← Kabar

Menumbuhkan Minat Baca Anak SD dari Rumah

31 Oktober 2026 · Belajar & Literasi

Menumbuhkan Minat Baca Anak SD dari Rumah

Di sebuah ruang tamu, rak buku berdiri rapi. Isinya ensiklopedia bergambar, buku cerita nabi, dan beberapa komik edukasi yang dibeli saat pameran buku tahun lalu. Sebagian besar masih terbungkus plastik. Anak kelas tiga yang tinggal di rumah itu sebenarnya sudah lancar membaca, tetapi setiap kali punya waktu luang, tangannya lebih cepat meraih gawai. Orang tuanya bingung: buku sudah ada, kemampuan sudah ada, lalu apa yang kurang? Pertanyaan ini adalah inti dari usaha menumbuhkan minat baca anak SD.

Ayah Bunda, bisa membaca dan suka membaca adalah dua hal yang berbeda. Sekolah biasanya mengajarkan yang pertama. Yang kedua lebih banyak tumbuh dari suasana di rumah.

Bisa Membaca Belum Tentu Suka Membaca

Bagi banyak anak, membaca di sekolah identik dengan tugas: membaca teks, lalu menjawab pertanyaan. Tidak ada salahnya, tetapi bila hanya itu pengalaman membaca yang dimiliki anak, wajar bila buku terasa seperti pekerjaan rumah. Minat baca muncul ketika anak merasakan bahwa membaca bisa membawanya ke tempat yang seru, membuatnya tertawa, atau menjawab rasa penasarannya.

Karena itu, menumbuhkan minat baca anak SD tidak dimulai dari target jumlah halaman, melainkan dari pengalaman menyenangkan bersama buku. Target boleh menyusul belakangan, setelah anak sudah merasa membaca adalah kegiatan miliknya sendiri.

Biarkan Anak Memilih Bukunya

Anak perempuan berkerudung memilih buku cerita dari rak buku kecil di rumah, ibu berkerudung tersenyum di dekatnya

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memilihkan buku yang menurut orang dewasa "bermanfaat", padahal anak tidak tertarik. Anak yang suka dinosaurus mungkin enggan membaca kumpulan dongeng, tetapi rela berlama-lama dengan buku tentang fosil. Anak yang senang sepak bola bisa mulai dari biografi pemain favoritnya atau majalah olahraga.

Ajak anak ke perpustakaan daerah atau toko buku, lalu beri ia keleluasaan memilih. Komik, buku bergambar, atau buku tentang hobi tetap terhitung bacaan. Sesudah anak menemukan kenikmatan membaca, jangkauan bacaannya biasanya melebar dengan sendirinya. Bila ingin, Ayah Bunda bisa menyelipkan satu buku pilihan orang tua di antara pilihan anak, tanpa memaksanya.

Perhatikan juga tingkat kesulitan. Buku yang terlalu sulit membuat anak cepat lelah, sedangkan buku yang terlalu mudah membuatnya bosan. Ukuran sederhana: bila dalam satu halaman anak menemukan terlalu banyak kata yang tidak ia pahami, buku itu mungkin perlu ditunda dulu atau dibaca bersama.

Rutinitas Kecil yang Bertahan Lama

Menumbuhkan minat baca anak SD lebih mudah bila membaca punya tempat tetap dalam jadwal keluarga. Tidak perlu lama. Lima belas menit sebelum tidur, tanpa gawai di sekitar, sudah cukup untuk memulai. Konsistensi lebih penting daripada durasi.

Beberapa keluarga punya cara sendiri yang menyenangkan. Ada yang membuat "sudut baca" sederhana dengan bantal dan lampu kecil di pojok kamar. Ada yang membiasakan membaca bergiliran, satu halaman dibaca anak, satu halaman dibaca orang tua. Ada pula yang membawa buku ke mana-mana, sehingga waktu menunggu di ruang praktik dokter atau di stasiun Purwokerto berubah menjadi waktu membaca.

