Anak Tidak Mau Sekolah: Penyebab dan Cara Membantunya
29 Oktober 2026
29 Oktober 2026 · Belajar & Literasi
Dalam sebuah pertemuan wali murid, seorang ayah yang juga guru SMP negeri mengangkat tangan. "Di sekolah saya sekarang ada proyek, ada pembelajaran berdiferensiasi, ada asesmen formatif. Kok rasanya mirip yang dikerjakan anak saya di sekolah alam, ya?" Pertanyaan itu memancing senyum beberapa orang tua. Topik Kurikulum Merdeka sekolah alam memang sering memunculkan rasa penasaran: apa hubungan keduanya, dan apakah sekolah alam juga mengikuti kurikulum nasional?
Ayah Bunda mungkin punya pertanyaan serupa, terutama bila khawatir anak di sekolah alam akan "berbeda jalur" dari teman-temannya di sekolah lain. Mari kita urai pelan-pelan.
Kurikulum Merdeka adalah kebijakan kurikulum nasional yang memberi ruang lebih luas bagi sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid dan konteks setempat. Di dalamnya ada penekanan pada pembelajaran berbasis proyek, penyederhanaan materi agar lebih mendalam, asesmen untuk memahami perkembangan murid, serta penguatan karakter. Kebijakan kurikulum bisa terus diperbarui, jadi Ayah Bunda sebaiknya memeriksa informasi resmi terbaru di laman Kemendikdasmen.
Sekolah alam sendiri tumbuh di Indonesia sebagai gerakan pendidikan yang menekankan belajar dari lingkungan, pengalaman langsung, dan pembentukan karakter. Keduanya lahir dari latar yang berbeda dan berkembang di jalannya masing-masing. Namun keduanya bersandar pada gagasan pendidikan yang sama-sama sudah lama dikenal: anak belajar lebih bermakna ketika pelajaran terhubung dengan kehidupan nyata.
Karena itu, wajar bila banyak praktik terlihat bertemu. Bukan soal siapa meniru siapa, melainkan karena keduanya menimba dari sumur pemikiran pendidikan yang serupa.
Titik temu pertama adalah proyek. Dalam Kurikulum Merdeka ada proyek yang menguatkan karakter dan kompetensi murid. Di sekolah alam, belajar lewat proyek dan tema sudah menjadi keseharian, misalnya mengamati tanaman selama beberapa pekan atau menyiapkan dagangan untuk kegiatan jual beli.
Titik temu kedua adalah pembelajaran kontekstual. Kurikulum Merdeka mendorong sekolah memanfaatkan potensi lingkungan sekitar. Sekolah alam sejak awal menjadikan alam dan masyarakat sekitar sebagai ruang belajar.
Titik temu ketiga adalah cara menilai. Asesmen yang menekankan perkembangan murid, bukan sekadar angka akhir, sejalan dengan kebiasaan sekolah alam yang memakai pengamatan, portofolio, dan laporan naratif.
Meski banyak yang selaras, Kurikulum Merdeka sekolah alam tidak sepenuhnya identik dalam praktik. Kurikulum nasional adalah kerangka yang berlaku untuk sekolah dengan kondisi sangat beragam, dari kota besar hingga pelosok. Ia menetapkan capaian pembelajaran yang perlu dicapai murid di setiap fase.
Sekolah alam umumnya tetap mengacu pada capaian itu, lalu menambahkan warna khasnya: porsi kegiatan luar ruang yang lebih besar, program keterampilan hidup, dan pendekatan karakter yang dirancang sendiri. Dengan kata lain, kurikulum nasional menjadi fondasi, sedangkan pendekatan sekolah alam menjadi cara meramunya dalam keseharian.
Bagi orang tua, hal ini berarti anak di sekolah alam tetap belajar materi yang dipelajari teman sebayanya di sekolah lain, hanya saja jalan menuju ke sana bisa berbeda.

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), keselarasan itu tampak dalam kegiatan sehari-hari murid SD. Festival Sains, misalnya, memberi ruang bagi murid untuk menyelidiki pertanyaan, mencatat temuan, dan mempresentasikannya, sejalan dengan semangat belajar berbasis proyek. Kunjungan belajar ke tempat-tempat di sekitar Banyumas menghadirkan konteks nyata, sementara Fun Math dan Fun English membantu anak menguasai kemampuan dasar dalam suasana yang menyenangkan.
Ayah Bunda yang ingin tahu bagaimana capaian pembelajaran nasional dipetakan ke dalam tema dan kegiatan di SABar dapat menanyakannya langsung kepada sekolah.
Sekolah alam umumnya tetap mengacu pada capaian pembelajaran nasional, lalu menambahkan warna khasnya seperti kegiatan luar ruang, keterampilan hidup, dan pendekatan karakter. Kurikulum nasional menjadi fondasi, pendekatan sekolah alam menjadi cara meramunya.
Ada tiga titik temu utama: belajar lewat proyek, pembelajaran kontekstual yang memanfaatkan lingkungan sekitar, dan asesmen yang menekankan perkembangan murid, bukan sekadar angka akhir.
Anak di sekolah alam tetap mempelajari materi yang dipelajari teman sebayanya di sekolah lain. Yang bisa berbeda adalah jalan menuju ke sana, misalnya lewat tema, proyek, dan kegiatan di alam.
Kebijakan kurikulum bisa terus diperbarui, jadi sebaiknya periksa informasi resmi di laman Kemendikdasmen dan tanyakan kepada sekolah bagaimana capaian pembelajaran dipetakan ke dalam kegiatannya.
Kurikulum, sebaik apa pun di atas kertas, akhirnya hidup di tangan guru dan di keseharian kelas. Karena itu, saat menimbang Kurikulum Merdeka sekolah alam atau sekolah mana pun, perhatikan bagaimana pembelajaran benar-benar berjalan: apakah anak antusias, apakah guru mengenal murid satu per satu, dan apakah orang tua dilibatkan.
Ayah Bunda, bagian mana dari Kurikulum Merdeka yang paling ingin dipahami lebih jauh, proyek, asesmen, atau capaian belajarnya? Ceritakan di kolom komentar, ya. Bagikan tulisan ini kepada sesama orang tua yang sedang mempelajari perubahan kurikulum. Kalau ingin berdiskusi langsung, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, mengobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).
29 Oktober 2026
29 Oktober 2026
29 Oktober 2026