← Kabar

Anak Diejek Teman: Mengajarinya Bersikap Tenang

02 November 2026 · Karakter & Kepemimpinan

Anak Diejek Teman: Mengajarinya Bersikap Tenang

Sore itu, anak lelaki yang biasanya langsung berlari ke dapur mencari camilan pulang dengan wajah murung. Ia melempar tas ke sofa, lalu masuk kamar tanpa bicara. Baru setelah makan malam, sambil memainkan sendoknya, ia berkata pelan, "Tadi aku dipanggil gendut sama teman-teman. Semua ketawa." Ayah Bunda yang mendengarnya pasti merasakan dada yang sesak. Menghadapi anak diejek teman memang menguji kesabaran orang tua, bukan hanya anak.

Reaksi pertama kita bisa macam-macam: marah dan ingin menelepon orang tua si pengejek, atau justru meremehkan dengan berkata, "Ah, cuma bercanda, nggak usah dipikirkan." Keduanya bisa dimengerti, tetapi keduanya belum tentu membantu anak. Yang ia butuhkan pertama kali adalah didengar.

Mendengar Dulu, Menasihati Kemudian

Saat anak bercerita, tahan keinginan untuk langsung memberi solusi. Biarkan ia menyelesaikan ceritanya. Tanyakan apa yang terjadi, siapa saja yang ada di sana, dan bagaimana perasaannya. Ulangi perasaannya dengan kata-kata kita: "Kamu malu dan kesal ya, apalagi waktu semua ikut tertawa."

Dengan cara ini, anak tahu bahwa perasaannya diakui. Ia juga belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk bercerita, bahkan tentang hal yang memalukan. Kepercayaan ini sangat penting, karena bila suatu hari ejekan berubah menjadi perundungan yang lebih serius, anak akan datang kepada kita lebih dulu.

Setelah ia tenang, barulah kita bisa mengajaknya berpikir bersama: apa yang bisa dilakukan bila hal itu terjadi lagi?

Kalimat Pendek yang Bisa Dilatih di Rumah

Ayah berbicara dengan tenang kepada anak laki-lakinya di rumah pada malam hari

Saat anak diejek teman, ia sering bingung harus bagaimana. Membalas dengan ejekan biasanya memperpanjang masalah, sementara menangis kadang membuat pengejek merasa "berhasil". Di antara keduanya, ada respons tenang yang bisa dilatih.

Respons tenang dimulai dari tubuh: tarik napas, berdiri tegak, dan tatap lawan bicara. Lalu ucapkan kalimat pendek dengan suara datar, misalnya "Aku nggak suka dipanggil begitu," "Terserah kamu," atau "Oke," lalu pergi mencari teman lain atau mendekat ke guru. Kalimat semacam ini tidak memberi bahan bakar baru bagi pengejek.

Latihan paling mudah adalah bermain peran. Ayah menjadi teman yang mengejek dengan kata-kata ringan, anak berlatih merespons. Lalu bertukar peran. Awalnya mungkin terasa canggung atau malah lucu, dan itu tidak apa-apa. Tawa justru membantu anak merasa lebih kuat. "Yuk, Nak, coba lagi, kali ini suaramu lebih mantap, ya."

Bantu juga anak mengenali bahwa ejekan lebih banyak menunjukkan sesuatu tentang si pengejek daripada tentang dirinya. Untuk ejekan tentang bentuk tubuh atau ciri fisik, sampaikan dengan tegas bahwa tubuhnya berharga dan tidak ada yang berhak merendahkannya.

Kapan Ejekan Berubah Menjadi Perundungan

Tidak semua kasus anak diejek teman sama beratnya. Godaan sesekali antarteman bisa diatasi dengan respons tenang. Namun Ayah Bunda perlu waspada bila tanda-tanda berikut muncul:

  • Ejekan terjadi berulang kali dan ditujukan kepada anak yang sama.
  • Ada ketimpangan kekuatan, misalnya dilakukan oleh kelompok atau oleh anak yang lebih besar.
  • Disertai kekerasan fisik, ancaman, pengucilan, atau penyebaran lewat media sosial.
  • Anak mulai menolak sekolah, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, atau tampak murung berkepanjangan.

