingin tahu anak di rumah?
Dengan menjawab pertanyaan anak dengan pertanyaan balik, mengizinkannya mencoba dan gagal, dan ikut belajar bersama lewat Sekolah Orang Tua. Fasilitator biasanya membagikan saran untuk di rumah dalam Progress Report.

Perjalanan belajar sepanjang hayat dimulai dari satu langkah: datang dan melihat. Ayah Bunda dipersilakan berkunjung ke SABar, berbincang dengan admin SPMB, dan ikut merasakan bagaimana rasanya belajar bersama alam.