Mengapa SABar
Kami sengaja tidak menjawabnya dengan daftar fasilitas. Yang ingin kami ceritakan adalah apa yang terjadi pada anak, dan pada keluarga, ketika mereka bergabung.
Alasan pertama hampir selalu tentang kemandirian. Anak yang semula harus disuapi mulai makan sendiri. Anak yang biasa ditunggui mulai melepas tangan orang tuanya di gerbang. Anak yang tidak pernah menyentuh piring kotor mulai mencuci piringnya sendiri setelah makan siang, lalu tanpa diminta melakukannya juga di rumah.
Perubahan ini tidak terjadi karena ada "pelajaran kemandirian", melainkan karena di Sekolah Alam Baturraden (SABar) hal-hal kecil itu dilakukan setiap hari, oleh semua anak, bersama fasilitator yang melakukannya lebih dulu. Memakai sepatu bot sendiri, menyiapkan jas hujan, mengecek bekal, merapikan tempat makan. Ketika kebiasaan yang sama diteruskan di rumah, perubahannya menjadi milik anak, bukan milik sekolah.
Banyak orang tua menginginkan sekolah yang agamanya kuat. Yang mereka temukan di SABar mungkin sedikit berbeda dari bayangan: bukan jam pelajaran agama yang panjang, melainkan nilai yang dipraktikkan dalam setiap kegiatan. Salat dhuha dan doa di pagi hari, muroja'ah di circle time, Al-Qur'an dengan metode Ummi yang ditekankan pada pengamalannya, dan ayat inspirasi yang membuka tema pekan.
Pesan para pendiri yang masih dipegang sampai hari ini adalah: apa pun kegiatannya, akhlak sebagai pijakannya. Bagi orang tua, ini berarti anak belajar jujur saat menghitung uang Market Day, belajar sabar saat menunggu temannya di jalur trekking, dan belajar bersyukur saat memanen apa yang ditanamnya sendiri. Akhlak yang dipelajari dengan cara ini cenderung menetap, karena anak mengalaminya, bukan sekadar mendengarnya.
Kekhawatiran yang paling sering kami dengar dari calon orang tua adalah soal akademik: apakah anak akan tertinggal? Jawabannya ada pada status sekolah dan cara belajarnya. TK dan SD Alam Baturraden adalah sekolah formal yang menjalankan kurikulum nasional, disinergikan dengan kurikulum sekolah alam Belajar Bersama Alam. Sekolah Menengah berjalan lewat pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C di bawah PKBM Alam Purwokerto.
Yang berbeda adalah pintu masuknya. Perkalian dipelajari dari jarak tanam di raised bed. Teks laporan dipelajari dari pengamatan di kebun atau gua. Kosakata bahasa Inggris masuk lewat worksheet pekanan dan program bahasa Inggris setiap Sabtu. Bahasa dan aksara Jawa dipelajari sebagai bagian dari kearifan lokal. Murid SD dan SM tetap membawa buku, meski tidak sebanyak sekolah umum, dan tetap mengikuti penilaian berkala. Anak tidak kehilangan akademik; ia mendapatkannya dengan alasan untuk peduli.
Orang tua sering merasa anaknya "belum kelihatan bakatnya". Di SABar, fasilitator adalah pengamat potensi, dan kesempatan mencoba disediakan luas: farming, perkusi, gerak dan lagu, memasak, crafting, olahraga air, bisnis, sains, menulis. Pengamatan dicatat dan dibicarakan bersama orang tua dalam Progress Report tiap triwulan, dan di SD ada rapor bakat di samping rapor narasi.
Karena tidak ada ranking, anak tidak perlu menjadi juara untuk merasa berharga. Anak yang kuat di kebun dan anak yang kuat di presentasi sama-sama mendapat panggungnya: Market Day, Festival Talent, pentas akhir tahun, Pitching Business. Bagi orang tua, ini berarti sekolah membantu melihat anak secara utuh, bukan hanya dari satu angka.
Sebagian keluarga datang ke SABar karena memiliki anak berkebutuhan khusus dan mencari sekolah yang sungguh-sungguh inklusif, dengan pendekatan SaNGaT SABar (Special Needs Green Therapy) yang menyatukan pendidikan dan terapi dalam keseharian. Sebagian lain datang untuk anak reguler, lalu menemukan bahwa belajar bersama teman yang beragam justru menumbuhkan empati yang tidak bisa diajarkan di buku.
Kelas inklusi, Sekolah Kemandirian (Sun Class), dan SABar Learning Centre (Coral Class) di Cilacap berada dalam satu ekosistem. Bentuk dukungan untuk tiap anak dibicarakan bersama orang tua setelah masa observasi.
Dua alasan terakhir sering baru disadari setelah bergabung. Pertama, jalur SABar berlanjut dari Play Group sampai jenjang setara SMA. Keluarga tidak perlu mencari sekolah dengan pendekatan serupa setiap kali anak naik jenjang, dan kebiasaan yang ditanam sejak Mercury Class terus dirawat sampai Andromeda Class.
Kedua, orang tua tidak dibiarkan sendirian. Sekolah Orang Tua diadakan kira-kira sebulan sekali, Progress Report dibicarakan langsung tiap triwulan, ada Parent Day ketika orang tua menjadi guru tamu, Family Camp, Circle of Parents, dan komunitas ayah Tapake Ramane. Banyak orang tua menemukan bahwa mereka ikut belajar mengasuh dengan cara yang lebih tenang. Bagi kami, inilah arti sekolah yang tidak menggantikan orang tua, tetapi berjalan bersama mereka.
Alasan yang paling meyakinkan untuk memilih sebuah sekolah bukan yang tertulis di situsnya, melainkan yang Ayah Bunda lihat sendiri. Mari datang ke Baturraden, ikuti satu pagi bersama anak-anak, dan berbincang dengan admin SPMB SABar.