Setelah membaca, ajak anak bercerita. Bukan dengan menguji, "Siapa nama tokoh utamanya?", melainkan dengan mengundang pendapat: "Kalau kamu jadi tokohnya, kamu mau melakukan apa?" Percakapan seperti ini membuat anak merasa bacaannya penting dan didengar.

Teladan yang Diam-diam Ditiru

Anak lebih banyak meniru apa yang kita lakukan daripada apa yang kita katakan. Bila Ayah Bunda ingin anak suka membaca, biarkan ia sering melihat orang tuanya membaca, entah buku, koran, atau bacaan agama. Ceritakan sesekali hal menarik yang baru Ayah Bunda baca. "Bunda baru tahu, ternyata lebah bisa menari untuk memberi tahu temannya di mana bunga berada."

Sebaliknya, bila setiap waktu luang orang tua dihabiskan dengan menggulir layar, anak akan menangkap pesan bahwa itulah cara orang dewasa beristirahat. Tidak perlu sempurna; cukup mulai dengan menyisihkan sebagian waktu layar untuk buku, dan biarkan anak melihatnya.

Membaca yang Hidup di SABar

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), literasi tidak berhenti pada membaca teks di kelas. Salah satu kegiatan di SD adalah Pitching Literasi, saat murid menyampaikan gagasan atau isi bacaan di depan teman dan guru. Ketika anak tahu bahwa apa yang ia baca akan ia ceritakan kepada orang lain, membaca menjadi lebih bertujuan. Latihan public speaking dalam kegiatan life skill juga membantu anak berani menuangkan isi bacaan dengan kata-katanya sendiri.

Kebiasaan ini akan semakin kuat bila disambut di rumah. Anak yang bercerita tentang bukunya saat makan malam, lalu ditanggapi dengan antusias oleh keluarganya, sedang belajar bahwa membaca adalah sesuatu yang layak dibagikan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara menumbuhkan minat baca anak SD yang lebih suka gawai?

Biarkan anak memilih buku sesuai minatnya, sediakan waktu membaca singkat yang konsisten tanpa gawai di sekitar, ajak bercerita setelah membaca, dan tunjukkan bahwa orang tua juga gemar membaca.

Apakah komik termasuk bacaan yang baik untuk anak?

Komik, buku bergambar, atau buku tentang hobi tetap terhitung bacaan. Setelah anak menemukan kenikmatan membaca, jangkauan bacaannya biasanya melebar dengan sendirinya.

Berapa lama anak SD sebaiknya membaca setiap hari?

Tidak perlu lama. Lima belas menit sebelum tidur sudah cukup untuk memulai, karena konsistensi lebih penting daripada durasi.

Bagaimana memilih buku yang tingkat kesulitannya pas?

Bila dalam satu halaman anak menemukan terlalu banyak kata yang tidak ia pahami, buku itu mungkin perlu ditunda atau dibaca bersama. Buku yang terlalu mudah juga bisa membuatnya bosan.

Pelan-pelan, Asal Menyenangkan

Menumbuhkan minat baca anak SD memang butuh kesabaran. Akan ada minggu ketika anak semangat menamatkan dua buku, dan minggu lain ketika ia sama sekali tidak menyentuh rak. Itu wajar. Jaga agar suasana membaca tetap menyenangkan, jangan jadikan buku sebagai hukuman, dan rayakan setiap kemajuan kecil. "Wah, Nak, satu buku sudah tamat! Ceritakan dong bagian yang paling seru." Untuk referensi gerakan literasi nasional, Ayah Bunda juga bisa memantau informasi di laman Kemendikdasmen.

Ayah Bunda, buku apa yang pertama kali membuat si kecil lupa waktu saat membaca? Bagikan judulnya di kolom komentar, ya, supaya bisa jadi rekomendasi untuk orang tua lain. Silakan bagikan juga tulisan ini ke grup WhatsApp kelas atau kepada pasangan agar rutinitas membaca bisa dijalankan bersama. Bila ingin berbincang tentang literasi anak, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

anak sd membaca literasi minat baca

Kabar lainnya

← Semua kabar