← Kabar

Sejarah Sekolah Alam Baturraden di Kaki Gunung Slamet

01 November 2026 · Filosofi Sekolah Alam

Sejarah Sekolah Alam Baturraden di Kaki Gunung Slamet

Pagi di Baturraden sering dibuka dengan kabut yang turun pelan dari lereng Gunung Slamet. Udara dingin, suara air mengalir di selokan, dan hijau yang seolah tidak ada habisnya. Bagi sebagian orang, ini sekadar tempat wisata akhir pekan. Bagi sebagian lainnya, lanskap seperti ini memunculkan pertanyaan: mengapa anak-anak harus belajar alam hanya dari buku, padahal alam ada tepat di depan mata? Dari pertanyaan sederhana semacam itulah sejarah Sekolah Alam Baturraden bisa dipahami.

Ayah Bunda, setiap sekolah punya cerita tentang bagaimana ia bermula. Tulisan ini tidak bermaksud menyusun daftar tanggal dan tonggak, tetapi mengajak memahami gagasan dan nilai yang membentuk perjalanan SABar sampai hari ini.

Gagasan yang Lahir dari Lanskap

Sekolah alam di Indonesia tumbuh dari kegelisahan yang serupa di banyak tempat. Ada orang tua dan pendidik yang merasa anak-anak terlalu lama duduk di ruang tertutup, terlalu banyak menghafal, dan terlalu jauh dari pengalaman nyata. Mereka membayangkan sekolah di mana kebun, sungai, dan hutan menjadi ruang kelas, dan di mana karakter serta keterampilan hidup mendapat tempat yang sama pentingnya dengan nilai rapor.

Di Banyumas, gagasan ini menemukan rumah yang sangat cocok. Kaki Gunung Slamet menawarkan hutan, aliran air, perbukitan, dan lahan pertanian yang bisa dijangkau anak. Lingkungan seperti ini bukan latar belakang yang indah semata, melainkan bahan ajar yang hidup. Sejarah Sekolah Alam Baturraden tidak bisa dilepaskan dari lanskap tempat ia berdiri.

Dari Satu Langkah ke Beberapa Unit

Sejak tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Alam Baturraden (SABar) bernaung di bawah Yayasan Sekolah Rumah Indonesia, dan pengelolaannya sehari-hari dijalankan oleh para pengurus serta kepala sekolah tiap unit agar sekolah dapat berkembang lebih pesat. Gagasan yang dulu ditanam para pendiri kini dirawat bersama oleh lebih banyak tangan. Dalam perjalanannya, SABar berkembang menjadi beberapa unit yang melayani kebutuhan berbeda. Ada TK Alam Baturraden untuk anak usia dini, dengan Mercury Class dan Venus Class. Ada SD Alam Baturraden dengan enam kelas bernama planet, dari Earth Class hingga Neptune Class.

Lalu ada PKBM Alam Purwokerto yang membawahi tiga unit: Sekolah Menengah untuk jenjang setara SMP dan SMA melalui pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C, Sekolah Kemandirian sebagai unit inklusi bagi anak berkebutuhan khusus, serta SABar Learning Centre di Kabupaten Cilacap yang juga melayani pendidikan inklusi.

Perkembangan ini menggambarkan satu hal: kebutuhan keluarga ternyata beragam. Ada anak yang butuh lanjutan setelah SD, ada remaja yang butuh jalur belajar yang lebih lentur dan fokus pada minat bakat, dan ada anak berkebutuhan khusus yang butuh ruang belajar yang menerima mereka sepenuhnya. Sebagian jejaknya bisa dibaca di data resmi pemerintah: data referensi Kemendikdasmen mencatat izin operasional SD Alam Baturraden mulai berlaku pada Desember 2014, TK Alam Baturraden pada Mei 2018, dan PKBM Alam Purwokerto pada November 2019. Tanggal izin itu menandai pengakuan resmi, belum tentu hari pertama anak-anak belajar di sana. Catatan sekolah sendiri menyebut TK Alam Baturraden berdiri pada September 2011 dan mulai beroperasi pada Juli 2012. PKBM Alam Purwokerto pun lahir dari permintaan para orang tua yang anaknya akan lulus dari Sekolah Alam Baturraden dan membutuhkan lanjutan.

