← Kabar

Ada PR Tidak di Sekolah Alam? Begini Pendekatannya

31 Oktober 2026 · Belajar & Literasi

Ada PR Tidak di Sekolah Alam? Begini Pendekatannya

Pukul sembilan malam, seorang anak kelas dua masih menunduk di meja makan dengan mata setengah terpejam. Di depannya ada dua lembar soal matematika dan satu halaman menulis halus. Ibunya duduk di sebelah, sama lelahnya, berulang kali berkata "ayo, sedikit lagi". Pemandangan seperti ini akrab bagi banyak keluarga, dan tidak heran bila saat melirik sekolah alam, salah satu pertanyaan pertama orang tua adalah: ada PR tidak di sekolah alam?

Ayah Bunda yang menanyakan hal ini biasanya membawa dua harapan sekaligus. Di satu sisi ingin anak punya waktu bermain dan istirahat. Di sisi lain khawatir, kalau tanpa PR, apakah anak tetap belajar?

PR yang Membuat Lelah, PR yang Membuat Penasaran

Pekerjaan rumah sebenarnya bukan musuh. Kajian pendidikan selama puluhan tahun menunjukkan hasil yang beragam: untuk anak usia SD, manfaat PR terhadap prestasi akademik cenderung kecil, sedangkan untuk remaja manfaatnya lebih terasa bila jumlahnya wajar. Yang sering menjadi masalah bukan keberadaan PR, melainkan jenis dan jumlahnya.

PR yang mengulang soal serupa berpuluh kali sering membuat anak bosan dan orang tua stres. Sebaliknya, ada tugas rumah yang justru memantik rasa ingin tahu: mengamati bulan selama seminggu, mewawancarai kakek tentang masa kecilnya, atau menghitung berapa liter air yang dipakai keluarga sehari. Tugas seperti ini tidak terasa sebagai beban, karena anak sedang menyelidiki dunianya sendiri.

Ada PR Tidak di Sekolah Alam? Jawabannya Bergantung pada Tujuannya

Banyak sekolah alam berangkat dari keyakinan bahwa jam belajar di sekolah sudah cukup panjang dan padat. Waktu di rumah diharapkan menjadi ruang bagi anak untuk beristirahat, bermain, membantu keluarga, beribadah, dan membaca untuk kesenangan. Karena itu, PR dalam bentuk lembar soal berulang biasanya tidak menjadi menu utama.

Namun bukan berarti anak sama sekali tanpa tugas. Tugas rumah di sekolah alam lebih sering berupa proyek kecil atau kegiatan yang menyambung tema di sekolah. Misalnya menanam biji di pot dan mencatat pertumbuhannya, membantu memasak lalu menuliskan resepnya, atau menyiapkan barang dagangan untuk kegiatan jual beli di sekolah. Untuk murid yang lebih besar, ada juga tugas membaca atau latihan yang dibutuhkan agar materi tertentu benar-benar dikuasai.

Pendekatan setiap sekolah bisa berbeda, sehingga sebaiknya Ayah Bunda menanyakannya langsung saat berkunjung.

Bagaimana di SABar

Di Sekolah Alam Baturraden (SABar), beberapa kegiatan sekolah secara alami mengajak anak menyiapkan sesuatu dari rumah. Menjelang Market Day yang digelar dua pekan sekali di SD, misalnya, murid bisa berdiskusi dengan keluarga tentang apa yang akan dijual, berapa modalnya, dan bagaimana menghitung untungnya. Persiapan Pitching Literasi juga membuka kesempatan anak berlatih bercerita di depan Ayah Bunda sebelum tampil di sekolah. Bagi murid kelas 3 yang mengikuti program tahfidz Juz 29, muraja'ah di rumah tentu menjadi bagian penting dari prosesnya.

Kebijakan tugas rumah di tiap kelas disampaikan sekolah kepada orang tua, dan Ayah Bunda bisa menanyakan rinciannya kepada wali kelas agar dukungan di rumah selaras dengan sekolah.

Peran Ayah Bunda di Rumah

Anak mengerjakan proyek prakarya yang menyenangkan di rumah bersama orang tua berkerudung, suasana santai dan gembira

Entah ada PR atau tidak, rumah tetap menjadi tempat belajar yang penting. Yang dibutuhkan anak bukan les tambahan setiap malam, melainkan suasana yang membuat belajar terasa wajar. Membaca buku bersama sebelum tidur, berbincang tentang kejadian hari itu, melibatkan anak berbelanja dan menghitung kembalian, semuanya adalah belajar.

Bila anak membawa tugas proyek, dampingi tanpa mengambil alih. Godaan untuk "membereskan" agar hasilnya bagus memang besar, apalagi kalau anak tampak kesulitan. Tahan dulu. Ajukan pertanyaan yang menuntun, misalnya "Menurutmu bagian mana yang paling susah?" atau "Kalau dicoba cara lain, gimana?" Karya yang sedikit berantakan tetapi dikerjakan sendiri jauh lebih berharga daripada karya rapi buatan orang tua.

Perhatikan juga ritme anak. Anak yang pulang sekolah dalam keadaan lelah setelah seharian beraktivitas di luar ruangan butuh istirahat dulu sebelum diajak melakukan hal lain. Jadwal yang longgar justru membantu anak menyimpan energi untuk esok hari.

Pertanyaan yang sering diajukan

Ada PR tidak di sekolah alam?

Banyak sekolah alam tidak menjadikan lembar soal berulang sebagai menu utama, tetapi anak tetap bisa mendapat tugas berupa proyek kecil, seperti mencatat pertumbuhan tanaman atau menyiapkan dagangan. Kebijakannya berbeda tiap sekolah.

Apakah PR bermanfaat untuk anak SD?

Kajian pendidikan menunjukkan manfaat PR terhadap prestasi akademik anak SD cenderung kecil, sedangkan bagi remaja lebih terasa bila jumlahnya wajar. Yang sering bermasalah adalah jenis dan jumlahnya.

Bagaimana mendampingi anak mengerjakan tugas proyek?

Dampingi tanpa mengambil alih. Ajukan pertanyaan yang menuntun, seperti bagian mana yang paling susah, dan terima hasil yang sedikit berantakan asalkan dikerjakan sendiri oleh anak.

Malam yang Lebih Tenang

Jadi, ada PR tidak di sekolah alam? Jawabannya bisa ada, bisa tidak, tetapi bentuknya cenderung lebih dekat dengan kehidupan nyata, dan tujuannya menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan sekadar menghabiskan waktu malam. Bayangkan malam-malam yang lebih tenang, ketika meja makan kembali menjadi tempat bercerita, bukan tempat menangis karena soal yang tak kunjung selesai.

Ayah Bunda, bagaimana suasana malam di rumah saat ini, masih penuh dengan PR atau sudah ada waktu luang untuk bercerita? Tuliskan di kolom komentar, ya. Bagikan tulisan ini kepada teman yang juga sedang memikirkan keseimbangan belajar dan istirahat anak. Bila ingin berbincang langsung tentang cara belajar di SABar, Ayah Bunda bisa berkunjung ke Sekolah Alam Baturraden, ngobrol dengan admin SPMB SABar, atau ikut Sekolah Orang Tua (SOS).

sekolah alam belajar di rumah pekerjaan rumah akademik

Kabar lainnya

← Semua kabar