Bila tanda-tanda itu ada, ini bukan lagi soal anak belajar bersikap tenang. Ini saatnya orang dewasa turun tangan. Ajarkan anak untuk melapor kepada guru, dan tekankan bahwa melapor bukan mengadu, melainkan meminta bantuan. Ayah Bunda pun perlu menghubungi wali kelas dengan tenang, menyampaikan fakta yang diketahui, dan meminta sekolah menindaklanjutinya. Sekolah diwajibkan menangani kekerasan sesuai aturan pemerintah; ketentuannya bisa dicek di laman Kemendikdasmen.

Percaya Diri yang Tumbuh dari Tantangan di SABar

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), rasa percaya diri anak banyak tumbuh dari tantangan fisik dan sosial yang dijalani bersama. Murid SD Alam Baturraden mengenal wall climbing dan rappelling, kegiatan yang menuntut anak mengelola rasa takut sambil didukung teman dan pendamping. Pengalaman berhasil melewati tantangan seperti itu memberi anak keyakinan bahwa ia mampu, keyakinan yang juga terbawa saat ia menghadapi kata-kata yang menyakitkan.

Kegiatan public speaking juga melatih anak berbicara dengan suara yang jelas dan sikap tubuh yang tegak. Anak yang terbiasa menyampaikan pendapat di depan orang lain biasanya lebih siap berkata "Aku nggak suka dipanggil begitu" tanpa gemetar.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak diejek teman?

Dengarkan ceritanya sampai selesai tanpa buru-buru memberi solusi, lalu akui perasaannya. Setelah anak tenang, ajak ia berpikir bersama tentang cara merespons bila ejekan terulang.

Bagaimana cara mengajari anak membalas ejekan tanpa bertengkar?

Latih respons tenang: tarik napas, berdiri tegak, tatap lawan bicara, lalu ucapkan kalimat pendek dengan suara datar seperti aku nggak suka dipanggil begitu, kemudian pergi mendekat ke teman lain atau guru. Bermain peran di rumah membantu anak lebih mantap.

Kapan ejekan sudah termasuk perundungan?

Ejekan patut diwaspadai bila terjadi berulang pada anak yang sama, ada ketimpangan kekuatan, disertai kekerasan, ancaman, pengucilan, atau penyebaran lewat media sosial, dan anak mulai menolak sekolah atau murung berkepanjangan. Pada titik itu orang dewasa perlu turun tangan.

Apakah anak perlu melapor ke guru bila terus diejek?

Perlu. Tekankan bahwa melapor bukan mengadu, melainkan meminta bantuan. Orang tua juga sebaiknya menghubungi wali kelas dengan tenang, menyampaikan fakta yang diketahui, dan meminta sekolah menindaklanjutinya.

Rumah sebagai Tempat Pulang yang Menguatkan

Menghadapi anak diejek teman bukan tentang membuat anak kebal terhadap semua kata-kata kasar. Ini tentang membekalinya dengan cara merespons, memastikan ia tahu kapan harus meminta bantuan, dan meyakinkannya bahwa di rumah ada orang yang selalu berpihak padanya.

Ayah Bunda, kalimat apa yang paling ampuh dipakai anak saat menghadapi ejekan di sekolah? Ceritakan di kolom komentar, ya, agar orang tua lain bisa ikut mencoba. Bagikan tulisan ini kepada pasangan atau grup WhatsApp kelas, karena ejekan antaranak adalah urusan kita bersama. Bila ingin berbincang lebih jauh tentang membangun percaya diri anak, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

regulasi emosi perundungan percaya diri diejek

Kabar lainnya

← Semua kabar