← Kabar

Menjelaskan Aqiqah pada Anak dan Maknanya

02 November 2026 · Islam & Adab Keluarga

Menjelaskan Aqiqah pada Anak dan Maknanya

Rumah sedang ramai. Bau gulai kambing menguar dari dapur, para tetangga datang membawa doa, dan di tengah ruang tamu seorang bayi mungil tertidur di pangkuan neneknya. Kakaknya yang berusia enam tahun berdiri di pojok, memperhatikan semua kesibukan itu dengan bingung. Ia lalu menarik ujung baju ayahnya dan bertanya, "Yah, kenapa adik dipotong rambutnya? Terus kenapa ada kambing?" Pertanyaan polos seperti ini adalah kesempatan emas untuk menjelaskan aqiqah pada anak.

Banyak Ayah Bunda yang menjawab seadanya karena sedang sibuk menjamu tamu. Padahal, momen ketika anak melihat langsung sebuah ibadah adalah saat terbaik untuk menanamkan maknanya. Penjelasan yang sederhana dan hangat bisa membekas jauh lebih lama daripada pelajaran di buku.

Aqiqah sebagai Ungkapan Terima Kasih

Cara paling mudah untuk memulai adalah dari perasaan yang dekat dengan anak: rasa senang dan terima kasih. Ayah Bunda bisa berkata, "Kita senang sekali adik lahir dengan selamat. Karena itu, kita berterima kasih kepada Allah dengan menyembelih kambing, lalu dagingnya kita bagikan supaya orang lain ikut senang."

Inilah inti aqiqah: syukur atas karunia seorang anak. Dalam ajaran Islam, aqiqah termasuk amalan sunnah yang sangat dianjurkan menurut mayoritas ulama. Ada hadis dari Samurah bin Jundub yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan perawi lainnya, yang maknanya menyebutkan bahwa setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama. Untuk anak kecil, cukup sampaikan intinya: aqiqah adalah cara keluarga muslim menyambut bayi dengan syukur dan doa.

Tiga Hal yang Bisa Dilihat Anak

Anak perempuan berkerudung membantu ibu berkerudung membagikan makanan kepada tetangga

Menjelaskan aqiqah pada anak akan lebih mudah bila dikaitkan dengan apa yang ia saksikan sendiri. Setidaknya ada tiga hal yang biasanya terjadi dan bisa dijelaskan satu per satu.

Pertama, penyembelihan hewan. Jelaskan bahwa untuk bayi laki-laki biasanya disembelih dua ekor kambing dan untuk bayi perempuan satu ekor, sebagaimana dijelaskan dalam hadis dan dipegang banyak ulama. Bila anak merasa kasihan pada kambing, hargai perasaannya. Katakan bahwa hewan itu disembelih dengan cara yang baik, dengan menyebut nama Allah, dan dagingnya menjadi rezeki bagi banyak orang.

Kedua, mencukur rambut bayi. Anak sering merasa lucu melihat adiknya botak. Ceritakan bahwa mencukur rambut adalah bagian dari sunnah menyambut bayi, dan sebagian keluarga juga bersedekah senilai perak seberat rambut yang dicukur.

Ketiga, pemberian nama. Ini bagian yang paling disukai anak. Ajak ia mengetahui arti nama adiknya dan mengapa nama itu dipilih. "Nama adik artinya cahaya. Ayah dan Bunda berdoa semoga adik jadi cahaya buat keluarga, sama seperti doa waktu kamu diberi nama dulu."

Dari Dapur ke Rumah Tetangga

Salah satu hal yang membedakan aqiqah dengan kurban adalah dagingnya yang umumnya dibagikan dalam keadaan sudah dimasak. Ini kesempatan bagus untuk melibatkan anak. Ajak ia ikut membagikan bingkisan kepada tetangga, kerabat, atau orang yang membutuhkan. Saat menyerahkan, ia bisa berkata, "Ini dari keluarga kami, untuk syukuran adik."

Pengalaman memberi seperti ini mengajarkan bahwa kebahagiaan keluarga juga perlu dirasakan oleh orang di sekitar kita. Anak belajar bahwa syukur tidak berhenti di ucapan alhamdulillah, tetapi berlanjut menjadi berbagi.

Ada beberapa hal yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, misalnya bila aqiqah tidak sempat dilaksanakan pada hari ketujuh, atau bila keluarga belum mampu saat itu. Untuk hal-hal teknis seperti ini, Ayah Bunda sebaiknya bertanya kepada ustaz atau ulama yang dipercaya, atau merujuk pada bimbingan dari Kementerian Agama. Kepada anak, cukup tekankan bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya.

Belajar Adab dari Pengalaman di SABar

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), pendidikan agama dihubungkan dengan pengalaman nyata dan kehidupan sehari-hari. Murid SD Alam Baturraden belajar dengan kurikulum aqil baligh, yang membantu mereka memahami ajaran agama sesuai tahapan usianya. Kegiatan seperti jungle cooking juga mengajak anak memahami asal-usul makanan dan pentingnya mensyukuri rezeki, nilai yang sangat dekat dengan makna aqiqah.

Ketika apa yang dipelajari di sekolah bertemu dengan peristiwa di rumah, seperti aqiqah adik atau sepupu, anak mendapat pelajaran yang utuh: ia tahu alasannya, melihat praktiknya, dan merasakan maknanya. Itulah mengapa menjelaskan aqiqah pada anak paling mengena bila dilakukan tepat di tengah peristiwanya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara menjelaskan aqiqah pada anak kecil dengan sederhana?

Mulailah dari perasaan senang dan terima kasih: adik lahir dengan selamat, jadi keluarga bersyukur kepada Allah dengan menyembelih kambing dan membagikan dagingnya. Kaitkan penjelasan dengan apa yang anak lihat langsung saat acara berlangsung.

Apa saja yang dilakukan saat aqiqah?

Umumnya ada penyembelihan hewan, mencukur rambut bayi, dan pemberian nama. Untuk bayi laki-laki biasanya disembelih dua ekor kambing dan untuk bayi perempuan satu ekor, sebagaimana dipegang banyak ulama.

Apa bedanya aqiqah dengan kurban yang mudah dipahami anak?

Salah satu perbedaannya, daging aqiqah umumnya dibagikan dalam keadaan sudah dimasak. Anak bisa diajak ikut mengantarkan bingkisan kepada tetangga dan kerabat sebagai bentuk syukuran atas kelahiran adiknya.

Bagaimana jika aqiqah tidak sempat dilaksanakan pada hari ketujuh?

Hal ini termasuk yang diperselisihkan ulama. Untuk urusan teknis seperti ini, sebaiknya bertanya kepada ustaz atau ulama yang dipercaya. Kepada anak, cukup tekankan bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya.

Menyambung Cerita dengan Kisah Dirinya

Penutup yang indah untuk menjelaskan aqiqah pada anak adalah menceritakan aqiqahnya sendiri. Tunjukkan foto atau ceritakan bagaimana keluarga menyambutnya dulu, siapa yang datang, dan doa apa yang dipanjatkan. Anak akan merasa bahwa kelahirannya pun disambut dengan penuh syukur dan cinta.

Ayah Bunda, pertanyaan apa yang pernah dilontarkan si kecil saat melihat acara aqiqah? Ceritakan di kolom komentar, ya. Bila tulisan ini bermanfaat, bagikan kepada saudara atau teman yang sebentar lagi menyambut kelahiran buah hati. Bila ingin berbincang tentang pendidikan Islam untuk anak, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

pendidikan islam syukur sunnah aqiqah

Kabar lainnya

← Semua kabar