Nilai yang Tetap Dipegang

Sekolah bisa bertambah unit, bangunan bisa berganti, kurikulum nasional bisa berubah. Namun ada nilai yang menjadi benang merah dalam sejarah Sekolah Alam Baturraden. Pertama, alam sebagai ruang belajar, bukan sekadar pemandangan. Anak SD, misalnya, belajar lewat trekking, jungle cooking, dan kunjungan belajar ke tempat-tempat seperti Bukit Pandang Munggang dan Saung Baswet Sumbang.

Kedua, kemandirian dan keterampilan hidup. Kegiatan life skill seperti housekeeping, memasak, tali-temali, dan public speaking menunjukkan bahwa sekolah memandang anak sebagai calon orang dewasa yang perlu bisa mengurus dirinya dan lingkungannya.

Ketiga, nilai keislaman yang dihidupkan dalam keseharian, tampak dari program seperti tahfidz Juz 29 untuk kelas 3, Quranic Camp, dan kurikulum aqil baligh. Keempat, keterbukaan bagi keberagaman anak, yang terlihat dari hadirnya unit-unit inklusi.

Belajar Bersama Orang Tua

Pemandangan hijau kaki Gunung Slamet dengan anak-anak belajar di alam terbuka

Satu hal lain yang menyertai perjalanan SABar adalah keyakinan bahwa pendidikan anak tidak bisa dikerjakan sekolah sendirian. Karena itu ada Sekolah Orang Tua (SOS), ruang bagi Ayah Bunda untuk belajar dan berdiskusi tentang pengasuhan. Sekolah dan rumah diharapkan berjalan searah, saling menguatkan, bukan saling melempar tanggung jawab.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat kebijakan pendidikan nasional yang menekankan keterlibatan keluarga, sebagaimana bisa Ayah Bunda telusuri di laman Kemendikdasmen.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana sejarah Sekolah Alam Baturraden bermula?

SABar tumbuh dari kegelisahan bahwa anak terlalu lama belajar di ruang tertutup dan jauh dari pengalaman nyata. Lanskap kaki Gunung Slamet di Banyumas menjadi rumah yang cocok bagi gagasan menjadikan alam sebagai ruang kelas.

Kapan unit-unit SABar mendapat izin operasional?

Data referensi Kemendikdasmen mencatat izin operasional SD Alam Baturraden berlaku sejak Desember 2014, TK Alam Baturraden sejak Mei 2018, dan PKBM Alam Purwokerto sejak November 2019. Catatan sekolah menyebut TK Alam Baturraden berdiri pada September 2011.

Di bawah yayasan apa SABar saat ini?

Sejak tahun ajaran 2026/2027, SABar bernaung di bawah Yayasan Sekolah Rumah Indonesia, dan pengelolaan sehari-hari dijalankan para pengurus serta kepala sekolah tiap unit.

Nilai apa yang menjadi benang merah perjalanan SABar?

Alam sebagai ruang belajar, kemandirian dan keterampilan hidup, nilai keislaman yang dihidupkan dalam keseharian, serta keterbukaan bagi keberagaman anak melalui unit-unit inklusi.

Sejarah yang Masih Ditulis

Sejarah sebuah sekolah tidak pernah benar-benar selesai. Setiap angkatan murid, setiap guru yang datang, setiap keluarga yang bergabung ikut menambah halaman baru. Sejarah Sekolah Alam Baturraden pun masih terus ditulis, di bawah kabut Baturraden yang sama, oleh anak-anak yang belajar mengenal dunia lewat tanah, air, dan pepohonan di sekitarnya.

Ayah Bunda, apa yang pertama kali membuat tertarik pada sekolah alam, kenangan masa kecil, kegelisahan tentang pendidikan, atau hal lain? Ceritakan di kolom komentar, ya, karena cerita Ayah Bunda juga bagian dari perjalanan ini. Silakan bagikan tulisan ini kepada keluarga atau kerabat yang ingin mengenal SABar lebih dekat. Bila ingin mendengar kisahnya langsung, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, berbincang dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

SABar School Sekolah Alam Baturraden gunung slamet sejarah

Kabar lainnya

← Semua kabar