← Kabar

Anak Tidak Mau Sekolah: Penyebab dan Cara Membantunya

29 Oktober 2026 · Karakter & Kepemimpinan

Anak Tidak Mau Sekolah: Penyebab dan Cara Membantunya

Senin pagi, seragam sudah tersetrika rapi di kursi. Tetapi anak kelas dua itu masih bergelung di balik selimut, mengeluh perutnya sakit. Minggu lalu kepalanya yang pusing, minggu sebelumnya kakinya pegal. Ibunya mulai curiga, keluhan itu selalu datang di hari sekolah dan menghilang di hari libur. Ketika anak tidak mau sekolah seperti ini, rasa bingung, kesal, dan khawatir bercampur jadi satu dalam diri orang tua.

Ayah Bunda yang sedang mengalaminya, tarik napas dulu. Penolakan sekolah adalah hal yang cukup sering terjadi pada anak, dan hampir selalu ada pesan di baliknya. Tugas kita adalah membaca pesan itu.

Di Balik Kalimat "Aku Nggak Mau Sekolah"

Anak jarang bisa menjelaskan dengan tepat apa yang ia rasakan. Kalimat "nggak mau sekolah" bisa berarti banyak hal. Mungkin ia takut pada sesuatu: guru yang suaranya keras, teman yang sering mengejek, atau pelajaran yang terasa terlalu sulit. Mungkin ia cemas berpisah dari orang tua, terutama setelah libur panjang, sakit, atau ada perubahan di rumah seperti kelahiran adik atau pindah rumah.

Ada pula penyebab yang lebih sederhana tetapi sering terlewat: anak kurang tidur karena terlalu lama menatap gawai, lelah karena jadwal terlalu padat, atau lapar karena melewatkan sarapan. Di sisi lain, ada juga anak yang menghindari sekolah karena mengalami perundungan dan belum berani bercerita.

Keluhan fisik seperti sakit perut atau pusing bisa saja merupakan ungkapan kecemasan, tetapi tetap perlu diperiksa. Jangan langsung menganggapnya pura-pura, sebab bisa juga ada masalah kesehatan yang nyata.

Mendengar Sebelum Membujuk

Langkah pertama adalah mencari waktu tenang untuk bicara, bukan di pagi hari saat semua orang terburu-buru. Malam sebelum tidur atau saat berjalan santai sore hari biasanya lebih cocok. Mulailah dengan pertanyaan terbuka yang tidak menghakimi. "Bagian mana dari sekolah yang paling bikin kamu nggak nyaman?" atau "Kalau sekolah bisa diubah satu hal, kamu mau ubah apa?"

Dengarkan sampai selesai. Hindari langsung membantah dengan "ah, itu kan biasa" atau "kamu harus kuat". Anak yang merasa didengar akan lebih mudah membuka diri. Kadang jawabannya baru keluar setelah beberapa hari, jadi bersabarlah.

Setelah itu, hubungi guru atau wali kelas. Guru melihat sisi yang tidak terlihat dari rumah: bagaimana anak bergaul, kapan ia tampak murung, dan apakah ada kejadian tertentu. Kerja sama rumah dan sekolah adalah kunci.

Langkah Kecil Kembali ke Sekolah

Para ahli umumnya menyarankan agar anak tetap bersekolah sebisa mungkin, karena semakin lama menghindar, semakin berat untuk kembali. Namun cara kembalinya bisa dibuat bertahap dan penuh dukungan. Buat rutinitas pagi yang tenang dan dapat diprediksi. Siapkan perlengkapan sejak malam. Saat mengantar, pamitlah dengan singkat dan hangat, lalu tepati janji menjemput.

Beri anak sesuatu untuk dinantikan, misalnya bekal kesukaannya atau kegiatan bersama sepulang sekolah. Pujilah usahanya, bukan hanya hasilnya. "Ayah bangga, tadi kamu tetap masuk walaupun deg-degan."

Bila anak tidak mau sekolah selama berminggu-minggu, keluhannya makin berat, atau ada tanda depresi, kecemasan berlebihan, maupun perundungan, segera cari bantuan profesional seperti psikolog anak atau dokter. Penanganan lebih awal biasanya membuat pemulihan lebih mudah.

Sekolah yang Ingin Didatangi

Ibu mengantar anaknya dengan gembira menuju gerbang sekolah alam

Pengalaman di sekolah sangat memengaruhi keinginan anak untuk datang kembali. Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), guru berusaha menjadikan sekolah tempat yang aman dan dinanti, misalnya lewat kegiatan seperti trekking atau berenang yang memberi anak kesempatan bergerak, bermain, dan merasakan keberhasilan kecil bersama teman. Pengalaman positif yang berulang perlahan menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

Meski begitu, anak di sekolah mana pun, termasuk sekolah alam, tetap bisa mengalami masa enggan berangkat. Yang terpenting adalah adanya komunikasi terbuka antara guru dan orang tua sehingga masalah cepat terdeteksi dan ditangani bersama.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa penyebab anak tidak mau sekolah?

Penyebabnya beragam: takut pada guru atau teman, pelajaran yang terasa sulit, cemas berpisah dari orang tua, perubahan di rumah, kurang tidur, lelah, lapar, atau mengalami perundungan yang belum berani diceritakan.

Apakah sakit perut sebelum sekolah berarti anak pura-pura?

Belum tentu. Keluhan fisik bisa merupakan ungkapan kecemasan, tetapi bisa juga masalah kesehatan nyata, jadi tetap perlu diperiksa dan jangan langsung dianggap pura-pura.

Bagaimana membantu anak kembali mau berangkat sekolah?

Bicarakan di waktu tenang dengan pertanyaan terbuka, hubungi wali kelas, buat rutinitas pagi yang dapat diprediksi, pamit singkat dan hangat, beri sesuatu untuk dinantikan, dan puji usahanya untuk tetap masuk.

Kapan penolakan sekolah perlu ditangani psikolog?

Bila anak menolak sekolah berminggu-minggu, keluhannya makin berat, atau ada tanda depresi, kecemasan berlebihan, maupun perundungan, segera cari bantuan psikolog anak atau dokter.

Menemani Sampai Ia Siap

Anak tidak mau sekolah bukan tanda ia malas atau nakal. Sering kali itu caranya meminta tolong. Dengan mendengar, mencari tahu penyebabnya, dan melangkah bersama sekolah, kebanyakan anak bisa kembali menemukan semangatnya.

Ayah Bunda, apa alasan yang paling sering diucapkan si kecil ketika enggan berangkat sekolah? Bagikan pengalaman Ayah Bunda di kolom komentar, ya, siapa tahu bisa membantu keluarga lain. Teruskan juga tulisan ini kepada teman atau grup orang tua yang sedang menghadapi hal serupa. Bila ingin berbincang lebih jauh, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

parenting kecemasan anak tidak mau sekolah mogok sekolah

Kabar lainnya

← Semua kabar