← Kabar

Flipped Classroom Adalah Apa? Penjelasan Sederhana

02 November 2026 · Pendekatan Pendidikan

Flipped Classroom Adalah Apa? Penjelasan Sederhana

Malam itu, seorang anak kelas lima duduk di ruang tengah dengan ponsel ibunya. Bukan untuk bermain gim, melainkan menonton video berdurasi delapan menit tentang pecahan yang dikirim gurunya. Sesekali ia menekan tombol jeda, menulis sesuatu di buku, lalu memutar ulang bagian yang belum ia pahami. Keesokan harinya di kelas, waktu yang biasanya habis untuk ceramah guru justru dipakai untuk mengerjakan soal bersama teman. Ayah Bunda yang melihat ini mungkin bertanya, model apa sebenarnya yang sedang dipakai?

Jawabannya: flipped classroom adalah nama model tersebut, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut kelas terbalik. Istilah ini makin sering terdengar, terutama sejak pembelajaran jarak jauh membuat video materi menjadi hal biasa. Namun apa yang sesungguhnya dibalik, dan apakah cocok untuk semua anak?

Apa yang Sebenarnya Dibalik

Dalam kelas tradisional, guru menjelaskan materi di kelas, lalu murid mengerjakan latihan di rumah sebagai pekerjaan rumah. Masalahnya, ketika murid kesulitan mengerjakan soal di rumah, guru tidak ada di sampingnya. Orang tua sering kali menjadi tempat bertanya, padahal belum tentu menguasai materinya.

Flipped classroom adalah upaya membalik urutan itu. Penjelasan materi dipelajari murid lebih dulu di rumah, biasanya melalui video pendek, bacaan, atau rekaman suara. Waktu di kelas kemudian dipakai untuk kegiatan yang membutuhkan pendampingan: berlatih soal, berdiskusi, bereksperimen, atau mengerjakan proyek. Guru berpindah peran dari penceramah menjadi pendamping yang berkeliling membantu murid yang kesulitan.

Model ini dipopulerkan pada akhir 2000-an oleh dua guru kimia di Amerika Serikat, Jonathan Bergmann dan Aaron Sams. Awalnya mereka merekam materi untuk murid yang sering tidak masuk, lalu menyadari bahwa cara itu membuat waktu kelas jauh lebih berharga bagi semua murid.

Bagaimana Wujudnya dalam Keseharian

Anak perempuan berkerudung berdiskusi dalam kelompok kecil di kelas

Dalam praktik, kelas terbalik tidak selalu memakai video. Guru bisa memberi bacaan singkat, cerita bergambar, atau pertanyaan pemantik yang harus dipikirkan anak sebelum datang ke kelas. Yang penting, materi awal itu singkat dan jelas, sehingga anak tidak kewalahan.

Di kelas, kegiatan dirancang agar anak menerapkan apa yang sudah ia pelajari. Misalnya, setelah menonton video tentang siklus air, murid diajak membuat model sederhana dengan plastik dan air di bawah sinar matahari. Setelah membaca tentang pecahan, mereka memotong roti atau kertas menjadi bagian-bagian yang sama. Guru bisa langsung melihat siapa yang sudah paham dan siapa yang masih bingung.

Bagi orang tua, peran di rumah sebenarnya lebih ringan. Ayah Bunda tidak perlu menjelaskan materi; cukup memastikan anak meluangkan waktu untuk menyimak dan mencatat pertanyaannya. Kalimat sederhana seperti "Bagian mana yang paling bikin kamu penasaran?" sudah cukup untuk membantu anak siap berdiskusi esok harinya.

Cocok untuk Siapa, dan Kapan Perlu Hati-Hati

Flipped classroom adalah pendekatan yang cenderung cocok untuk anak yang sudah bisa belajar cukup mandiri, biasanya mulai dari kelas atas SD hingga jenjang menengah. Anak usia TK dan SD awal masih membutuhkan banyak pengalaman langsung dan pendampingan, sehingga memberi mereka materi untuk dipelajari sendiri di rumah sering kali kurang tepat.

Ada pula tantangan yang perlu diperhatikan. Tidak semua keluarga memiliki gawai dan kuota internet yang memadai. Bila materi bergantung pada video, sebagian anak bisa tertinggal sejak awal. Waktu layar juga perlu dijaga, terutama bagi anak yang sudah banyak terpapar gawai. Guru yang baik biasanya menyediakan alternatif, seperti lembar bacaan atau kesempatan menonton di sekolah.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah kebiasaan. Bila anak tidak menyimak materi di rumah, kegiatan di kelas akan terasa membingungkan baginya. Di sinilah kerja sama sekolah dan orang tua dibutuhkan, tanpa membuat rumah berubah menjadi kelas kedua yang menegangkan.

Semangat yang Sama di SABar

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), waktu bersama guru lebih banyak dipakai untuk pengalaman langsung, dan dalam hal ini semangatnya dekat dengan kelas terbalik. Murid SD Alam Baturraden, misalnya, belajar lewat kegiatan seperti Festival Sains dan Fun Math, saat konsep diuji dengan tangan dan dibicarakan bersama, bukan hanya didengarkan.

Bagi Sobat SM di PKBM Alam Purwokerto yang belajar dengan fokus pada minat bakat dan kemandirian, kemampuan mempelajari bahan secara mandiri lalu mendiskusikannya bersama pendamping menjadi bekal yang berguna. Pendekatan apa pun yang dipakai, tujuannya sama: anak aktif membangun pemahamannya sendiri.

Pertanyaan yang sering diajukan

Flipped classroom adalah model belajar seperti apa?

Model yang membalik urutan kelas tradisional. Murid mempelajari materi lebih dulu di rumah lewat video pendek, bacaan, atau rekaman, lalu waktu di kelas dipakai untuk berlatih, berdiskusi, bereksperimen, dan mengerjakan proyek dengan pendampingan guru.

Siapa yang mempopulerkan kelas terbalik?

Model ini dipopulerkan pada akhir 2000-an oleh dua guru kimia di Amerika Serikat, Jonathan Bergmann dan Aaron Sams, yang awalnya merekam materi untuk murid yang sering tidak masuk.

Untuk usia berapa kelas terbalik cocok diterapkan?

Pendekatan ini cenderung cocok untuk anak yang sudah bisa belajar cukup mandiri, biasanya mulai kelas atas SD hingga jenjang menengah. Anak TK dan SD awal masih membutuhkan banyak pengalaman langsung dan pendampingan.

Apa peran orang tua dalam kelas terbalik?

Orang tua tidak perlu menjelaskan materi, cukup memastikan anak meluangkan waktu menyimak dan mencatat pertanyaannya. Perhatikan juga waktu layar dan sampaikan ke sekolah bila keluarga terkendala gawai atau kuota.

Bukan Soal Video, tapi Soal Waktu Bersama

Pada akhirnya, flipped classroom adalah cara menata ulang waktu belajar agar momen bersama guru dipakai untuk hal yang paling membutuhkan pendampingan. Bila diterapkan dengan bijak dan sesuai usia, model ini bisa membuat anak lebih aktif dan lebih percaya diri.

Ayah Bunda, apakah sekolah anak pernah menerapkan sesuatu yang mirip kelas terbalik, dan bagaimana anak menanggapinya? Ceritakan di kolom komentar, ya. Bagikan tulisan ini kepada teman sesama orang tua atau guru yang sedang mencari model belajar yang lebih aktif. Bila ingin berbincang tentang cara anak belajar di sekolah alam, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

metode belajar pendekatan pendidikan flipped classroom kelas terbalik

Kabar lainnya

← Semua kabar